Tag: #sedekah

  • Bukan Sedekah Biasa

    Dalam setiap pertolongan terhadap hati yang basah (binatang hidup) ada pahalanya.

    Pada zaman Nabi SAW, ada seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Shakhr (wafat 59 H). Beliau termasuk salah seorang ahlush-shuffah(orang- orang miskin muhajirin yang tinggal di emperan Masjid Nabawi). Hidup dalam ketiadaan menjadi kesempatan baginya untuk melayani dan mengikuti dakwah Nabi. Kedekatan dengan Rasulullah SAW pula yang telah menjadikannya periwayat ribuan hadis yang dikagumi.

    Suatu hari, ia menemukan seekor anak kucing yang ditinggal induknya. Melihat kucing itu, muncul rasa iba dan membawanya pulang ke rumah. Lalu, kucing itu di rawat dengan baik, diberi makan, dimandikan, digendong, dan disiapkan tempat tidur. Kebaikannya telah membuat kucing itu sayang dan setia kepadanya. Hingga ke mana pun ia pergi, kucing itu selalu menyertai. Kecintaan pada kucing itulah yang membuat Nabi SAW dan para sahabat menggelarinya Abu Hurairah (Bapak Kucing).

    Kisah inspiratif di atas mengingatkan saya akan seorang ibu pembantu rumah tangga di dekat rumah. Sungguh mengharukan, ketika pagi hari ia membawa kantong berisi nasi dicampuri ikan asin. Penganan itu ia beli dari hasil jerih payahnya yang tak seberapa untuk memberi makan kucing liar yang tak bertuan. Seketika ia datang, belasan ekor kucing pun sudah menunggu dan menyambutnya dengan berbagai ekspresi. Ada yang meloncat girang karena lapar dan ada pula yang mengeluskan kepalanya sambil mengeong seakan berucap terima kasih.

    Subhanallah, betapa mulianya si “Ibu Kucing” itu.Walau hidup kekurangan, ia tetap sedekah kepada binatang yang bukan piaraannya. Bukan hanya sekali dan bukan pula sisa-sisa, melainkan hampir setiap hari dan dari makanannya sendiri. Sedekahnya telah memberi efek yang luar biasa terhadap perilaku ku cing-kucing itu.Rasa kasih sayang itu membuat ia pan tas dikasihi oleh penghuni langit (HR Thabrani). Memang, kita tidak hanya dituntut menyayangi manusia, tetapi juga mahkluk lain yang hidup dan tumbuh di muka bumi. Sebab, semua itu adalah makhluk Allah SWT juga (QS 68:38).

    Dahulu, juga ada seorang lelaki yang sedang kehausan di gurun yang tandus. Setelah menemukan air sumur, ia pun minum sepuasnya. Lalu, begitu naik ke permukaan, ada seekor anjing yang menjulur lidahnya karena kehausan. Ia pun turun kembali ke dasar sumur yang dalam. Sepatunya diisi air dan dibawa dengan mulutnya untuk minuman anjing itu. Allah SWT pun berterima kasih dan mengampuni dosanya. Mendengar cerita itu, para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita berpahala jika berbuat baik kepada binatang?” Nabi SAW menjawab, Dalam setiap pertolongan terhadap hati yang basah (binatang hidup) ada pahalanya. (HR Bukhari).

    Sejatinya, dari kisah di atas memberi banyak pelajaran untuk menguatkan pendidikan karakter anak-anak kita. Pertama, senantiasa menjaga adab kepada setiap makhluk ciptaan Allah SWT, baik terhadap binatang, lingkungan alam, maupun manusia. Kedua, jika senang memelihara binatang atau pepohonan, jagalah sebaik mungkin. Jika tak mampu, lepaskan saja agar ia bisa mencari penghidupan sendiri.

    Bukankah seorang perempuan disiksa karena kucing yang dikurungnya mati kelaparan dan kelak ia akan masuk neraka? (HR Bukhari). Ketiga, sedekah terbaik bukan karena kuantitas yang banyak, melainkan ketulusan dan konsistensinya walaupun sedikit (mudawamah). Sedekah Ibu Kucing yang tulus itu bisa mengubah perilaku kucing liar menjadi penurut dan setia. Sebab, sedekahnya bukan sedekah biasa. Allahu a’lam bish-shawab.

     Sumber : Republika.co.id
  • Kita Tidak Miskin

    Mari tetaplah berbuat baik sekecil apa pun bentuk kebaikan itu.
    OLEH USTAZ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

    Pakaiannya lusuh. Tidak ada senyum. Mendung kefakiran menggelayut kuat di wajahnya. Kaki menyaruk gontai. Dengan sedih, ia pun bertanya di majelis seorang ahli hikmah.”Mengapa aku seperti ini; menjadi orang yang sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup?”

    Sang Guru Bijak pun menjawab, “Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi pada orang lain.” “Bagaimana aku memberi, wahai Tuan Guru, sementara tidak ada sesuatu pun yang bisa aku beri?” jawab si miskin.

    Dengan senyum mendamaikan, sang ahli hikmah ini menuturkan nasihatnya, “Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau beri pada orang lain.”

    “Apakah itu, wahai Tuan Guru?”

    “Pertama, dengan lisan yang engkau punya, engkau bisa berikan senyuman dan pujian. Kedua, dengan mata yang engkau punya, engkau bisa memberikan tatapan yang lembut penuh rahmat. Ketiga, dengan telinga yang engkau punya, engkau bisa memberikan perhatian untuk mendengar keluhan orang-orang di sekitarmu.”

    “Berikutnya, keempat, dengan wajah yang engkau punya, engkau bisa memberikan keramahan dan kesantunan yang bersahabat. Dan kelima, dengan tangan yang engkau punya, engkau bisa memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan.”

    “Jadi,” lanjut sang Guru Bijak, “sesungguhnya engkau bukanlah miskin, hanya saja tidak pernah mau memberi pada orang lain. Itulah yang menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberikan apa pun pada dirimu.”

    “Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi dan berbagi pada orang lain. Pulanglah dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih engkau punya agar orang lain juga mau berbagi denganmu,” ujar sang Guru.

    Ikhwatal iman, memberi tidak ditentukan oleh seberapa besar atau kecil, tetapi berdasarkan kebutuhan. Ada yang butuh didengarkan. Ada yang butuh dikuatkan. Ada yang butuh diperhatikan. Ada yang butuh disemangati. Ada yang butuh diberi pengharapan.

    Karena itu, selalu lakukanlah yang terbaik. May yazra’yahshud, apa yang kita tanam sekarang akan kita ketam pada kemudian hari.

    Ketika kita menanam padi, mungkin rumput ikut tumbuh.Namun, ketika kita menanam rumput, tidak mungkin padi ikut tumbuh. Jadi, saat kita melakukan kebaikan, mungkin hal buruk akan ikut mengiringi. Namun, ketika kita melakukan keburukan, tidak akan mungkin muncul kebaikan.

    Mari tetaplah berbuat baik sekecil apa pun bentuk kebaikan itu. Meski yang kita bisa sekedar doa, menyungging senyum, dan menyapa ringan penuh sopan dan santun.Wallahu A’lam.

     Sumber : Republika.com