Tag: ekspor

  • NTT Ekspor 24 Ton Gurita ke Cina

    Gurita menjadi salah satu produk perikanan ekspor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup menjanjikan. Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Kupang mencatat, sepanjang Januari 2019, provinsi NTT telah mengekspor 24 ton gurita ke Cina.

    “Sebanyak 24 ton gurita beku yang diekspor ini ada dari Pulau Flores yang dikirim melalui Surabaya, Jawa Timur,” ungkap Kepala SKIPM Kupang, Jimmy Yonathan Elwaren, Ahad (24/2).

    Menurut Jimmy, ekspor gurita tersebut dilakukan oleh PT Okishin Flores dengan nilai mencapai 63 ribu dolar Amerika. Ia menjelaskan komoditas gurita merupakan salah satu produk kelautan dari provinsi setempat yang mulai diminati Cina. Ekspor perdana gurita NTT telah dilakukan sejak 2018 lalu dengan jumlah mencapai 15,8 ton.

    Tak hanya gurita, menurut Jimmy, di Januari 2019, NTT juga mengekspor produk perikanan rumput laut ke Tiongkok. “Produk rumput laut yang diekspor ini dipasok dari Pulau Sumba sebanyak 75 ton.” ujarnya.

    Jimmy mengungkapkan, rumput laut diekspor dalam bentuk “alkali treated cottonii chips” (ATCC) dengan nilai ekspor sebesar 96 ribu dolar. Komoditas rumput laut merupakan produk yang paling banyak diekspor pada Januari 2019, menyusul ikan kering sebanyak 27,8 ton; ikan anggoli 1,8 ton; skip jack 0,5 ton; dan tuna beku 0,3 ton.

    “Sementara itu, komoditas unggulan lain seperti cakalang dan tuna belum diekspor karena produksi yang masih kurang akibat cuaca buruk dari akhir tahun,” ujar Jimmy.

     

     

    Sumber : republika

  • Ponsel dan Modem Buatan Batam Diekspor ke Amerika Serikat

    PT Sat Nusapersada, sebuah perusahaan di Batam yang bekerja sama dengan Pegatron Corporation (perusahaan yang berpusat di Taiwan) melakukan ekspor smartphone dan modem ke Amerika Serikat.

    Kepala kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI), Didi Sumedi, mengatakan, Selain dengan Pegatron, pihaknya juga berupaya membantu perusahaan elektronik dalam negeri agar dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan elektronik lainnya di Taiwan. “Ini baru dari satu sektor saja, belum lagi sektor lainnya seperti bahan kimia, logam, permesinan, dan lain- lain,” kata katanya yang dikutip dari Jawapos.

    Peluang yang harus ditangkap oleh Indonesia dari kerja sama dengan perusahaan Taiwan tersebut melalui industri komponen elektronik. Taiwan menyumbang 37,3% GDP industri manufaktur, disusul industri komputer, elektronik, dan produk optik sebesar 10,2 persen, serta industri bahan kimia sebesar 7,4 persen.

    Direktur utama PT Sat Nusapersada juga menyampaikan bahwa pihaknya memiliki tekad untuk terus menjadi salah satu manufaktur ponsel pintar terbesar di Indonesia. PT Sat Nusapersada telah memproduksi berbagai merek ponsel branded, antara lain Asus, Xiaomi, Huawei, Honor, dan Nokia yang dipasarkan di Indonesia, serta sisanya diekspor ke India, Jerman, dan Prancis.

    Peresmian ekspor ponsel dan modem tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Direktur Utama PT Sat Nusapersada Abidin, Vice Chairman Pegatron Corp, Jason Cheng dan Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta, John C. Chen, juga ikut menghadiri acara tersebut.

     

     

    Sumber : GNFI