Tag: pikiran

  • Bagaimana Mengelola Stres?

    Tak ada cara menihilkan stres. Tapi, tersedia rumus untuk mengelolanya.

    Menjalani hidup, selalu mempertemukan kita dengan berbagai persoalan. Ada yang kecil, sedang atau besar. Ada yang bisa dengan segera kita selesaikan, ada yang butuh waktu lebih panjang, ada pula persoalan yang terasa berlarut-larut dan memberi tekanan yang intensitasnya bisa saja berbeda-beda. Daya tahan seseorang menghadapi stres atau tekanan memang tak sama. Persoalan yang dirasa ringan oleh seseorang, bisa jadi merupakan persoalan berat bagi orang yang lain.

    Ada kalanya, kita kehabisan akal menghadapi stres dan satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah hanya menerima dan mengamatinya. Selama sumber stres masih ada, peluangnya untuk hadir dan menekan kita pasti selalu ada. Tagihan-tagihan yang terus datang, pekerjaan menumpuk yang tak bisa diselesaikan dalam 24 jam, orang-orang dekat yang terus menuntut perhatian, bahkan kemacetan yang harus kita hadapi saban hari pun bisa demikian menekan dan membuat kita kelelahan lahir batin. Selalu ada tuntutan yang menimbulkan tekanan yang sulit kita hindari. Sialnya, sumber tekanan ini seringkali berada di luar kekuasaan kita.

    Meski demikian, ada pula bagian dari stres yang berada dalam kekuasaan kita, yakni cara menghadapi dan bereaksi terhadapnya. Dalam pengelolaan tekanan, kita tak bekerja dengan segala yang berada di luar kekuasaan kita, melainkan terus berfokus pada kadar kesadaran yang bisa membantu kita mengatur reaksi yang perlu kita berikan untuk meresponnya. Namun pengelolaan stres memang bukan semacam obat sapu jagat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Setiap orang membutuhkan banyak uji coba dan pengalaman untuk menemukan “racikan” yang paling cocok untuk dirinya.

    Pengelolaan stres, sejatinya berpusar pada soal pikiran, perasaan, emosi, gaya hidup dan bagaimana kita berdamai dengan berbagai persoalan. Betapa pun penuh tekanan tampaknya hidup, kita selalu bisa melakukan beberapa langkah ini untuk bisa melepaskan tekanan dan ketegangan, serta tetap memiliki kontrol atas reaksi yang kita berikan.

    Identifikasi Sumber Stres

    Pengelolaan stres dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal yang menjadi sumber tekanan yang kita rasakan. Meski kedengarannya mudah, mengidentifikasi dan mengakui hal-hal tersebut sebagai sumber stres kita, nyatanya bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri untuk bisa melakukan hal ini. Seringkali kita mengira dan mengidentifikasi sumber-sumber tekanan dari kejadian-kejadian kasat mata seperti pindah kerja, bercerai, pindah rumah dan hal-hal lain. Padahal ada hal-hal tak kasat mata yang jauh lebih kompleks yang berdiam dalam hati dan menjadi penyebab stres kita yang sama sekali tak teridentifikasi atau tak berani kita akui sebagai penyebab stres yang sesungguhnya. Padahal, mengamati bagaimana cara kita berpikir, merasa dan bersikap, sama mudahnya dengan menunjuk persoalan-persoalan kasat mata yang kita kira merupakan sumber tekanan. Bukan tak mungkin, hal-hal kasat mata itu sekadar akibat dari sumber tak kasat mata yang selalu diingkari sebagai penyebab stres yang kita hadapi.

    Terapkan Rumus “HUST”

    Rumus ini terdiri dari empat kata Hindari, Ubah, Sesuaikan, Terima. Menerapkannya dengan seksama, akan bisa meningkatkan kelenturan kita menghadapi tekanan.

    Berusahalah menghindari tekanan-tekanan tak penting yang dapat dielakkan. Tentu saja bukan menghindari semua masalah, karena sebagian masalah yang menimbulkan tekanan memang perlu diselesaikan. Tapi seiring pengalaman, kita akan bisa mengasah kepekaan untuk menghindar dari hal-hal yang bisa menimbulkan tekanan. Seperti berlatih mengatakan tidak untuk hal-hal yang tak nyaman kita lakukan tanpa harus merasa bersalah, menghindari orang-orang yang selalu membuat kita pusing, tak berhubungan dengan hal-hal yang membuat kita merasa tegang, seperti menonton berita menjelang tidur, juga menyaring jadwal harian hingga kita dapat mencoret janji tak terlalu penting.

    Ubah situasi bilamana kita tak bisa menghindarinya. Acapkali, mengubah ini berkaitan erat dengan cara kita berkomunikasi dan mengatur jadwal harian. Misalnya, berlatih mengekspresikan perasaan ketimbang menyimpannya dalam hati. Berusaha menjadi lebih lentur dan berkenan melakukan kompromi untuk hal-hal yang sebelumnya sama sekali tak bisa ditawar. Juga, berusahalah menyediakan keseimbangan bagi diri sendiri. Sediakan waktu bagi diri kita untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan di antara berbagai kesibukan, bisa membantu kita menyeimbangkan hidup.

    Sesuaikan diri dengan sumber tekanan apabila kita tak punya kuasa untuk mengubahnya. Percayalah, kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki tingkat kelenturan amat tinggi terhadap suasana yang penuh tekanan. Mengubah harapan dan tindakan kita terhadap sumber tekanan, akan sangat bisa mengembalikan kemampuan kita mengontrolnya. Bisa saja dengan membingkai ulang pandangan kita terhadap sebuah masalah, atau melihat dalam perspektif yang lebih luas sehingga persoalan yang kita hadapi terlihat hanya sebagai noktah kecil dari keseluruhan pengalaman yang kita lewati. Bisa juga, misalnya, ada baiknya kita menurunkan standar agar harapan dan kenyataan bisa bertemu di satu titik yang terjangkau oleh semua pihak hingga kita tak perlu kecewa terus menerus, dan mencoba berlatih untuk lebih banyak bersyukur.

    Terima hal-hal yang tak bisa kita ubah, adalah cara jitu untuk bisa berdamai dengan sumber-sumber tekanan yang berada di luar kekuasaan kita seperti kematian orang yang kita cinta, kondisi perekonomian yang memburuk, ketidakberuntungan yang tak terhindari atau hal-hal terkait takdir lainnya. Menerima barangkali –atau malah tentu saja- bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi seiring berjalannya waktu, kita akan makin terbiasa dan mahir melakukannya.

     

    source : greatmind.id

  • Stress dan Prediksi Bahaya. Apa Hubungannya?

    Sahabat, Stress atau Tekanan dalam bahasa Indonesia seringkali dialami oleh hampir semua orang. Parahnya, bagi sebagian orang kondisi ini bisa sangat membahayakan kesehatannya, baik fisik maupun mental. Bahkan stres dapat mengurangi kemampuan kita untuk merasakan sebuah bahaya atau ancaman baru.

    Mengutip sebuah artikel dari detik health tentang stress dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam menghadapi ancaman Bahaya, mereka mengutip lansiran dari Indian Express, erdapat studi yang bertentangan dengan pandangan konvensional bahwa stres meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi sumber ancaman. Peneliti menyebut bahwa tekanan dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk memprediksi bahaya baru yang akan dihadapi.

    “Studi kami menunjukkan bahwa ketika kita berada dalam tekanan, kita kurang memperhatikan perubahan lingkungan, yang berpotensi membuat kita berisiko tinggi untuk mengabaikan sumber ancaman baru,” kata Candace Raio, seorang peneliti postdoctoral di New York University.

    Para peneliti melakukan serangkaian percobaan untuk menguji kemampuan belajar secara fleksibel untuk memperbarui tanggapan ancaman dalam kondisi stres. Disini, para peserta diminta melihat gambar di layar komputer. Muncul beberapa gambar yang digabungkan dengan sengatan listrik ringan dan berfungsi sebagai isyarat ancaman.

    Sehari kemudian, setengah dari peserta menjalani prosedur laboratorium yang dirancang untuk menginduksi stres. ‘Kelompok stres’ ini diminta menempatkan lengan mereka di bak mandi air es selama beberapa menit, yang meningkatkan dua hormon stres yaitu alfa-amilase dan kortisol.

    Pada hari kedua percobaan yang dipublikasikan di jurnal Prosiding National Academy of Sciences ini menunjukkan bahwa ‘kelompok stres’ cenderung tidak mengubah respons mereka terhadap ancaman daripada kelompok kontrol. Artinya peserta yang stres menunjukkan respons fisiologis yang kurang terhadap isyarat ancaman baru.

    Demikian betapa Stress dapat memengaruhi kehidupan kita saat ini. Adanya teknologi yang dibuat sebagai solusi dari permasalahan hidup terkadang malah menjembatani dan menjadi sumber adanya tekanan dari permasalahan hidup seseorang. Maka apa yang seharusnya dilakukan oleh kita sebagai makhluk sosial yang rentan terkena stress?

    Sahabat, cobalah untuk berbagi cerita kepada orang yang Anda percaya dan kasihi, hilangkan perasaan iri dengki dan perasaan menjadi manusia paling salah dan paling buruk di dunia. Perlu diingat, Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya maka janganlah bersedih, setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Teruslah berpikir positif, berdoa, dan berusaha. Dekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa maka setiap beban masalah akan terasa ringan saat kita percaya kepada-Nya.

     

    Salam Semangat 🙂

    Wallahu’alam Bish Shawab…

     

    Rujukan : Detik Health