Tag: lapar

  • Tidak Sedang Lapar Tapi Perut Bunyi? Inilah Penyebabnya!

    Perut bunyi sebenarnya selalu terjadi setiap saat

    Bunyi apa yang Anda dengar dari perut Anda? Apakah yang Anda dengar bunyi ‘krucuk-krucuk’ ataukah bunyi yang lain? Perut tidak hanya berbunyi ketika merasa lapar saja, tetapi sebenarnya bunyi ini dihasilkan setiap saat dan hal ini normal terjadi pada setiap orang. Terdapat dua jenis bunyi yang ditimbulkan perut yaitu:

    1. Bunyi perut yang hipoaktif adalah bunyi perut yang terdengar kecil atau malah hampir tidak terdengar jika tidak menggunakan alat khusus. Bunyi ini tidak terdengar karena terjadi penurunan aktivitas di dalam saluran pencernaan.
    2. Berbeda dengan hipoaktif, bunyi perut yang hiperaktif ini justru terdengar jelas meskipun tidak menggunakan alat khusus seperti stetoskop. Hal ini biasanya terjadi dalam waktu yang singkat dan terdengar karena ada peningkatan aktivitas saluran cerna.

    Aktivitas saluran cerna inilah yang menyebabkan timbulnya bunyi perut dan disebut sebagai gerakan peristaltik. Gerakan peristaltik adalah gerakan otomatis yang dilakukan oleh saluran cerna di dalam tubuh yang bertujuan untuk mendorong makanan dengan cara melakukan gerakan meremas-remas agar makanan bisa terdorong hingga ke saluran cerna berikutnya.

    Perut bunyi walaupun tidak lapar, apa penyebabnya?

    Bunyi perut yang hiperaktif, hipoaktif, ataupun tidak terdengar bunyi sama sekali bisa saja disebabkan oleh hal berikut:

    1. Trauma
    2. Infeksi yang menyebabkan adanya masalah pada sistem saraf saluran cerna
    3. Mengalami hernia, yaitu penyakit yang ditandai dengan adanya organ tubuh yang tertekan dan mencua melalui jaringan otot atau jaringan sekitarnya.
    4. Adanya penyumbatan pembuluh darah disekitar saluran cerna
    5. Hypokalemia, yaitu penurunan kadar kalium dalam darah
    6. Adanya tumor pada saluran cerna
    7. Penyumbatan saluran cerna

    Sedangkan bunyi perut yang bersifat hiperaktif juga bisa diakibatkan oleh:

    1. Alergi terhadap suatu makanan
    2. Inflamasi atau peradangan yang membuat diare
    3. Menggunakan obat pencahar
    4. Terjadi perdarahan pada saluran cerna
    5. Mengalami penyakit Chron’s

    Untuk bunyi perut yang hipoaktif atau bahkan tidak terdengar bunyi perut apapun, maka Anda mungkin mengalami:

    1. Bagian perut terkena radiasi
    2. Adaya kerusakan pada usus
    3. Baru menjalani operasi saluran cerna
    4. Sedang dibius
    5. Mengonsumsi beberapa obat seperti codeine, dan phenothiazines.

    Kapan perut bunyi harus diwaspadai?

    1. Ketika perut berbunyi, sering kali kondisi tersebut diiringi dengan gejala lain seperti:
    2. Perut kembung, mual, muntah
    3. Sering BAB, diare, sembelit
    4. Terdapat darah di tinja
    5. Asam lambung naik
    6. Perut terasa penuh
    7. Tiba-tiba kehilangan berat badan

    Jika hal ini terjadi, maka bunyi perut Anda tidaklah normal lagi. Berbagai kondisi yang telah dijelaskan sebelumnya bisa saja terjadi. Karena itu, lebih baik memeriksakan diri Anda ke dokter untuk mencegah komplikasi yang dapat terjadi.

     

     

    Sumber :

    Hellosehat.com

  • Yang Manis Manis Bisa Membuat Lapar Terus. Begini Penjelasannya

    minuman manis

    Makanan dan minuman manis memang enak di lidah. Sayangnya, kebanyakan mengonsumsi makanan dan minuman manis bisa berdampak buruk pada angka timbangan berat badan. Bukan cuma tinggi kalorinya, ternyata makanan dan minuman manis akan membuat kita jadi lapar terus dan akhirnya makan lagi. Apa penyebabnya?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang ahli gizi sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS pun angkat bicara. “Ternyata ketika kita makan (makanan dan minuman yang mengandung) gula, tubuh akan menekan hormon leptin. Ketika hormon leptin itu ditekan, maka sebenarnya dia menghentikan rasa kenyang di dalam tubuh kita. Sehingga seolah-olah rasanya kita lapar terus,” papar Prof. Ali Khomsan ketika ditemui di Hotel Fairmont Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (3/10).

    Leptin adalah hormon dalam darah yang akan berjalan menuju otak. Tugasnya yaitu memberi tahu otak bahwa tubuh sudah mendapatkan nutrisi dan sumber energi yang cukup. Dengan kata lain, leptin berfungsi untuk mengirimkan sinyal pada otak bahwa Anda sudah kenyang.

    Itulah mengapa setelah makan makanan manis, nanti Anda akan merasa lapar lagi. Lebih jauh, Prof. Ali Khomsan juga mengatakan bahwa hal itulah yang membuat orang jadi ngemilsemakin banyak. “Ini karena perut kita seolah-olah tidak ada remnya yang mengatakan bahwa kita sebenernya sudah cukup kenyang,” ujar Prof. Ali Khomsan.

    Bila ini terus-terusan terjadi, yaitu ngemildan makan tanpa henti, risiko obesitas atau kegemukan pun bisa menghantui siapa saja. Obesitas sendiri adalah pencetus dari berbagai penyakit kronis. Mulai dari diabetes, penyakit jantung, hingga stroke.

    Makanan dan minuman manis memang sebaiknya dibatasi. Apalagi kalau Anda sedang menjaga atau ingin menurunkan berat badan. Namun, bukan berarti Anda tidak boleh mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula sama sekali. Hati-hati, menghindari gula sepenuhnya justru bisa membuat Anda ngidam makanan manis sehingga lebih sulit untuk mengendalikan nafsu makan.

    Sebenarnya kuncinya ada pada pedoman gizi seimbang. Makanan dan minuman manis masih boleh dikonsumsi, tapi sewajarnya saja. Menurut Kementerian Kesehatan RI, Anda sebaiknya tidak mengonsumsi gula (dari berbagai sumber) lebih dari 50 gram sehari. Ini setara dengan 4 sendok makan per hari.

    Ingat, batas konsumsi ini bukan cuma berlaku bagi gula pasir. Semua produk pangan yang ditambahkan gula juga perlu Anda hitung. Misalnya madu, sirup, camilan manis dalam kemasan, kue, hingga masakan sehari-hari.

    Jadi selama Anda masih bisa mengendalikan asupan gula, makanan dan minuman manis tidak perlu jadi musuh bebuyutan Anda. Semoga bermanfaat!

     

     

     

    Sumber : hellosehat.com