Tag: pencegahan virus corona

  • Pesan Makanan Saat Coronavirus, Bagaimana agar Aman?

    Berada di rumah adalah pilihan yang tepat saat kondisi pandemi Coronavirus (COVID-19). Urusan lainnya tinggal diselesaikan secara daring; salah satunya dalam memesan makanan. Menggunakan jasa order makanan menjadi pilihan yang mudah. Hal tersebut bisa menghindari kita dari keramaian selama social distancing. Namun, bagaimana agar pesan makanan tetap aman saat wabah Coronavirus?

    Amankah pesan makanan saat pandemi Coronavirus?

    Pada saat wabah Coronavirus yang membutuhkan kewaspadaan tinggi seperti sekarang sangatlah wajar jika kita memiliki pertanyaan terkait banyak hal. Salah satunya perihal jasa pesan antar makanan yang kita gunakan. Apakah makanan yang kita pesan akan terkontaminasi Coronavirus? Apakah COVID-19 ini bisa menyebar melalui makanan atau wadah pesan antarnya?

    Kabar baiknya, Coronavirus tidak menular melalui makanan. Hal tersebut ditegaskan oleh kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) Ian Williams seperti yang dilansir dari CNN.

    “Sejauh ini tidak ada bukti. COVID-19 menular dari orang-ke-orang melalui air liur. Hingga saat ini, tidak ada bukti yang benar-benar menunjukkan (Coronavirus) bisa menular melalui makanan atau layanan pesan antar makanan,” ujar Ian.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) juga menegaskan bahwa COVID-19 tidak ditularkan melalui makanan.

    “Saat ini tidak ada bukti makanan atau kemasan makanan bisa menyebarkan SARS-CoV-2. Tidak seperti hepatitis A yang sering membuat orang sakit melalui makanan yang terkontaminasi. COVID-19 menular melalui air liur, remah-remah makanan tidak dikenal sebagai rute penularan virus ini,” tulis FDA dalam situs webnya.

    Sekalipun Anda memakan makanan dengan virus, tidak ada virus yang melekat di jalur pencernaan, sehingga menelan virus tidak akan menyebabkan penularan penyakit. Dengan kata lain, sistem pencernaan akan mencerna dan membuangnya.

    Walaupun COVID-19 tidak menular melalui makanan kemasan pesan antar, FDA mengingatkan untuk mengutamakan kebersihan. Imbauan ini ditujukan kepada semua orang yang berperan dalam pengolahan hingga pengantaran makanan.

    Termasuk membersihkan permukaan benda-benda dan mencuci tangan secara berkala. Hal ini tentu saja untuk menurunkan potensi risiko seminim mungkin.

    “Selalu ingat pentingnya mengikuti empat langkah utama keamanan makanan—bersih, terpisah, matang, atau dibekukan—untuk mencegah penularan penyakit melalui keracunan makanan,” tulis FDA dalam situs webnya.

    Waspadai potensi penularan lain

    Ternyata bukan dari makanan saja. Para ahli mengatakan ada potensi penularan dari pembungkus atau wadah makanannya yang perlu diwaspadai.

    Ada risiko penularan dari Coronavirus yang menempel di kemasan saat pesan makanan. Misalnya jika petugas yang menyiapkan telah terinfeksi COVID-19 lalu air liurnya mengenai bungkus makanan maka virusnya bisa tetap hidup di kemasan tersebut dan bisa berpindah ke tangan pemesan.

    Tapi jangan khawatir risiko tersebut sangat kecil dan bisa dicegah. Intinya para ahli mengatakan sangat rendah potensi penularan COVID-19 dalam paket atau kemasan pesan antar makanan.

    “Saya ingin menjelaskan bahwa makanan atau paket bisa membawa virus, tetapi risiko penularannya sangat rendah,” kata Benjamin Chapman, seorang profesor spesialis keamanan makanan Universitas North Carolina. “Sungguh, risikonya sangat rendah.”

    “Walaupun mungkin bahwa virus menempel (di kemasan makanan pesan antar) kami tidak memiliki indikasi bahwa ini adalah faktor risiko penularan COVID-19 atau penyakit pernapasan lainnya,” kata Chapman. “Bahkan dengan jutaan kasus influenza setiap tahun, kemasan bukanlah sesuatu yang kita persoalkan,” jelasnya.

    Walaupun potensinya sangat kecil, bukan berarti pesan makanan saat Coronavirus tidak berisiko sama sekali. Karena itu ahli medis selalu mengingatkan untuk mencuci tangan dengan sabun karena sabun bisa membunuh virus yang menempel di tangan dan jangan menyentuh wajah.

    “Jika khawatir, untuk itu selalu mencuci tangan setelah menerima apa pun yang mungkin terkontaminasi,” kata Don Schaffner, seorang ahli ilmu pangan spesialisasi dalam risiko mikroba, cuci tangan, dan kontaminasi silang.

    Mencegah penyebaran Coronavirus saat order makanan

    Dalam kondisi pandemi seperti ini, sekecil apa pun risiko tersebut masih bisa ditangkal dengan melakukan pencegahan. Para ahli merekomendasikan beberapa cara pencegahan dalam memperkecil potensi penularan COVID-19 dari jasa pesan antar makanan.

    Saat mengambil paket pesan makanan dari jasa pesan antar, mintalah untuk meletakkan paket makanannya di teras rumah. Jangan lupa untuk siapkan uang pas saat membayar pesanan atau gunakan transaksi nontunai. Cara ini untuk menghindari pengantar dan pemesan berkontak langsung.

    Menghindari kontak langsung dengan pegawai pesan antar makanan bukan hanya melindungi pemesan, tapi juga melindungi pengirim jasa pesan antar makanan tersebut.

    “Jadi tidak perlu berkontak langsung. Cara ini mungkin terdengar ekstrem, tapi dengan cara ini kita dapat meminimalisir risiko,” Dr. Stephen Morse, ahli epidemiologi, memberi saran.

    Setelah itu keluarkan makanan dari kemasannya dan membuang kemasannya dengan benar. Lebih baik menggunakan alat makan milik sendiri yang kita sudah jaga kebersihannya.

    Kemudian setelah membuang kemasan, segeralah mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer yang mengandung alkohol. Dengan begitu, kita bisa mencegah penularan Coronavirus saat pesan makanan.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Bosan Saat Social Distancing dan Karantina di Rumah? Coba 6 Kegiatan Ini, Yuk!

    Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 210.000 kasus secara global dan menelan sekitar 8.900 korban jiwa. Di Indonesia, kasusnya sudah meningkat hingga angka 500 dan pasien yang meninggal mencapai 48 orang. Maka itu, pemerintah Indonesia mengimbau warganya untuk tetap berada di rumah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang mulai merasa jenuh dan mencari tahu kegiatan apa saja untuk mengatasi bosan saat karantina di rumah.

    Ide kegiatan seru mengatasi bosan saat karantina di rumah

    Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, apa pentingnya berdiam diri di rumah padahal tidak mengalami gejala yang berkaitan dengan COVID-19.
    Begini, tingkat penularan dan penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19, yaitu SARS-CoV-2 cukup tinggi. Para ahli pun berpendapat bahwa virus ini dapat bertahan hidup di permukaan setidaknya selama tiga hari jika tidak dibersihkan dengan desinfektan.

    Akibatnya, risiko tidak sengaja memegang benda yang terpercik air ludah pasien yang terinfeksi pun cukup tinggi. Maka itu, pemerintah di beberapa negara, termasuk Indonesia, mengimbau warganya untuk tetap berada di rumah.
    Walaupun baik untuk mengurangi penyebaran virus, tentu saja karantina di rumah akan menimbulkan rasa jenuh. Bahkan, menurut American Psychological Association, mengurangi aktivitas sehari-hari dan terus berada di rumah dapat menimbulkan stres, cemas, dan frustasi.
    Berbagai hal dilakukan untuk mengatasi kejenuhan tersebut, tetapi keinginan untuk bertemu dengan teman atau pacar, berada di luar, atau sekadar jalan-jalan tidak dapat dibendung.
    Lantas, kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah?

    1. Menghubungi teman saat karantina

    Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah adalah rutin menghubungi teman. Entah itu lewat video call atau bertukar pesan dapat dilakukan setidaknya untuk mengetahui kabar mereka.

    Interaksi langsung Anda dengan yang lain mungkin akan jauh berkurang, tetapi para psikolog menyarankan untuk menggunakan teknologi sekarang untuk mendapatkan dukungan sosial.

    Apabila Anda merasa sedih, bosan, cemas, dan frustrasi, cobalah untuk mengobrol dengan orang yang dipercaya tentang apa yang dirasakan saat ini. Anda pun dapat mencoba menggapai teman dengan situasi yang sama.

    Dengan begitu, mungkin Anda dapat mengatasi rasa bosan saat harus karantina di rumah lewat obrolan seru seputar kehidupan masing-masing yang mungkin tidak terkait dengan COVID-19.

    2. Olahraga di rumah

    Selain berkomunikasi dengan orang lain, olahraga di rumah juga dapat menjadi ide kegiatan seru untuk mengatasi bosan saat karantina. Mengapa di rumah? Pasalnya, gym atau tempat fitness langganan Anda ditutup. Agar tubuh tetap sehat dan menjadi aktivitas untuk menghabiskan waktu, olahraga di rumah dapat menjadi pilihan. Ada banyak macam olahraga yang bisa dilakukan di rumah tanpa perlu keluar ruangan, seperti yoga, lari di treadmill, atau olahraga aerobik lainnya.

    Namun, jangan lupa untuk memperhatikan kebersihan alat olahraga dan kondisi ruangan, ya. Dengan aktivitas fisik Anda dapat meningkatkan hormon endorfin dan membantu menangkal respons stres yang bisa menurunkan fungsi sistem imun. Apabila Anda merasa kesulitan untuk mulai berolahraga, silakan cari tutorialnya di YouTube atau platform lainnya yang menyediakan instruksi secara daring.

    3. Melanjutkan hobi yang tertunda

    Melanjutkan hobi yang tertunda pun dapat menjadi pilihan kegiatan yang cukup menarik untuk mengatasi rasa bosan saat harus karantina di rumah. Kata hobi terkadang terdengar remeh dan mudah diabaikan, tetapi hobi bisa menjadi salah satu cara untuk tetap terhubung dengan ambisi dan identitas diri sendiri.

    Hal ini dikarenakan menjalani hobi membutuhkan keterampilan baru, sehingga dapat mempertajam pikiran seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan, hobi juga baik untuk kesehatan fisik dan mental Anda. Berita tentang COVID-19 dan anjuran untuk tidak bepergian tentu dapat menimbulkan stres dan jenuh, sehingga hobi bisa menjadi pelarian Anda agar tetap ‘waras’ di tengah pandemi global ini.

    Sebagai contoh, dulu mungkin Anda tidak dapat menemukan waktu yang tepat untuk melanjutkan bacaan yang tertunda. Cobalah untuk membuka kembali buku atau novel yang hanya sempat dibaca setengah. Bahkan, menulis puisi atau cerita tentang apa yang Anda dan orang sekitar alami bisa membantu mengembangkan keterampilan menulis. Atau, Anda bisa mencari kursus-kursus online tentang hal yang diminati, seperti coding, digital marketing, hingga merajut.

    4. Menonton film atau serial tv

    Apa pun yang menurut Anda tertunda karena sibuk dengan pekerjaan atau tugas sekolah ternyata bisa dilanjutkan selama wabah COVID-19 berlangsung. Ide kegiatan lainnya untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah adalah menonton film atau serial tv.

    Anda tidak perlu pergi ke bioskop untuk menonton, mengingat di sana dapat menjadi tempat yang cukup berisiko terjadnya penularan virus. Cukup dengan mencari kembali kaset-kaset film lama dan mencari situs web yang menyediakan layanan streaming film gratis atau berbayar bisa menjadi cara agar Anda tidak jenuh di rumah.

    Apabila Anda bingung, tanyakan kepada teman Anda tentang rekomendasi tontonan seru. Namun, maraton film terlalu lama dan sering pun tidak baik untuk kesehatan. Maka itu, selingi aktivitas yang satu ini dengan kegiatan lainnya yang tidak membuat Anda terlalu lama menatap layar televisi atau laptop.

    5. Keluar rumah sebentar saat karantina

    Pada saat social distancing dan karantina di rumah berlangsung, mungkin ada imbauan untuk tetap berada di rumah dan jarang bepergian, kecuali untuk urusan mendesak.

    Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk menikmati alam sebentar sebagai salah satu kegiatan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah.

    Tidak perlu jauh-jauh hingga mengunjungi rumah tetangga di ujung gang. Anda bisa berjalan-jalan di luar di bawah matahari dengan jarak yang cukup lebar antara satu dengan manusia lainnya.

    Sesekali meregangkan tubuh di lapangan pun tidak apa sambil mendapatkan asupan vitamin D dari sinar matahari. Setelah 10-20 menit dan terasa cukup berada di sekitar hijaunya pepohonan dan rumput, saatnya untuk kembali di rumah dan melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikan.

    6. Memasak

    Siapa yang tak senang makanan lezat, terlebih lagi jika Anda sendiri yang membuatnya? Memasak saat karantina di rumah ternyata bisa menjadi ide kegiatan seru untuk mengatasi rasa bosan. Selain dapat mengenyangkan perut, Anda pun tidak perlu keluar rumah untuk membeli makanan yang dapat meningkatkan risiko penularan semakin tinggi.

    Bahkan, dengan masak di rumah sendiri, Anda bisa mengontrol bahan makanan apa saja yang sehat untuk dikonsumsi bersama dengan anggota keluarga. Anda bisa mulai dengan membuat daftar masakan apa saja yang dapat dibuat selama satu minggu dengan bahan makanan yang ada di rumah. Resep sederhana pun tidak masalah, asalkan nutrisi dan vitamin harian tubuh tetap terpenuhi.

    Kegiatan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah sebenarnya dapat Anda diskusikan dengan anggota keluarga lainnya di rumah. Selain itu, usahakan untuk tetap menjalani aktivitas harian seperti biasa agar tidak merasa bosan atau jenuh.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Ibuprofen Bisa Perburuk Efek COVID-19, WHO Tak Sarankan Penggunaannya

    WHO mengumumkan untuk menghindari penggunaan ibuprofen untuk penanganan gejala pada pasien infeksi SARS-CoV-2. Hal ini dilakukan setelah Prancis memberikan memperingatkan bahwa obat anti-inflamasi seperti ibuprofen bisa memperburuk efek COVID-19.

    Terkait imbauan ini, juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan bahwa para pakar kesehatan PBB sedang menyelidiki hal ini untuk kemudian membentuk panduan lebih lanjut.

    “Sementara (penyelidikan berjalan), kami merekomendasikan penggunaan parasetamol, dan jangan menggunakan ibuprofen sebagai pilihan pengobatan mandiri. Itu penting,” katanya.

    Hanya saja, Lindmeier menambahkan jika ibuprofen telah diresepkan oleh para profesional kesehatan, maka itu diserahkan pada keputusan dokternya.

    Parasetamol dan ibuprofen dapat menurunkan suhu dan membantu gejala seperti flu. Tetapi kenapa ibuprofen dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID) tidak cocok untuk penanganan gejala pada pasien positif COVID-19?

    Peringatan bahwa ibuprofen bisa memperburuk efek COVID-19

    Sebelum peringatan WHO, Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran baru-baru ini memerintahkan tenaga kesehatannya untuk menghindari penggunaan ibuprofen untuk menangani pasien COVID-19.

    Veran memperingatkan penggunaan ibuprofen dan obat anti-inflamasi serupa bisa menjadi faktor yang memberatkan pada pasien yang terinfeksi COVID-19. Menurutnya obat anti-inflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk gejala penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.

    “Dalam kasus demam, minum parasetamol,” kata Veran dalam cuitan di akun Twitter-nya. Veran menekankan bahwa pasien yang sudah dirawat dengan obat anti-inflamasi harus meminta nasihat dari dokter mereka.

    Peringatan Veran ini mengikuti sebuah studi dalam jurnal The Lancet yang berhipotesis bahwa suatu enzim yang dikuatkan oleh obat anti-inflamsi seperti ibuprofen dapat memperburuk efek dan infeksi COVID-19.

    Website The National Health Service (NHS) Inggris yang sebelumnya merekomendasikan penggunaan parasetamol dan ibuprofen mengatakan untuk sementara menggunakan parasetamol daripada ibuprofen.

    “Saat ini tidak ada bukti kuat bahwa ibuprofen dapat memperburuk coronavirus (Covid-19) …. sampai kami memiliki informasi lebih lanjut, gunakan parasetamol untuk mengobati gejala-gejala coronavirus. Kecuali jika dokter memberi tahu parasetamol tidak cocok untuk Anda,” tulisnya.

    Pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi lebih dari 210.000 orang di seluruh dunia hanya menyebabkan gejala ringan pada kebanyakan orang. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan pneumonia atau penyakit parah yang menyebabkan kegagalan pada beberapa organ.

    Efek ibuprofen yang dapat perburuk kondisi pasien COVID-19Efek ibuprofen yang dapat perburuk kondisi pasien COVID-19

    Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apakah ibuprofen memiliki efek khusus pada tingkat keparahan gejala pasien COVID-19. Baik itu pada pasien yang sehat atau pada pasien yang memiliki penyakit penyerta.

    Meski begitu Dr. Charlotte Warren-Gash dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan sebelum adanya kejelasan lebih baik menghindari penggunaan ibuprofen.

    “Terutama untuk pasien yang rentan, tampaknya masuk akal untuk menggunakan parasetamol (daripada ibuprofen) sebagai pilihan pertama,” katanya seperti dikutip dari BBC London.

    Dr. Warren-Gash mengatakan bahwa ada beberapa bukti yang menghubungkan ibuprofen dan beberapa penyakit infeksi pernapasan yang semakin parah. Walaupun belum benar-benar terbukti ibuprofen satu-satunya penyebab.

    Paul Little, seorang profesor peneliti primary care research di University of Southampton mengatakan bahwa beberapa ahli percaya sifat anti-inflamasi ibuprofen dapat melemahkan respons kekebalan tubuh.

    Prof. Parastou Donyai dari University of Reading mengatakan, “Ada banyak penelitian yang mengatakan penggunaan ibuprofen selama infeksi pernapasan dapat mengakibatkan memburuknya penyakit atau komplikasi lainnya.”

    “Tapi, saya belum melihat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ibuprofen memberikan efek tambahan dan risiko komplikasi pada pasien COVID-19 usia 25 tahun dan tanpa penyakit penyerta,” tuturnya.

    Fungsi ibuprofen

    Ibuprofen termasuk obat tanpa resep dokter yang paling banyak digunakan sama seperti parasetamol dan aspirin.

    Ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit harian untuk berbagai sakit dan nyeri, termasuk sakit punggung, kepala, gigi, dan nyeri haid. Ini juga mengobati peradangan seperti keseleo dan rasa sakit akibat radang sendi.

    Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan sirup untuk diminum ada juga dalam bentuk gel dan semprot untuk penggunaan luar. Ibuprofen yang tergolong dalam obat anti-inflamasi nonsteroid ini bekerja dengan cara yang berbeda dengan obat analgesik lainnya.

    Ketika seseorang merasakan sakit, nyeri, atau mengalami peradangan, maka tubuh akan secara alami menghasilkan zat kimiawi yang disebut dengan prostaglandin. Sementara, ibuprofen mempunyai kemampuan untuk menghentikan prostaglandin dihasilkan oleh tubuh, sehingga rasa nyeri pun hilang.

    Anda dapat membeli sebagian besar jenis ibuprofen dari apotek dan supermarket tanpa resep dokter. Ada beberapa jenis yang harus dengan resep dokter. Walau bisa dibeli tanpa resep dokter, untuk mengonsumsi ibuprofen anda perlu memperhatikan beberapa efek sampingnya.

  • Tips Jaga Imunitas untuk Cegah Penularan Corona

    Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam beberapa kesempatan terkait virus corona menyampaikan pentingnya menjaga imunitas tubuh. Dikatakannya kalau imunitas tubuh baik, maka tidak akan gampang terserang virus.

    Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Immune Deficiency Foundation, disebutkan kalau corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan dan dengan mudah ditularkan melalui kontak perorangan. Orang dengan imunitas rendah berisiko tinggi terinfeksi virus corona. Informasi selengkapnya ada di bawah ini!

    Tidak Bisa Mengandalkan Masker

    Lebih lanjut dijelaskan kalau penggunaan masker untuk mencegah penyebaran virus corona tidak bisa diandalkan mutlak. Bagaimana dengan partikel virus halus di udara yang bisa jadi keluar karena penggunaan masker yang tidak konsisten dan benar?

    Apalagi sepanjang akhir 2019 sampai 2020 ini ada beberapa kasus virus yang menyerang pernapasan dengan gejala sama seperti corona. Bagaimana mengetahui perbedaannya jika gejalanya kurang lebih sama?

    Untuk itulah, menjaga serta meningkatkan imunitas tubuh adalah saran yang paling baik dan mudah untuk diaplikasikan. Lantas, bagaimana cara menjaga imunitas tubuh? Baca pembahasannya di sini!

    1. Mengonsumsi Vitamin C

    Sejatinya sistem kekebalan yang kuat dapat mengurangi risiko terinfeksi virus dan bakteri. Sistem kekebalan tubuh dapat membantu tubuh melawan infeksi yang disebabkan oleh virus dan mempercepat proses pemulihan setelah infeksi.

    Namun, perlu diketahui kalau sistem kekebalan tubuh setiap orang berbeda karena faktor-faktor, seperti usia, kebiasaan makan, dan gaya hidup. Mengonsumsi vitamin C menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh secara signifikan.

    2. Diet Sehat

    Selain konsumsi vitamin C, menerapkan pola makan sehat sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh yang kuat. Makanan yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, termasuk sayuran hijau (paprika, brokoli, dan bayam), produk susu, buah kiwi, lemon dan jeruk, serta kacang-kacangan, seperti almond dan jambu mete, yang kaya akan vitamin dan antioksidan.

    Ada baiknya untuk situasi seperti sekarang ini hindari konsumsi makanan setengah matang atau mentah. Diet seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, serta minum cukup air, sangat penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

    3. Olahraga yang Teratur

    Olahraga dapat membantu kamu meningkatkan imunitas tubuh serta membuat tulang sehat dan kuat. Aktivitas fisik dinilai dapat membantu mengeluarkan bakteri dari paru-paru dan saluran udara. sehingga dapat mengurangi kemungkinan kamu terkena flu atau penyakit lainnya.

    Olahraga menyebabkan perubahan antibodi dan sel darah putih (WBC). WBC adalah sel sistem kekebalan tubuh yang melawan penyakit. Antibodi atau sel darah merah ini bersirkulasi lebih cepat, sehingga mereka dapat mendeteksi penyakit lebih awal daripada sebelumnya.

    Kenaikan singkat suhu tubuh saat olahraga dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Kenaikan suhu ini dapat membantu tubuh melawan infeksi dengan lebih baik. Kemudian, tidak kalah pentingnya, olahraga memperlambat pelepasan hormon stres.

    4. Hindari Keramaian dan Daerah Tinggi Risiko

    Ada baiknya untuk momen-momen waspada seperti sekarang ini, kamu lebih waspada terhadap tempat keramaian serta menghindari daerah yang disinyalir sedang mewabah penyakit. Penggunaan masker bila diperlukan serta menerapkan kebersihan tubuh menjadi rutinitas penting. Cucilah tangan dan kaki secara teratur setiap kali bepergian. Hindari kontak fisik dengan orang asing ataupun orang yang sedang sakit.

    Butuh informasi lebih lengkap mengenai penularan corona, tanyakan saja langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

     

    Sumber : halodoc.com

  • Coronavirus: Definisi, Penyebaran, Hingga Pencegahan

    Apa itu coronavirus?

    Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar dari virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Sebagian besar coronavirus adalah virus yang tidak berbahaya.

    Coronavirus adalah virus zoonosis, artinya virus ini disebarkan melalui hewan dan manusia.

    Dikutip dari WHO, investigasi menunjukkan bahwa SARS-CoV ditularkan dari musang ke manusia, sementara itu MERS-CoV ditularkan dari unta dromedaris ke manusia. Terdapat pula beberapa CoV lain yang terdapat pada hewan, tapi belum menginfeksi manusia. CoV pada manusia (HCoV) pertama kali ditemukan pada tahun 1960 di hidung pasien yang terkena flu biasa.

    Dua coronavirus pada manusia, yaitu OC43 dan 229E, adalah yang bertanggung jawab atas terjadinya sebagian flu biasa. Virus ini diberi nama berdasarkan proyeksi mirip mahkota di permukaannya. “Corona” dalam bahasa Latin berarti “halo” atau “mahkota”.

    Penyebaran coronavirus adalah sama seperti virus yang penyebab flu lainnya, seperti dari batuk dan bersin, atau dari sentuhan orang yang terinfeksi. Hampir semua orang pernah terinfeksi CoV setidaknya sekali seumur hidupnya, biasanya terjadi pada anak-anak.

    Coronavirus adalah virus yang umumnya muncul pada musim gugur dan dingin di Amerika Serikat. Namun, semua orang bisa terkena virus ini kapan pun.

    Apa saja jenis virus ini?

    Jenis-jenis virus ini beragam. Namanya dibedakan berdasarkan tingkat keparahan penyakit yang disebabkan dan seberapa jauh penyebarannya.

    Medical News Today menyebut, saat ini ada enam jenis virus ini yang menginfeksi manusia, yakni:

    • 229E
    • NL63
    • 0C43
    • HKU1

    Jenis coronavirus yang lebih langka adalah MERS-CoV, yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan SARS-CoV, yang menyebabkan Severe Acute Respiratory syndrome (SARS).

    Pada 7 Januari 2020, sebagaimana dilansir dari laman badan kesehatan dunia, WHO, pemerintah Tiongkok mengonfirmasi jenis coronavirus baru yang mewabah pada akhir Desember.

    Virus tersebut merupakan jenis baru yang tidak mirip dengan coronavirus lainnya. Virus ini sementara dinamai dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV).

    Gejala yang muncul saat terinfeksi coronavirus

    Orang yang terinfeksi virus ini akan menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Gejala yang muncul biasanya bergantung dari jenis virus dan seberapa serius infeksinya.

    Jika Anda mengalami infeksi pernapasan atas yang ringan hingga sedang, seperti flu biasa, gejala Anda terkena coronavirus adalah:

    • Hidung berair
    • Sakit kepala
    • Batuk
    • Sakit tenggorokan
    • Demam
    • Tidak enak badan secara keseluruhan

    Jenis coronavirus yang lain bisa menyebabkan gejala yang lebih serius. Infeksi ini dapat mengarah ke bronkitis dan pneumonia, yang menyebabkan gejala seperti:

    • Demam, yang akan cukup tinggi jika Anda mengidap pneumonia
    • Batuk berdahak
    • Napas pendek
    • Sakit dada ketika Anda bernapas atau batuk

    Beberapa infeksi yang lebih parah akibat coronavirus adalah yang umumnya lebih sering terjadi pada pengidap gangguan hati dan jantung, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, bayi, dan orang tua.

    Bagaimana penyebaran virus ini terjadi?

    Penyebaran coronavirus dari manusia ke manusia adalah hal yang belum diteliti secara khusus. Namun, dipercaya penyebaran coronavirus adalah melalui cairan yang dikeluarkan dari sistem pernapasan.

    Beberapa kemungkinan penyebaran coronavirus adalah:

    • Melalui udara (batuk dan bersin tanpa menutup mulut).
    • Melalui sentuhan atau jabat tangan orang yang terinfeksi.
    • Melakukan kontak dengan permukaan atau benda yang terdapat virus, kemudian menyentuh hidung, mata, atau mulut.

    Terkadang, penyebaran coronavirus adalah melalui kontak dengan kotoran.
    Kemampuan coronavirus dalam bermutasi adalah salah satu hal yang dipercaya membuat virus ini sangat mudah menular.

    Bagaimana mencegah terkena virus corona?

    Saat ini, belum ada vaksin apa pun yang dapat mencegah coronavirus. Namun, cara yang dapat Anda lakukan untuk terhindar dari penyebaran coronavirus adalah:

    • Cuci tangan lebih sering dengan sabun dan air, setidaknya 20 detik.
    • Hindari menyentuh tangan, hidung, atau mulut dengan tangan yang belum dicuci.
    • Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit.
    • Bersihkan barang yang sering Anda sentuh.
    • Tutupi mulut Anda saat batuk dan bersin dengan tisu dan segera cuci tangan.
    • Tetaplah di rumah jika sakit.

    Dalam rilisnya, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menganjurkan beberapa hal untuk mencegah infeksi coronavirus apabila Anda hendak bepergian.

    • Hindari menyentuh hewan atau burung.
    • Hindari mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan hidup.
    • Hindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala infeksi saluran napas.
    • Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan.
    • Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah wabah, terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan kesehatan.
    • Setelah kembali dari daerah wabah, konsultasi ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan informasikan kepada dokter riwayat perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit.

    Semoga Bermanfaat.

     

     

    Sumber: hellosehat.com