Tag: Hoax terbesar

  • Awas Hoax Merajalela di Masyarakat

    Hoaks atau berita bohong telah merajalela di media sosial, terutama sejak masa awal kampanye Pilpres 2019, sehingga masyarakat harus lebih cermat dalam mencerna informasi agar tidak mudah terhasut dan ikut menyebarkan hoaks.

    “Kondisi ini harus segera diantisipasi, bahkan kalau bisa dihentikan. Masyarakat juga harus disadarkan tentang bahaya hoaks yang sudah menyebar masif terutama di media sosial,” kata aktivis media sosial dan blogger, Enda Nasution seperti dikutip dari Antara, Jumat (12/10/2018).

    Enda mengatakan harus bisa lebih cermat dalam menerima informasi, sehingga tidak dengan mudah percaya begitu saja.

    “Analoginya seperti orang yang terkena berbagai macam kuman dan bakteri, maka orang itu harus memperkuat daya tahan tubuh. Meningkatkan daya tahan dan pikiran terhadap hoaks,” kata Enda.

    Menurutnya, dengan maraknya hoaks, masyarakat akan sangat dirugikan karena tanpa disadari mereka menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membahas sesuatu yang tidak perlu. Masyarakat juga kehilangan kepercayaan.

    Untuk menghentikan hoaks, lanjut Enda, harus ada dorongan dari diri masing-masing orang dalam masyarakat. Karena manusia itu secara sadar mengerti bahwa informasi yang beredar terutama di media sosial itu tidak bisa langsung dipercaya 100 persen.

    “Seringkali informasi yang beredar itu sengaja disebarkan atau sengaja dibuat untuk memanipulasi emosi kita, sehingga kita ikut menyebarkannya lagi. Dengan kesadaran itu, tentunya kita harapkan tidak meluas penyebaran hoaks berikutnya,” ujar pria yang juga dijuluki Bapak Blogger Indonesia ini.

    Beredarnya hoaks terkait bencana alam, Enda mencurigai itu karena ada kelompok yang ingin memperkeruh keadaan dan mendiskreditkan pemerintah. Sedangkan hoaks yang dilakukan Ratna Sarumpaet masih akan berkembang karena dicurigai ada motif politik yang besar di belakangnya.

    Tangkal Hoaks

    Enda mengimbau masyarakat bisa menjalani hari-hari tanpa hoaks, caranya dengan tidak mudah percaya berita palsu begitu saja, serta mengedepankan verifikasi dan tidak ikut menyebarkan hoaks.

    “Dengan begitu masyarakat bisa tahu dan makin sensitif terhadap hoaks. Misalnya, kalau terlalu tendensius, terlalu sensasional atau terlalu ‘too good to be true’ maka kemungkinan besar itu hoaks,” jelasnya.

    Oleh karena itu, perlu adanya peran pemerintah dan aparat penegak hukum menyikapi hoaks yang muncul di media sosial. Masyarakat juga harus bisa membedakan mana informasi yang beredar melalui sosial media dan juga melalui media mainstream.

    “Di media sosial siapa pun bisa membuat informasi, siapa pun juga bertindak sebagai pengonsumsi informasi itu,” kata koordinator Gerakan #BijakBerSosmed ini.

     

     

    Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/3665410/hati-hati-hoaks-merajalela-di-masyarakat

  • Berbohong Dapat Mempengaruhi Kesehatan Fisik dan Mental

    Tak bisa diingkari, semua orang pernah berbohong, entah itu dalam wujud kebohongan besar atau kebohongan kecil. Sebuah studi mengungkap, dalam satu minggu, rata-rata seseorang bisa mengucapkan 11 kebohongan, atau sekitar satu hingga dua kali dalam sehari.

    Pembohong Liar

    Pakar kesehatan bernama Arthur Markman, PhD menyebutkan bahwa jika kita berbohong, tubuh ternyata segera mengeluarkan hormon kortisol atau homon stress dan steroid pada otak kita. Hal ini disebabkan oleh otak yang bekerja dengan lebih keras untuk memproses mana yang sebenarnya adalah kebenaran dan mana yang merupakan kebohongan.

    Proses ini bisa terjadi selama 10 menit dan bisa membuat kita cenderung menjadi lebih emosional dan kebingungan. Tak hanya itu, kita juga akan cenderung lebih mudah gelisah karena takut jika kebohongan ini akan ketahuan oleh orang lain. Dalam banyak kasus, hal ini juga akan membuat kita cenderung lebih mudah menyalahkan orang atau hal-hal lain demi menutupi kebohongan tersebut.

    Yang menjadi masalah adalah, jika kita kerap berbohong, kinerja otak yang semakin keras dan pengaruh hormon stress dalam jumlah yang banyak ini akan memicu dampak negatif layaknya susah tidur, tekanan darah tinggi, sakit kepala, sakit punggung, gangguan pencernaan, depresi, hingga penurunan daya tahan tubuh yang ditandai dengan semakin sedikitnya sel darah putih. Kita tentu akan lebih mudah terkena penyakit berbahaya bukan?

    Berikut adalah tiga efek buruk kebohongan bagi kesehatan tubuh.

    1. Stres
    Sedari kecil, kita diajarkan dan diberitahu, bagaimana pun juga, berbohong adalah hal yang salah. Itulah sebabnya, ketika kita berbohong, tubuh akan memicu rasa stres dan tekanan pada sistem tubuh. Hasilnya, jika kita terlalu banyak berbohong, tubuh akan semakin merasa cemas dan dipenuhi dengan rasa tegang.

    Sebaliknya, mengatakan hal yang jujur menghindari kita dari perasaan tertekan. Pasalnya, ketika kita mengatakan hal yang jujur, kita hanya perlu mengingat apa yang terjadi dan mengatakan hal tersebut, apa adanya. Sementara itu, berbohong memaksa kita memikirkan versi lain dari sebuah kejadian, membuat orang percaya akan apa yang kita bicarakan, dan memertahankan “versi lain” itu dalam sisa hidup kita. Hal sulit inilah yang memicu stres dan berpengaruh banyak pada kesehatan.

    2. Penyakit
    Selain stres, berbohong bisa memicu munculnya masalah kesehatan lainnya, seperti nyeri punggung, sakit kepala, depresi, pilek, daya tahan tubuh yang rendah, penghargaan diri yang rendah, kecanduan, peningkatan risiko kanker dan obesitas.

    3. Hubungan tak sehat
    Sebuah studi yang berbeda telah menunjukkan, sebuah kebohongan ternyata mampu membuat sebuah hubungan jadi tak sehat, atau bahkan merusaknya. Pada akhirnya sebuah hubungan yang tak sehat sendiri turut memengaruhi kita baik dari segi kesehatan fisik dan mental.

    Itulah efek negatif yang dapat ditimbulkan akibat berbohong. Semoga informasi di atas menjadikan pelajaran bagi kita semua untuk tidak berbohong.

    Semoga Bermanfaat!

     

     

    Sumber :

    intisari.grid.id

    doktersehat.com