Tag: kanker payudara

  • 4 Februari Hari Kanker Sedunia : 40% Kanker Disebabkan Oleh Gaya Hidup

    Hampir separuh dari kanker yang terdiagnosis setiap tahunnya di Inggris disebabkan oleh gaya hidup, seperti merokok, meminum alkohol, dan pola makan yang tidak sehat.

    Rokok menjadi penyebab terbesar, sekitar 23%, untuk kanker di kalangan pria, sementara untuk wanita angkanya mencapai 15,6% kata laporan yang disusun lembaga Penelitian Kanker Inggris.

    Pola makan yang tidak sehat, seperti jarang mengkonsumsi sayuran segar atau buah, menjadi penyebab terbesar kedua penyakit kanker di kalangan pria.

    Untuk wanita penyebab terbesar kedua adalah kelebihan berat badan.

    “Banyak yang beranggapan kanker disebabkan oleh faktor nasib atau keturunan,” kata Profesor Max Parkin, ketua tim penulis laporan yang diterbitkan Jurnal Kanker Inggris.

    “Melihat bukti-bukti yang ada, jelas bahwa 40% kanker disebabkan oleh faktor-faktor yang sebenarnya bisa kita cegah,” kata Parkin.

    Hasil gambar untuk faktor penyebab kanker

    Nasehat praktis

    Untuk pria, nasehat terbaik sepertinya adalah berhenti merokok, perbanyak sayur dan buah, dan mengurangi alkohol.

    Untuk wanita, kata para ahli, berhenti merokok dan jaga berat badan.

    Secara keseluruhan diketahui terdapat 14 faktor gaya hidup dan lingkungan -seperti tempat tinggal dan lingkungan kerja- yang menjadi penyebab kanker di Inggris, yang mencapai 134.000 kasus per tahun.

    Sekitar 100.000 kasus (34%) kanker terkait dengan merokok, pola makan, alkohol, dan kelebihan berat badan.

    Satu dari 25 kasus kanker terkait dengan pekerjaan, misalnya karena sering terpapar bahan kimia atau asbestos.

    Kaitan sejumlah faktor dengan kanker bisa dipastikan dengan jelas, misalnya antara merokok dan kanker paru-paru namun tidak demikian halnya dengan beberapa faktor lain.

    Misalnya untuk kanker payudara, karena kelebihan berat badan lebih mungkin menyebabkan kanker payudara dibandingkan faktor menyusui atau mengkonsumsi alkohol.

    Meminimalkan risiko

    Untuk kanker perut, seperlimanya disebabkan oleh makanan yang terlalu banyak mengandung garam.

    Beberapa kanker lain, seperti mulut dan tenggorokan, hampir semuanya disebabkan oleh gaya hidup.

    Tapi gaya hidup juga diketahui tidak menjadi penyebab sama sekali, misalnya untuk kanker kandung kemih.

    Bagaimanapun Dr Rachel Thompson dari Dana Penelitian Kanker Dunia mengatakan bahwa laporan memperkuat bukti kaitan antara kanker dan gaya hidup.

    Direktur Penelitian Kanker Inggris, Dr Harpal Kumar, mengatakan gaya hidup yang sehat tidak bisa menjadi jaminan penuh bahwa seseorang tidak akan terkena kanker.

    “Namun penelitian ini menggarisbawahi bahwa dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat, risiko terkena kanker bisa diminimalkan,” kata Dr Kumar.

     

     

    Sumber : www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/12/111207_kanker

  • Penderita Kanker Perempuan di Indonesia Terus Meningkat

    Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan (A2KPI) menyebutkan, jumlah penderita kanker perempuan di Indonesia terus meningkat. Perwakilan A2KPI Nurlina Subair mengatakan, insiden kanker di Indonesia setiap tahun meningkat dan tidak pernah menurun.

    Ia menyebutkan, sebanyak 348.809 kasus kanker muncul di Indonesia. “Jika digabungkan maka kanker payudara, serviks, dan ovarium mencapai sekitar 27 persen dari insiden semua jenis kanker,” katanya saat mengisi acara Seminar Hukum dan Kesehatan bertema ‘Perlindungan Hak Pasien Kanker Perempuan atas Akses Pelayanan Kesehatan Berkualitas di Era JKN’, di gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (8/11).

    Hasil gambar untuk jumlah kanker perempuan di indonesia meningkat
    Ilustrasi gambar penderita kanker

    Angka kematian akibat kanker, kata dia, bisa mencapai setengah dari jumlah pasien yang terdiagnosis. Ia menyebut, angka kematian akibat kanker di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu sekitar 207.200 pasien meninggal.

    Ia menambahkan, bagi perempuan Indonesia, beban kanker merupakan suatu hal yang tidak mudah. Apalagi, seiring dengan peran perempuan sebagai ibu, istri, maupun anak yang menopang keluarga, para perempuan juga harus dihadapkan dengan permasalahan tidak terpenuhinya hak mereka sebagai pasien.

    Ia mengutip data dari Globocan 2018 yang menyebutkan angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosis penyakit mematikan itu adalah yang paling tinggi, sekitar 42,1 persen dan menjadi penyebab kematian kedua secara global. Tingginya angka pasien kanker perempuan tersebut menjadi alasan utama untuk terus menyerukan pentingnya memperkuat kebijakan serta sistem kesehatan di Indonesia.

    “Kondisi ini juga menjadi titik permasalahan seputar hak asasi akan akses terhadap pengendalian kanker perempuan di Indonesia,” katanya.

    Padahal, dia menambahkan, perempuan harus tetap menjalankan perannya dan di satu sisi harus bergulat dengan dengan penyakitnya. Tetapi, minimnya akses terhadap informasi yang benar tersebut menjadi masalah sendiri akses informasi yang benar tentang kanker yang dideritanya mulai dari diagnosis, pengobatan, layanan paliatif, dan rehabilitatif.

     

     

     

    Sumber : republika

  • Wanita Harap Waspada ! Kerja Malam Hari Memicu Risiko Kanker

    Sahabat, Banyak penelitian yang menyebutkan resiko kanker pada wanita lebih besar daripada laki-laki. Pun demikian penelitian internasional baru menyatakan bekerja di malam hari dapat meningkatkan risiko seorang wanita terkena kanker payudara. Terutama pada mereka yang mengalami pra-menopause.

    Fenomena feminisme saat ini menjadikan wanita memiliki pemikiran kesetaraan gender sehingga tidak sedikit mereka yang memilih menjadi wanita karir dibandingkan harus berada dirumah sebagai ibu rumah tangga. Namun, dibalik pro kontra yang ada, penelitian tersebut menyatakan bahwasanya ada resiko yang mesti diambil oleh mereka wanita karir terlebih saat mereka “Lembur”.

    Penelitian ini kami kutip dari Republika , yang mana dilakukan oleh peneliti Kanada, Australia, Eropa. Studi baru ini melakukan survei pada lebih dari 13 ribu wnaita berusia rata-rata 55 sampai 59 dari lima negara yang berbeda (Australia, Kanada, Prancis, Jerman, dan Spanyol).

    Para peserta termasuk 6.093 wanita yang telah didiagnosisi dengan kanker payudara dan 6933 wanita tanpa kanker payudara yang bertindak sebagai pengawas. Temuan, yang diterbitkan dalam Eropean Journal of Epidemiology, menunjukkan risiko perkembangan kanker payudara meningkat dengan jumlah jam kerja per malam, serta jumlah tahun yang dihabiskan pada shift malam.

    Wanita yang bekerja setidaknya tiga jam antara tengah malam dan pukul 05.00 setiap malam memiliki risiko 12 persen lebih besar terkena kanker payudara daripada wanita yang tidak pernah bekerja di malam hari. Risiko ini meningkat menjadi 26 persen di anatara wanita pra-menopause.

    wanita bekerja malam hari

    Selain itu, tim juga menemukan wanita pra-menopause yang bekerja shift malam lebih dari 10 jam menunjukkan 36 persen peningkatan risiko kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah bekerja pada malam hari. Hal itu dengan risiko setinggi 80 persen di kalangan wanita, yang bekerja shift malam lebih dari 10 jam selama lebih dari tiga malam per pekan.

    Namun, risiko itu tampak menurun dua tahun setelah berhenti kerja shift malam. Dengan wanita yang masih bekerja malam saat penelitian menunjukkan risiko kanker payudara 26 persen lebih tinggi daripada mereka yang berhenti bekerja di malam hari setidaknya dua tahun sebelumnya.

    Meskipun analisis dari lima survei tidak secara khusus mempertimbangkan jenis pekerjaan malam, survei Kanada tidak membandingkan perempuan yang bekerja di sektor kesehatan dan sektor lainnya.

    “Risko yang terkait dengan kanker payudara dan kerja malam bervariasi di kalangan responden, terlepas dari jenis pekerjaannya,” kata penulis studi dari Universite de Montreal Anne Grundy, seperti yang dikutip dari Malay Mail, Selasa (18/9).

    “Meskipun kami tidak sepenuhnya yakin, kami percaya risiko ini dapat dikaitkan dengan hipotesis kerja malam mengganggu ritme sirkadian dan menghambat sekresi melatonin yang dapat melindungi terhadap kanker,” ujarnya lagi.

    Para peneliti menambahkan penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk menyelidiki perbedaan risiko antara wanita saat pra dan pasca menopause.

    Lalu bagaimana dengan kaum Milenials yang cenderung masih jauh dari masa menopause? Apakah memiliki resiko yang sama atau mungkin malah terbebas? Memang belum ada penelitan yang kami temukan secara gamblang mengatakan hal tersebut.

    Berdasarkan sumber Hellosehat yang mengutip kembali dari  Science Daily, kepala peneliti Xuelei Ma, Ph.D dan rekannya kemudian menemukan hubungan antara kerja shift malam jangka panjang dan peningkatan risiko 11 jenis kanker. Secara umum, tim peneliti menemukan bahwa wanita pekerja shift malam mengalami peningkatan risiko kanker sebesar 19 persen.

    Ketika dipecah menjadi jenis-jenis kanker yang lebih spesifik, peneliti melaporkan bahwa efek kerja shift malam meningkatkan risiko wanita terhadap:

    • Kanker kulit sebesar 41%
    • Kanker payudara sebesar 32% — khususnya hanya di Amerika Utara dan Eropa
    • Kanker gastrointestinal (lambung, usus, perut) sebesar 18%

    Dari semua jenis pekerjaan yang diteliti, perawat shift malam mengalami peningkatan risiko kanker paling tinggi. Perawat yang bekerja shift malam mengalami peningkatan risiko kanker payudara sebesar 58%, kanker gastrointestinal sebesar 32%, dan kanker paru-paru sebesar 28% dibandingkan dengan perawat yang bekerja di siang hari. Risiko kanker payudara terus meningkat 3,3% setiap lima tahun jika terus bekerja di waktu malam.

    Bekerja malam hari, memang membuat pola hidup dan jam biologis tubuh berantakan, belum lagi dengan adanya beban pikiran, stress, membuat pola makan dan pola tidur seorang yang bekerja hingga malam hari tidak teratur.

    Maka bagaimana mencegahnya?

    Pertama, perbaiki pola makan dan pola tidur anda, sehingga tubuh terbiasa untuk bekerja sesuai porsinya. Kedua, Manajemen waktu, apabila memang secara terpaksa anda diharuskan bekerja dan pekerjaan menumpuk, luangkanlah untuk bangun lebih awal dan mengerjakan hal tersebut dibandingkan harus mengerjakannya hingga larut. Ketiga, belajarlah disiplin dalam beribadah, karenanya meski sedikit, beribadah membuat pikiran tenang dan tenaga anda akan lebih efektif ketika bekerja.

    Semoga Bermanfaat ya Sahabat !

    Wallahu’alam..

     

    Sumber Rujukan :

    • https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/18/09/19/pfb151349-kerja-malam-hari-tingkatkan-risiko-kanker-pada-wanita
    • https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/kerja-shift-malam-dan-risiko-kanker/