Tag: covid-19

  • Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

    Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 1.400.000 kasus di seluruh dunia dan sekitar 80.000 orang meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh coronavirus SARS-CoV-2 ini menimbulkan gejala yang menyerupai flu. Namun, baru-baru ini terdengar kabar bahwa mata merah dapat menjadi gejala dari coronavirus COVID-19.

    Benarkah demikian? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

    Gejala coronavirus yang ditandai dengan mata merah

    COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia, sehingga ketika seseorang terinfeksi mereka akan menunjukkan gejala menyerupai flu. Mulai dari demam tinggi, batuk kering, hingga sesak napas.

    Pada kasus tertentu, orang yang terinfeksi coronavirus mengalami masalah pada sistem pencernaannya, seperti diare. Bahkan, tidak sedikit pasien positif COVID-19 yang tidak memiliki gejala apa pun tetapi penularan masih dapat terjadi.

    Selain itu, baru-baru ini American Academy of Ophthalmology mengumumkan bahwa mata merah dapat menjadi indikasi dari gejala coronavirus COVID-19. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

    Hal ini dibuktikan melalui penelitian dari JAMA Network. Sekitar 38 pasien COVID-19, dua belas diantaranya mengalami mata merah (konjungtivitis) dan dua pasien lainnya memiliki cairan pada mata dan hidung mereka.

    Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat konjungtiva adalah lapisan jaringan yang cukup tipis dan transparan. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi kelopak mata bagian dan dan menutupi bagian putih mata.

    Pada saat disentuh oleh tangan yang kotor dan mungkin terdapat virus di permukaannya, tidak menutup kemungkinan lapisan tersebut akan terkena iritasi dan memerah.

    Selain itu, salah satu penyebab mengapa konjungtivitis bisa terjadi adalah adanya infeksi virus yang berhubungan dengan flu atau saluran pernapasan atas.

    Artinya, virus dapat menyebar ketika seseorang menggosok mata yang terinfeksi dan menyentuh orang lain, terutama saat pemeriksaan mata.

    Walaupun jumlah kasus pasien menunjukkan gejala coronavirus dengan mata merah tidak banyak, para ahli tetap mengimbau dokter untuk tetap waspada. Mulai dari rutin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri, dan upaya mencegah penularan coronavirus.

    Ganti lensa kontak Anda dengan kacamata biasa

    Selain menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dengan rutin mencuci tangan, ternyata bagi pengguna lensa kontak dianjurkan untuk tidak menggunakannya sementara waktu.

    Anjuran untuk tidak menyentuh wajah adalah aturan yang dibuat para dokter untuk mencegah infeksi COVID-19. Apabila Anda memakai lensa kontak, kemungkinan untuk lebih sering menyentuh atau menggosok mata setiap hari dapat terjadi.

    Hal ini berlaku untuk memasukkan, melepas, dan menyimpan sesuai dengan aturan pemakaian lensa kontak. Akibatnya, mata merah yang menjadi indikasi gejala coronavirus bisa saja terjadi.

    Kebanyakan orang mungkin merasa lebih nyaman dengan penggunaan lensa kontak dibandingkan kacamata. Entah itu karena meningkatkan penampilan atau lensa kacamata yang terlalu berat.

    Padahal, ada beberapa alasan yang membuat pemakaian kacamata jauh lebih baik daripada lensa kontak, terutama saat pandemi COVID-19. Salah satu kelebihan kacamata adalah memberikan perlindungan ekstra agar Anda tidak sering menyentuh mata.

    Hal tersebut bukan berarti kacamata dapat mencegah infeksi penularan sebab belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.

    Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ketika beralih dari lensa kontak ke kacamata biasa sebagai berikut.

    • Berhenti menggunakan lensa kontak jika terasa sakit dan mata memerah.
    • Beralih ke kacamata jika sering berhubungan dengan pasien positif COVID-19.
    • Membersihkan kacamata setiap hari dengan sabun dan air selama 20 detik.
    • Jangan lupa keringkan kacamata dengan kain bebas serat agar lensa tidak tergores.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

    Dampak COVID-19 memang lebih parah pada lansia, terutama bagi mereka yang telah menderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, dan penyakit paru. Akan tetapi, tidak sedikit pula laporan kematian akibat COVID-19 pada pasien berusia 20 atau 30-an. Para ilmuwan menduga penyebab kematian COVID-19 teresbut berkaitan dengan badai sitokin.

    Sitokin merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sitokin seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada kondisi yang salah, keberadaan sitokin justru dapat membahayakan jiwa. Apa itu sitokin dan bagaimana kaitannya dengan COVID-19? Berikut penjelasan selengkapnya.

    Fungsi sitokin sebelum terjadi badai sitokin pada infeksi COVID-19

    Sistem kekebalan tubuh terdiri dari banyak komponen. Ada sel-sel darah putih, antibodi, dan sebagainya. Tiap komponen bekerja sama untuk mengenali patogen (bibit penyakit), membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

    Agar dapat menjalankan fungsinya, tiap komponen pada sistem kekebalan tubuh harus berkomunikasi antara satu sama lain. Di sinilah peran sitokin dibutuhkan. Sitokin adalah protein khusus pembawa pesan antara sel 0pada sistem kekebalan tubuh.

    Sitokin terbagi berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerjanya dalam tubuh. Ada empat macam sitokin, yakni:

    • Limfokin, diproduksi oleh sel limfosit-T. Fungsinya untuk mengarahkan respons sistem imun menuju daerah infeksi.
    • Monokin, diproduksi oleh sel monosit. Fungsinya untuk mengarahkan sel-sel neutrofil yang akan membunuh patogen.
    • Kemokin, diproduksi oleh sel sistem imun. Fungsinya untuk memicu perpindahan respons imun ke daerah infeksi.
    • Interleukin, diproduksi oleh sel darah putih. Fungsinya untuk mengatur produksi, pertumbuhan, dan pergerakan respons imun dalam reaksi peradangan.

    Ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaksi peradangan.

    Sitokin terkadang juga berikatan dengan sel darah putih lain atau bekerja sama dengan sitokin lain saat terjadi infeksi. Tujuannya tetap sama, yakni mengatur sistem kekebalan tubuh dalam membasmi patogen.

    Saat terjadi peradangan, sel-sel darah putih akan bergerak menuju darah atau jaringan yang terinfeksi untuk melindunginya dari penyakit. Pada kasus COVID-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2.

    Peradangan sebenarnya berguna untuk membunuh patogen, tapi reaksi ini juga dapat menimbulkan demam dan gejala COVID-19 lainnya. Setelah beberapa waktu, barulah peradangan mereda dan sistem imun tubuh dapat melawan virus dengan sendirinya.

    Mengenal badai sitokin pada pasien COVID-19

    Banyak pasien COVID-19 meninggal karena sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi. Virus pun memperbanyak diri dengan cepat, menyebabkan kegagalan beberapa organ sekaligus, dan akhirnya mengakibatkan kematian.

    Namun, beberapa dokter dan ilmuwan menemukan pola tidak biasa pada sejumlah pasien COVID-19. Pasien-pasien ini mengalami gejala ringan, tampak membaik, tapi selang beberapa hari, kondisi mereka menurun drastis hingga kritis atau meninggal.

    Dr. Pavan Bhatraju, dokter ICU di Harborview Medical Center Seattle, AS, menyebut hal ini dalam penelitiannya. Penurunan kondisi pasien umumnya terjadi setelah tujuh hari dan lebih banyak ditemukan pada pasien COVID-19 yang sehat dan masih muda.

    Mereka meyakini bahwa penyebabnya adalah produksi sitokin yang berlebihan. Hal ini dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin. Alih-alih melawan infeksi, kondisi ini justru dapat menyebabkan kerusakan organ dan berakibat fatal.

    Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

    Paru-paru mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Peradangan pun bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru.

    Jaringan paru-paru pun mengalami kerusakan. Kondisi pasien yang tadinya sudah baik berakhir memburuk. Dr. Bhatraju mengatakan, pasien yang awalnya hanya memerlukan sedikit oksigen bisa saja mengalami gagal napas hanya dalam waktu semalam.

    Dampak badai sitokin begitu drastis dan cepat. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas. Di sisi lain, infeksi terus bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan organ.

    Menangani badai sitokin pada pasien COVID-19

    Ada beberapa jenis obat yang dapat meredakan badai sitokin pada pasien COVID-19, salah satunya dikenal sebagai interleukin-6 inhibitors (IL-6 inhibitors). Obat ini bekerja dengan menghambat kerja sitokin yang memicu reaksi peradangan.

    Meski perlu dikaji lebih dalam, laporan dari Prancis dan Tiongkok menunjukkan bahwa IL-6 inhibitors cukup berpotensi meredakan badai sitokin.

    Pada satu kasus, seorang pasien yang sudah hampir menggunakan ventilator dapat bernapas lagi beberapa jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

    Pasien lain yang diberikan obat ini hanya sebentar menggunakan ventilator, padahal ia seharusnya memakai ventilator selama beberapa minggu. Saat ini, tugas para ilmuwan adalah memastikan bahwa IL-6 inhibitors memang efektif mengatasi badai sitokin.

    Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan melakukan upaya mencegah COVID-19. Lindungi diri Anda dengan mencuci tangan dan menjaga daya tahan tubuh.

    Hindari pula interaksi dengan orang lain guna mengurangi risiko penyebaran COVID-19 yang dapat mengakibatkan badai sitokin pada beberapa orang.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Hal-Hal yang Harus Dilakukan Ketika Merasakan Gejala COVID-19

    Virus penyebab COVID-19 hingga kini masih merebak dan kasusnya terus meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pasien COVID-19 sudah mencapai ribuan orang dan telah memakan korban hingga ratusan jiwa.

    Penyebaran yang sangat cepat dan awalnya yang sering tanpa gejala pun membuat banyak masyarakat khawatir. Lantas, bagaimana jika suatu saat seseorang merasakan gejala COVID-19, apa yang harus dilakukan?

    COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyerang pernapasan. Hampir serupa dengan flu, gejala yang ditunjukkan bisa berupa gejala ringan seperti batuk kering, dan sakit tenggorokan.

    Namun infeksi virus COVID-19 juga bisa menimbulkan gejala yang cukup berat seperti pneumonia dan sesak nafas.

    Seiring dengan bertambahnya kasus, ditemukan juga berbagai gejala lainnya yang terjadi pada beberapa orang. Gejala tersebut meliputi hilangnya indera penciuman dan diare.

    Berkurangnya fungsi indera penciuman masih lebih umum terjadi, mengingat virus bisa saja menyebabkan pilek yang membuat hidung tersumbat dan tidak bisa mencium aroma.

    Berbeda dengan gejala diare, orang-orang yang mengalaminya kebanyakan tidak segera mencari pertolongan medis karena merasa bahwa gejala tidak berhubungan dengan masalah pernapasan.

    Hal yang harus dilakukan jika Anda mengalami gejala COVID-19

    Sebenarnya, kebanyakan pasien yang terinfeksi COVID-19 hanya menunjukkan gejala ringan dan dapat melakukan perawatan sendiri di rumah tanpa bantuan medis. Gejala biasanya akan muncul dalam 2 sampai 14 hari setelah terpapar dengan virus.

    Bagi Anda yang ingin melakukan tes untuk mengetahui apakah tubuh telah terinfeksi virus, cobalah hubungi dinas kesehatan atau penyedia layanan medis yang ada di kota Anda. Bisa juga menghubungi hotline Kemenkes RI dengan nomor 021-5210411 atau 081212123119.

    Jika hasilnya negatif, kemungkinannya Anda memang tidak terinfeksi atau Anda masih berada pada tahap awal saat pengumpulan spesimen.

    Meski demikian, Anda tetap harus berhati-hati dan melakukan pencegahan. Hasil tes yang negatif tidak menutup kemungkinan Anda bisa terinfeksi virus di kemudian hari.

    Jika hasilnya positif, Anda harus segera mencari bantuan dan meminta anjuran pada dokter tentang apa saja yang harus dilakukan jika masih bisa melakukan perawatan sendiri.

    Berikut adalah beberapa di antaranya yang harus Anda lakukan ketika mulai merasakan gejala atau sudah terinfeksi COVID-19.

    Berdiam di rumah

    Untuk Anda yang mengalami gejala seperti batuk dan demam tanpa mengalami sesak nafas, Anda disarankan untuk berdiam di rumah dan tidak bepergian kecuali untuk keperluan medis seperti periksa ke dokter.

    Anda bisa melakukan penyembuhan dengan meminum obat-obatan yang akan mengurangi gejalanya.

    Bila Anda terpaksa harus pergi, usahakan untuk tidak naik kendaraan umum, lebih baik gunakan kendaraan pribadi.

    Memisahkan diri dari orang lain ketika sakit

    Lakukan isolasi diri dengan menjauh dari orang-orang di sekitar Anda. Lakukan jarak fisik minimal 1 meter. Tidurlah di kamar yang terpisah dari orang lain.

    Bila ada, gunakan kamar mandi yang berbeda. Hal ini dilakukan agar Anda tidak menularkan penyakit terutama jika Anda telah positif menderita COVID-19.

    Beritahu kepada dokter tentang keadaan Anda

    Bagi Anda yang sedang menjalani perawatan atau memiliki jadwal dengan dokter yang tidak bisa ditunda, beritahukan dahulu melalui telepon bahwa Anda mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan COVID-19 sebelum bertemu.

    Dengan informasi yang Anda berikan, dokter dan petugas kesehatan lainnya dapat melakukan persiapan terlebih dahulu.

    Gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut
    Gunakanlah masker yang bisa menutup area hidung dan mulut dengan baik bila perlu setiap saat. Masker kain sudah cukup membantu untuk menghalangi percikan dari mulut dan hidung untuk terpapar ke luar. Jika kehabisan masker, Anda bisa mengganti dengan menggunakan syal atau selendang.

    Ketika bersin atau batuk, tutupi dengan tisu lalu segera buang ke tempat sampah setelahnya. Jika tidak memiliki tisu, Anda bisa menutup hidung dan mulut menggunakan area siku. Setelah itu, cuci tangan dengan sabun atau gunakan hand sanitizer.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Ditangani Sesuai Protokol, Jenazah COVID-19 Tidak Akan Menularkan Virus

    Virus Corona telah menginfeksi ribuan orang di Indonesia. Jumlah pasien yang meninggal akibat terpapar virus ini pun terus bertambah. Ironisnya, di tengah kondisi ini justru muncul penolakan warga terhadap pemakaman jenazah penderita COVID-19.

    Berita penolakan pemakaman jenazah penderita COVID-19 di beberapa daerah marak terdengar. Penolakan tersebut kabarnya terjadi karena warga sekitar tempat pemakaman takut tertular infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan ini, padahal jika ditangani sesuai protokolnya, jenazah penderita COVID-19 tidak akan menularkan virus Corona.

    Perawatan Jenazah COVID-19 di Indonesia Sudah Sesuai Protokol

    Virus Corona memang masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari di dalam cairan tubuh, darah, dan permukaan tubuh jenazah penderita COVID-19. Namun, umumnya setelah 9 hari, virus tersebut akan mati karena tidak memiliki sel hidup sebagai inang untuk berkembang biak.

    Perlu diketahui bahwa perawatan jenazah penderita COVID-19 di Indonesia sudah diatur sesuai dengan protokol yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sehingga jenazah tersebut aman dan tidak akan menularkan virus Corona.

    Hingga kini pun tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.

    Oleh karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak melakukan aksi penolakan terhadap pemakaman jenazah penderita COVID-19, apalagi sampai membuat kerumunan orang di jalan. Kerumunan inilah yang justru berpotensi menjadi tempat penyebaran virus Corona.

    Protokol Penanganan Jenazah Penderita COVID-19

    Penularan virus Corona lebih berisiko terjadi pada petugas kesehatan atau siapa pun yang kontak langsung dengan jenazah. Oleh karena itu, keamanan dan kebersihan petugas yang menangani jenazah harus diutamakan.

    Petugas wajib melindungi diri dengan mengenakan alat pelindung diri (APD), termasuk sarung tangan, masker, dan pelindung mata saat melakukan perawatan jenazah hingga menguburnya.

    Jenazah yang dicurigai atau terbukti meninggal karena COVID-19 akan didisinfeksi oleh petugas kesehatan terlebih dahulu. Setelah itu, jenazah baru bisa dimandikan dan dibungkus kain kafan. Meski jenazah sudah didisinfeksi, petugas atau keluarga yang memandikan dan membungkus jenazah tetap harus menggunakan APD yang lengkap.

    Setelah dimandikan dan dibungkus kain kafan, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau plastik yang diikat rapat dan tidak tembus air. Bila dilakukan pemetian, peti harus berbahan kayu yang kuat dengan ketebalan minimal 3 cm. Peti juga akan dipaku di beberapa tempat lalu disegel menggunakan silikon.

    Lokasi pemakaman diatur untuk berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman dan 30 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum, sehingga sumber air tidak akan terkontaminasi virus. Jenazah juga harus dikubur sedalam minimal 1,5 meter dan permukaan kubur ditutup dengan tanah setinggi 1 meter.

    Selain itu, seluruh prosesi dari perawatan jenazah hingga prosesi pemakaman juga perlu diatur secara ketat untuk tidak dikunjungi banyak orang. Pihak keluarga pun tetap harus menjaga jarak dengan jenazah maupun dengan satu sama lain untuk meminimalkan risiko penularan.

    Semua langkah-langkah perawatan hingga pemakaman jenazah penderita COVID-19 telah diatur dengan jelas dan rinci oleh pemerintah. Semua aturan ini dibuat sedemikian rupa untuk memastikan tidak adanya kemungkinan penularan dari jenazah ke orang yang masih hidup.

    Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir, apalagi sampai melarang jenazah COVID-19 dimakamkan. Perlu disadari, hal ini bisa sangat menyakitkan bagi anggota keluarga jenazah. Di masa-masa sulit seperti ini, alangkah baiknya bila kita saling membantu dan memberi dukungan, bukannya malah menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

    Penyebaran virus Corona yang perlu dikhawatirkan justru pada orang-orang yang masih melakukan aktivitas, khususnya di luar rumah dan keramaian. Agar tidak tertular COVID-19, lakukan langkah pencegahan dengan menerapkan physical distancing, rajin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan tidak bepergian ke luar rumah kecuali bila ada kepentingan mendesak.

    Jika kamu mengalami demam yang disertai batuk atau sesak napas, terlebih jika dalam 14 hari terakhir kamu pernah berada di daerah endemis COVID-19 atau memiliki kontak dengan orang yang terinfeksi virus Corona, lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

    Gunakan fitur cek risiko virus Corona yang disediakan gratis oleh Alodokter untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kamu telah terinfeksi virus ini. Bila memiliki pertanyaan seputar COVID-19 atau masalah kesehatan lainnya, kamu bisa chat langsung dengan dokter melalui aplikasi Alodokter.

    Jika kamu memerlukan konsultasi atau pemeriksaan langsung dari dokter, sebaiknya jangan langsung ke rumah sakit karena akan meningkatkan risiko kamu tertular virus Corona. Buatlah dulu janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Alodokter, sehingga kamu bisa diarahkan untuk menemui dokter terdekat yang dapat membantu kamu.

     

    Sumber : alodokter.com

  • Pesan Makanan Saat Coronavirus, Bagaimana agar Aman?

    Berada di rumah adalah pilihan yang tepat saat kondisi pandemi Coronavirus (COVID-19). Urusan lainnya tinggal diselesaikan secara daring; salah satunya dalam memesan makanan. Menggunakan jasa order makanan menjadi pilihan yang mudah. Hal tersebut bisa menghindari kita dari keramaian selama social distancing. Namun, bagaimana agar pesan makanan tetap aman saat wabah Coronavirus?

    Amankah pesan makanan saat pandemi Coronavirus?

    Pada saat wabah Coronavirus yang membutuhkan kewaspadaan tinggi seperti sekarang sangatlah wajar jika kita memiliki pertanyaan terkait banyak hal. Salah satunya perihal jasa pesan antar makanan yang kita gunakan. Apakah makanan yang kita pesan akan terkontaminasi Coronavirus? Apakah COVID-19 ini bisa menyebar melalui makanan atau wadah pesan antarnya?

    Kabar baiknya, Coronavirus tidak menular melalui makanan. Hal tersebut ditegaskan oleh kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) Ian Williams seperti yang dilansir dari CNN.

    “Sejauh ini tidak ada bukti. COVID-19 menular dari orang-ke-orang melalui air liur. Hingga saat ini, tidak ada bukti yang benar-benar menunjukkan (Coronavirus) bisa menular melalui makanan atau layanan pesan antar makanan,” ujar Ian.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) juga menegaskan bahwa COVID-19 tidak ditularkan melalui makanan.

    “Saat ini tidak ada bukti makanan atau kemasan makanan bisa menyebarkan SARS-CoV-2. Tidak seperti hepatitis A yang sering membuat orang sakit melalui makanan yang terkontaminasi. COVID-19 menular melalui air liur, remah-remah makanan tidak dikenal sebagai rute penularan virus ini,” tulis FDA dalam situs webnya.

    Sekalipun Anda memakan makanan dengan virus, tidak ada virus yang melekat di jalur pencernaan, sehingga menelan virus tidak akan menyebabkan penularan penyakit. Dengan kata lain, sistem pencernaan akan mencerna dan membuangnya.

    Walaupun COVID-19 tidak menular melalui makanan kemasan pesan antar, FDA mengingatkan untuk mengutamakan kebersihan. Imbauan ini ditujukan kepada semua orang yang berperan dalam pengolahan hingga pengantaran makanan.

    Termasuk membersihkan permukaan benda-benda dan mencuci tangan secara berkala. Hal ini tentu saja untuk menurunkan potensi risiko seminim mungkin.

    “Selalu ingat pentingnya mengikuti empat langkah utama keamanan makanan—bersih, terpisah, matang, atau dibekukan—untuk mencegah penularan penyakit melalui keracunan makanan,” tulis FDA dalam situs webnya.

    Waspadai potensi penularan lain

    Ternyata bukan dari makanan saja. Para ahli mengatakan ada potensi penularan dari pembungkus atau wadah makanannya yang perlu diwaspadai.

    Ada risiko penularan dari Coronavirus yang menempel di kemasan saat pesan makanan. Misalnya jika petugas yang menyiapkan telah terinfeksi COVID-19 lalu air liurnya mengenai bungkus makanan maka virusnya bisa tetap hidup di kemasan tersebut dan bisa berpindah ke tangan pemesan.

    Tapi jangan khawatir risiko tersebut sangat kecil dan bisa dicegah. Intinya para ahli mengatakan sangat rendah potensi penularan COVID-19 dalam paket atau kemasan pesan antar makanan.

    “Saya ingin menjelaskan bahwa makanan atau paket bisa membawa virus, tetapi risiko penularannya sangat rendah,” kata Benjamin Chapman, seorang profesor spesialis keamanan makanan Universitas North Carolina. “Sungguh, risikonya sangat rendah.”

    “Walaupun mungkin bahwa virus menempel (di kemasan makanan pesan antar) kami tidak memiliki indikasi bahwa ini adalah faktor risiko penularan COVID-19 atau penyakit pernapasan lainnya,” kata Chapman. “Bahkan dengan jutaan kasus influenza setiap tahun, kemasan bukanlah sesuatu yang kita persoalkan,” jelasnya.

    Walaupun potensinya sangat kecil, bukan berarti pesan makanan saat Coronavirus tidak berisiko sama sekali. Karena itu ahli medis selalu mengingatkan untuk mencuci tangan dengan sabun karena sabun bisa membunuh virus yang menempel di tangan dan jangan menyentuh wajah.

    “Jika khawatir, untuk itu selalu mencuci tangan setelah menerima apa pun yang mungkin terkontaminasi,” kata Don Schaffner, seorang ahli ilmu pangan spesialisasi dalam risiko mikroba, cuci tangan, dan kontaminasi silang.

    Mencegah penyebaran Coronavirus saat order makanan

    Dalam kondisi pandemi seperti ini, sekecil apa pun risiko tersebut masih bisa ditangkal dengan melakukan pencegahan. Para ahli merekomendasikan beberapa cara pencegahan dalam memperkecil potensi penularan COVID-19 dari jasa pesan antar makanan.

    Saat mengambil paket pesan makanan dari jasa pesan antar, mintalah untuk meletakkan paket makanannya di teras rumah. Jangan lupa untuk siapkan uang pas saat membayar pesanan atau gunakan transaksi nontunai. Cara ini untuk menghindari pengantar dan pemesan berkontak langsung.

    Menghindari kontak langsung dengan pegawai pesan antar makanan bukan hanya melindungi pemesan, tapi juga melindungi pengirim jasa pesan antar makanan tersebut.

    “Jadi tidak perlu berkontak langsung. Cara ini mungkin terdengar ekstrem, tapi dengan cara ini kita dapat meminimalisir risiko,” Dr. Stephen Morse, ahli epidemiologi, memberi saran.

    Setelah itu keluarkan makanan dari kemasannya dan membuang kemasannya dengan benar. Lebih baik menggunakan alat makan milik sendiri yang kita sudah jaga kebersihannya.

    Kemudian setelah membuang kemasan, segeralah mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer yang mengandung alkohol. Dengan begitu, kita bisa mencegah penularan Coronavirus saat pesan makanan.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Kriteria Hand Sanitizer yang Efektif untuk Mencegah Penularan COVID-19

    Cara terbaik untuk mencegah penularan COVID-19 adalah mencuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik. Jika keduanya tidak tersedia, Anda pun dapat membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua jenis hand sanitizer mampu mencegah penularan COVID-19.

    Di pasaran, Anda akan menemukan beragam jenis hand sanitizer dengan kandungan yang berbeda-beda. Jenis hand sanitizer tertentu mungkin dapat membunuh bakteri, tapi belum tentu dengan virus ataupun kuman lainnya. Supaya Anda tidak salah pilih, mari kenali dulu hand sanitizer seperti apa yang sebenarnya Anda butuhkan.

    Jenis hand sanitizer yang bisa mencegah penularan COVID-19

    Hand sanitizer memang efektif untuk mencegah penyebaran COVID-19, tapi hanya bila Anda menggunakannya dengan tepat. Salah satu faktor yang menentukan tepat atau tidaknya suatu produk hand sanitizer adalah bahan aktif di dalamnya.

    Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan penggunaan hand sanitizer yang mengandung setidaknya 60% alkohol. Pasalnya, alkohol merupakan kandungan penting yang akan membunuh berbagai kuman pada tangan Anda.

    Virus tersusun dari rantai kode genetik yang tersimpan dalam sejenis ‘kulit’ bernama kapsid. Sementara itu, beberapa virus pada hewan seperti coronavirus biasanya memiliki selubung tambahan yang terbuat dari lemak, fosfor, protein, dan glukosa.

    Alkohol pada hand sanitizer, terutama dari jenis etanol atau isopropil alkohol, dapat menguraikan dan menghancurkan ikatan selubung tersebut. Virus akhirnya tidak bisa bertahan ataupun memperbanyak diri, dan lama-kelamaan akan mati.

    Ini sebabnya banyak rumah sakit menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol untuk mencegah penularan COVID-19. Alkohol mampu membunuh bakteri, virus, dan parasit dengan efektif, termasuk kuman-kuman di rumah sakit.

    Meski demikian, penggunaan hand sanitizer tetap tidak dapat menggantikan manfaat cuci tangan menggunakan air dan sabun. Jadi, pastikan Anda hanya menggunakan hand sanitizer ketika air dan sabun benar-benar tidak tersedia.

    Bolehkah memakai produk pembersih tangan tanpa alkohol?

    Selain hand sanitizer berbahan alkohol, Anda mungkin juga pernah menemukan hand sanitizer tanpa alkohol, tisu basah, atau produk-produk pembersih sejenisnya. Lantas, apakah produk-produk seperti ini juga bisa digunakan untuk mencegah COVID-19?

    Alkohol menimbulkan efek samping berupa kulit kering. Orang-orang yang memiliki kulit kering dan sensitif tentu rentan terkena efek samping ini. Produsen produk pembersih pun menyiasatinya dengan mengurangi kadar alkohol atau menggantinya sama sekali.

    Pembersih tanpa alkohol biasanya mengandung bahan pengganti berupa benzalkonium klorida. Benzalkonium klorida memang dapat membersihkan tangan Anda dari kuman, tapi CDC menyatakan bahwa senyawa ini tidak bekerja pada semua jenis kuman.

    Hand sanitizer mengandung benzalkonium klorida mungkin hanya akan menghambat pertumbuhan kuman pada tangan, tapi tidak membunuhnya. Efeknya berbeda dengan cuci tangan yang akan membunuh kuman sekaligus menghilangkannya bersama air.

    Hal yang sama juga berlaku pada tisu basah, apalagi mengingat kebanyakan tisu basah dirancang untuk bayi sehingga tidak mengandung alkohol. Bahan aktif pada tisu basah mungkin dapat membunuh bakteri, tapi tidak dengan virus.

    Oleh sebab itu, penggunaan hand sanitizer tanpa alkohol dan tisu basah dinilai kurang efektif untuk mencegah penularan COVID-19. Walau demikian, keduanya bisa menjadi alternatif apabila air bersih, sabun, dan hand sanitizer dengan alkohol tidak tersedia.

    Apakah hand sanitizer buatan sendiri bisa cegah COVID-19?

    Kabar mengenai munculnya COVID-19 sempat menimbulkan kepanikan. Banyak orang lantas berbondong-bondong membeli hand sanitizer sehingga stoknya menipis. Mereka yang kehabisan hand sanitizer akhirnya membuat sendiri produk ini dengan bahan yang tersedia.

    Hand sanitizer memang bisa dibuat sendiri, tapi Anda perlu mengukur bahan-bahannya dengan sangat teliti. Jika Anda salah mengukur, kandungan alkohol pada hand sanitizer akan turun menjadi kurang dari 60% sehingga efektivitasnya pun berkurang.

    Jenis hand sanitizer buatan sendiri mungkin efektif untuk mencegah penyakit pada situasi biasa. Namun, ketika penyakit infeksi seperti COVID-19 merebak, produk hand sanitizer yang paling sesuai untuk mencegah penularan tetaplah yang mengandung 60% alkohol atau lebih.

    COVID-19 menular lewat percikan cairan tubuh yang mengandung partikel virus. Virus biasanya memasuki tubuh saat seseorang menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor.

    Penggunaan hand sanitizer dapat mengurangi risiko seseorang terinfeksi COVID-19. Agar manfaatnya lebih optimal, pastikan Anda memilih hand sanitizer dengan kandungan yang tepat serta menggunakannya dengan cermat.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Bosan Saat Social Distancing dan Karantina di Rumah? Coba 6 Kegiatan Ini, Yuk!

    Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 210.000 kasus secara global dan menelan sekitar 8.900 korban jiwa. Di Indonesia, kasusnya sudah meningkat hingga angka 500 dan pasien yang meninggal mencapai 48 orang. Maka itu, pemerintah Indonesia mengimbau warganya untuk tetap berada di rumah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang mulai merasa jenuh dan mencari tahu kegiatan apa saja untuk mengatasi bosan saat karantina di rumah.

    Ide kegiatan seru mengatasi bosan saat karantina di rumah

    Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, apa pentingnya berdiam diri di rumah padahal tidak mengalami gejala yang berkaitan dengan COVID-19.
    Begini, tingkat penularan dan penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19, yaitu SARS-CoV-2 cukup tinggi. Para ahli pun berpendapat bahwa virus ini dapat bertahan hidup di permukaan setidaknya selama tiga hari jika tidak dibersihkan dengan desinfektan.

    Akibatnya, risiko tidak sengaja memegang benda yang terpercik air ludah pasien yang terinfeksi pun cukup tinggi. Maka itu, pemerintah di beberapa negara, termasuk Indonesia, mengimbau warganya untuk tetap berada di rumah.
    Walaupun baik untuk mengurangi penyebaran virus, tentu saja karantina di rumah akan menimbulkan rasa jenuh. Bahkan, menurut American Psychological Association, mengurangi aktivitas sehari-hari dan terus berada di rumah dapat menimbulkan stres, cemas, dan frustasi.
    Berbagai hal dilakukan untuk mengatasi kejenuhan tersebut, tetapi keinginan untuk bertemu dengan teman atau pacar, berada di luar, atau sekadar jalan-jalan tidak dapat dibendung.
    Lantas, kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah?

    1. Menghubungi teman saat karantina

    Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah adalah rutin menghubungi teman. Entah itu lewat video call atau bertukar pesan dapat dilakukan setidaknya untuk mengetahui kabar mereka.

    Interaksi langsung Anda dengan yang lain mungkin akan jauh berkurang, tetapi para psikolog menyarankan untuk menggunakan teknologi sekarang untuk mendapatkan dukungan sosial.

    Apabila Anda merasa sedih, bosan, cemas, dan frustrasi, cobalah untuk mengobrol dengan orang yang dipercaya tentang apa yang dirasakan saat ini. Anda pun dapat mencoba menggapai teman dengan situasi yang sama.

    Dengan begitu, mungkin Anda dapat mengatasi rasa bosan saat harus karantina di rumah lewat obrolan seru seputar kehidupan masing-masing yang mungkin tidak terkait dengan COVID-19.

    2. Olahraga di rumah

    Selain berkomunikasi dengan orang lain, olahraga di rumah juga dapat menjadi ide kegiatan seru untuk mengatasi bosan saat karantina. Mengapa di rumah? Pasalnya, gym atau tempat fitness langganan Anda ditutup. Agar tubuh tetap sehat dan menjadi aktivitas untuk menghabiskan waktu, olahraga di rumah dapat menjadi pilihan. Ada banyak macam olahraga yang bisa dilakukan di rumah tanpa perlu keluar ruangan, seperti yoga, lari di treadmill, atau olahraga aerobik lainnya.

    Namun, jangan lupa untuk memperhatikan kebersihan alat olahraga dan kondisi ruangan, ya. Dengan aktivitas fisik Anda dapat meningkatkan hormon endorfin dan membantu menangkal respons stres yang bisa menurunkan fungsi sistem imun. Apabila Anda merasa kesulitan untuk mulai berolahraga, silakan cari tutorialnya di YouTube atau platform lainnya yang menyediakan instruksi secara daring.

    3. Melanjutkan hobi yang tertunda

    Melanjutkan hobi yang tertunda pun dapat menjadi pilihan kegiatan yang cukup menarik untuk mengatasi rasa bosan saat harus karantina di rumah. Kata hobi terkadang terdengar remeh dan mudah diabaikan, tetapi hobi bisa menjadi salah satu cara untuk tetap terhubung dengan ambisi dan identitas diri sendiri.

    Hal ini dikarenakan menjalani hobi membutuhkan keterampilan baru, sehingga dapat mempertajam pikiran seiring dengan bertambahnya usia. Bahkan, hobi juga baik untuk kesehatan fisik dan mental Anda. Berita tentang COVID-19 dan anjuran untuk tidak bepergian tentu dapat menimbulkan stres dan jenuh, sehingga hobi bisa menjadi pelarian Anda agar tetap ‘waras’ di tengah pandemi global ini.

    Sebagai contoh, dulu mungkin Anda tidak dapat menemukan waktu yang tepat untuk melanjutkan bacaan yang tertunda. Cobalah untuk membuka kembali buku atau novel yang hanya sempat dibaca setengah. Bahkan, menulis puisi atau cerita tentang apa yang Anda dan orang sekitar alami bisa membantu mengembangkan keterampilan menulis. Atau, Anda bisa mencari kursus-kursus online tentang hal yang diminati, seperti coding, digital marketing, hingga merajut.

    4. Menonton film atau serial tv

    Apa pun yang menurut Anda tertunda karena sibuk dengan pekerjaan atau tugas sekolah ternyata bisa dilanjutkan selama wabah COVID-19 berlangsung. Ide kegiatan lainnya untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah adalah menonton film atau serial tv.

    Anda tidak perlu pergi ke bioskop untuk menonton, mengingat di sana dapat menjadi tempat yang cukup berisiko terjadnya penularan virus. Cukup dengan mencari kembali kaset-kaset film lama dan mencari situs web yang menyediakan layanan streaming film gratis atau berbayar bisa menjadi cara agar Anda tidak jenuh di rumah.

    Apabila Anda bingung, tanyakan kepada teman Anda tentang rekomendasi tontonan seru. Namun, maraton film terlalu lama dan sering pun tidak baik untuk kesehatan. Maka itu, selingi aktivitas yang satu ini dengan kegiatan lainnya yang tidak membuat Anda terlalu lama menatap layar televisi atau laptop.

    5. Keluar rumah sebentar saat karantina

    Pada saat social distancing dan karantina di rumah berlangsung, mungkin ada imbauan untuk tetap berada di rumah dan jarang bepergian, kecuali untuk urusan mendesak.

    Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk menikmati alam sebentar sebagai salah satu kegiatan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah.

    Tidak perlu jauh-jauh hingga mengunjungi rumah tetangga di ujung gang. Anda bisa berjalan-jalan di luar di bawah matahari dengan jarak yang cukup lebar antara satu dengan manusia lainnya.

    Sesekali meregangkan tubuh di lapangan pun tidak apa sambil mendapatkan asupan vitamin D dari sinar matahari. Setelah 10-20 menit dan terasa cukup berada di sekitar hijaunya pepohonan dan rumput, saatnya untuk kembali di rumah dan melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikan.

    6. Memasak

    Siapa yang tak senang makanan lezat, terlebih lagi jika Anda sendiri yang membuatnya? Memasak saat karantina di rumah ternyata bisa menjadi ide kegiatan seru untuk mengatasi rasa bosan. Selain dapat mengenyangkan perut, Anda pun tidak perlu keluar rumah untuk membeli makanan yang dapat meningkatkan risiko penularan semakin tinggi.

    Bahkan, dengan masak di rumah sendiri, Anda bisa mengontrol bahan makanan apa saja yang sehat untuk dikonsumsi bersama dengan anggota keluarga. Anda bisa mulai dengan membuat daftar masakan apa saja yang dapat dibuat selama satu minggu dengan bahan makanan yang ada di rumah. Resep sederhana pun tidak masalah, asalkan nutrisi dan vitamin harian tubuh tetap terpenuhi.

    Kegiatan untuk mengatasi rasa bosan saat karantina di rumah sebenarnya dapat Anda diskusikan dengan anggota keluarga lainnya di rumah. Selain itu, usahakan untuk tetap menjalani aktivitas harian seperti biasa agar tidak merasa bosan atau jenuh.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Apakah Vitamin Bisa Membantu Cegah Tertular COVID-19?

    Masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, dan disinfektan lainnya terlihat melayang dari rak-rak toko. Dengan semakin banyaknya kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi di Indonesia, penjualan suplemen dan vitamin ikut meroket. Masyarakat berharap dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen dapat cegah penularan COVID-19 dan membantu mereka terhindar dari si virus.

    Mereka membeli dan menyetok suplemen vitamin C. Karena memang sudah menjadi sifat alami manusia mencari bantuan tambahan untuk melindungi dirinya dari suatu bahaya. Namun, apakah dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen adalah cara terbaik untuk membantu cegah tertular COVID-19? Berikut ulasannya.

    Apakah Pil Vitamin Bisa Cegah Tertular COVID-19?

    Dilansir Insider, Dr. Caroline Apovian, Direktur Nutrition and Weight Management Center Boston Medical Center mengatakan mengkonsumsi pil suplemen atau pil vitamin bukan cara terbaik cegah COVID-19.“Jauh lebih penting untuk mencuci tangan daripada mengambil tablet hisap zinc,” kata Apovian.

    Belum ada penelitian yang berhasil menemukan bukti kuat bahwa vitamin dan suplemen memiliki manfaat yang signifikan. Sangat sedikit bukti bahwa suplemen dan vitamin pil dapat memberikan kekebalan terhadap SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

    Reputasinya sebagai sebagai penambah imun sangat popular membuat banyak dari kita biasanya mengkonsumsi vitamin C saat terkena flu. Tapi faktanya, tidak mungkin untuk membantu orang melawan COVID-19. Kecuali untuk orang yang memiliki kurang gizi, para ahli mengatakan vitamin ataupun suplemen pil tidak mencegah seseorang jadi tidak sakit jika bersentuhan dengan patogen seperti COVID-19.

    “Saya berpikir mengonsumsi vitamin bisa jadi pilihan baik. Tapi yang jelas ini tidak akan mencegah COVID-19,” ujar Apovian memastikan penambahan multivitamin baik bagi mereka yang kekurangan gizi. Apovian mengingatkan bahwa jangan sampai konsumsi vitamin membuat seseorang malah melupakan cara pencegahan COVID-19 lainnya.

    Ada sejumlah cara tindakan pencegahan yang bisa diambil untuk cegah risiko terinfeksi COVID-19 selain dengan mengkonsumsi vitamin. Seperti sering mencuci tangan dengan sabun, hindari menyentuh wajah, dan menjaga jarak sosial. “Orang-orang tidak dapat mengonsumsi suplemen dan berpikir bahwa mereka kebal dan tidak memerlukan tindakan pencegahan lain,” terang Apovian.

    Beberapa suplemen dapat memberikan sedikit manfaat meski seringkali suplemen atau vitamin semacam itu dijual dengan harga mahal. Apovian menyarankan daripada untuk membeli suplemen atau vitamin lebih baik untuk menghemat uang.

    Konsumsi pil vitamin dan suplemen tidak beri manfaat signifikan

    Dengan semakin meningkatnya angka kasus positif COVID-19 di Indonesia tentu saja kita mencari cara untuk tetap sehat dan mengkonsumsi vitamin dengan jumlah banyak. Padahal terlalu banyak mengkonsumsi vitamin ataupun pil suplemen tidak terlalu membantu meningkatkan sistem imun tubuh. Malah jika berlebihan bisa berakibat buruk bagi kesehatan.

    Vitamin C misalnya adalah vitamin yang larut dalam air. Jika Anda mengkonsumsi lebih dari yang dapat disimpan tubuh Anda, maka vitamin C hanya dibuang melalui urin dan dibuang di toilet. Terlebih lagi, mengonsumsi terlalu banyak vitamin C juga dapat menyebabkan diare dan mual.

    Bukannya cegah infeksi malah diare, tentunya anda tidak ingin mengalami diare karena mengkonsumsi vitamin berlebihan, apalagi dalam kondisi ancaman COVID-19 seperti sekarang.

    Dalam beberapa kasus, vitamin dosis tinggi bisa berakibat buruk bagi kesehatan Anda.

    Peneliti Johns Hopkins, Edgar Miller, M.D. dan Lawrence Appel, M.D. menganalisis bukti baru yang menemukan bahwa multivitamin harian tidak efektif mencegah kanker, penyakit jantung, dan demensia. Hasil ini, dalam konteks penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa suplemen beta-karoten dan vitamin E dosis tinggi sebenarnya bisa berbahaya.

    “Kebanyakan suplemen tidak mencegah penyakit kronis atau kematian, penggunaannya tidak dibenarkan, dan mereka harus dihindari,” tulis Dr Appel dalam penelitian tersebut.

    Beberapa multivitamin memiliki sedikit manfaat, beberapa tidak memiliki manfaat tapi tidak berbahaya, tapi ada yang tidak memiliki manfaat dan berbahaya.

    Dilansir dari halaman website John Hopkins Medicine, Dr. Appel menemukan bahwa vitamin E bisa berbahaya dalam dosis besar dan beta-karoten sebenarnya dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru pada perokok.

    Untuk meningkatkan sistem imun tubuh disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat seimbang yang mencakup semua nutrisi penting dan tidur yang cukup. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur dapat menurunkan kekebalan tubuh.

  • Ibuprofen Bisa Perburuk Efek COVID-19, WHO Tak Sarankan Penggunaannya

    WHO mengumumkan untuk menghindari penggunaan ibuprofen untuk penanganan gejala pada pasien infeksi SARS-CoV-2. Hal ini dilakukan setelah Prancis memberikan memperingatkan bahwa obat anti-inflamasi seperti ibuprofen bisa memperburuk efek COVID-19.

    Terkait imbauan ini, juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan bahwa para pakar kesehatan PBB sedang menyelidiki hal ini untuk kemudian membentuk panduan lebih lanjut.

    “Sementara (penyelidikan berjalan), kami merekomendasikan penggunaan parasetamol, dan jangan menggunakan ibuprofen sebagai pilihan pengobatan mandiri. Itu penting,” katanya.

    Hanya saja, Lindmeier menambahkan jika ibuprofen telah diresepkan oleh para profesional kesehatan, maka itu diserahkan pada keputusan dokternya.

    Parasetamol dan ibuprofen dapat menurunkan suhu dan membantu gejala seperti flu. Tetapi kenapa ibuprofen dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID) tidak cocok untuk penanganan gejala pada pasien positif COVID-19?

    Peringatan bahwa ibuprofen bisa memperburuk efek COVID-19

    Sebelum peringatan WHO, Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran baru-baru ini memerintahkan tenaga kesehatannya untuk menghindari penggunaan ibuprofen untuk menangani pasien COVID-19.

    Veran memperingatkan penggunaan ibuprofen dan obat anti-inflamasi serupa bisa menjadi faktor yang memberatkan pada pasien yang terinfeksi COVID-19. Menurutnya obat anti-inflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk gejala penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.

    “Dalam kasus demam, minum parasetamol,” kata Veran dalam cuitan di akun Twitter-nya. Veran menekankan bahwa pasien yang sudah dirawat dengan obat anti-inflamasi harus meminta nasihat dari dokter mereka.

    Peringatan Veran ini mengikuti sebuah studi dalam jurnal The Lancet yang berhipotesis bahwa suatu enzim yang dikuatkan oleh obat anti-inflamsi seperti ibuprofen dapat memperburuk efek dan infeksi COVID-19.

    Website The National Health Service (NHS) Inggris yang sebelumnya merekomendasikan penggunaan parasetamol dan ibuprofen mengatakan untuk sementara menggunakan parasetamol daripada ibuprofen.

    “Saat ini tidak ada bukti kuat bahwa ibuprofen dapat memperburuk coronavirus (Covid-19) …. sampai kami memiliki informasi lebih lanjut, gunakan parasetamol untuk mengobati gejala-gejala coronavirus. Kecuali jika dokter memberi tahu parasetamol tidak cocok untuk Anda,” tulisnya.

    Pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi lebih dari 210.000 orang di seluruh dunia hanya menyebabkan gejala ringan pada kebanyakan orang. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan pneumonia atau penyakit parah yang menyebabkan kegagalan pada beberapa organ.

    Efek ibuprofen yang dapat perburuk kondisi pasien COVID-19Efek ibuprofen yang dapat perburuk kondisi pasien COVID-19

    Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apakah ibuprofen memiliki efek khusus pada tingkat keparahan gejala pasien COVID-19. Baik itu pada pasien yang sehat atau pada pasien yang memiliki penyakit penyerta.

    Meski begitu Dr. Charlotte Warren-Gash dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan sebelum adanya kejelasan lebih baik menghindari penggunaan ibuprofen.

    “Terutama untuk pasien yang rentan, tampaknya masuk akal untuk menggunakan parasetamol (daripada ibuprofen) sebagai pilihan pertama,” katanya seperti dikutip dari BBC London.

    Dr. Warren-Gash mengatakan bahwa ada beberapa bukti yang menghubungkan ibuprofen dan beberapa penyakit infeksi pernapasan yang semakin parah. Walaupun belum benar-benar terbukti ibuprofen satu-satunya penyebab.

    Paul Little, seorang profesor peneliti primary care research di University of Southampton mengatakan bahwa beberapa ahli percaya sifat anti-inflamasi ibuprofen dapat melemahkan respons kekebalan tubuh.

    Prof. Parastou Donyai dari University of Reading mengatakan, “Ada banyak penelitian yang mengatakan penggunaan ibuprofen selama infeksi pernapasan dapat mengakibatkan memburuknya penyakit atau komplikasi lainnya.”

    “Tapi, saya belum melihat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ibuprofen memberikan efek tambahan dan risiko komplikasi pada pasien COVID-19 usia 25 tahun dan tanpa penyakit penyerta,” tuturnya.

    Fungsi ibuprofen

    Ibuprofen termasuk obat tanpa resep dokter yang paling banyak digunakan sama seperti parasetamol dan aspirin.

    Ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit harian untuk berbagai sakit dan nyeri, termasuk sakit punggung, kepala, gigi, dan nyeri haid. Ini juga mengobati peradangan seperti keseleo dan rasa sakit akibat radang sendi.

    Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan sirup untuk diminum ada juga dalam bentuk gel dan semprot untuk penggunaan luar. Ibuprofen yang tergolong dalam obat anti-inflamasi nonsteroid ini bekerja dengan cara yang berbeda dengan obat analgesik lainnya.

    Ketika seseorang merasakan sakit, nyeri, atau mengalami peradangan, maka tubuh akan secara alami menghasilkan zat kimiawi yang disebut dengan prostaglandin. Sementara, ibuprofen mempunyai kemampuan untuk menghentikan prostaglandin dihasilkan oleh tubuh, sehingga rasa nyeri pun hilang.

    Anda dapat membeli sebagian besar jenis ibuprofen dari apotek dan supermarket tanpa resep dokter. Ada beberapa jenis yang harus dengan resep dokter. Walau bisa dibeli tanpa resep dokter, untuk mengonsumsi ibuprofen anda perlu memperhatikan beberapa efek sampingnya.

  • Mencuci Tangan Memang Baik, Tapi Ini Akibatnya Bila Terlalu Sering Dilakukan

    Mencuci tangan bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit berbahaya. Namun, terlalu sering mencuci tangan ternyata juga tidak baik bagi kesehatan. Alih-alih melindungi tubuh dari serangan penyakit, kebiasaan mencuci tangan secara berlebihan justru akan meningkatkan risiko masalah kesehatan lain.

    Terlalu sering mencuci tangan ada akibatnya

    Melansir Mayo Clinic, ada saat-saat wajib mencuci tangan. Di antaranya sebelum makan, saat menyiapkan makanan, merawat luka, menggunakan dan melepas lensa kontak, serta saat tangan tampak kotor.

    Cuci tangan juga diperlukan setelah menggunakan toilet, batuk, bersin, mengganti popok, merawat orang sakit, dan menyentuh hewan peliharaan. Meski boleh dilakukan setiap hari, ingatlah untuk tidak berlebihan mencuci tangan agar tidak memicu efek samping berikut.

    1. Membuat lebih mudah sakit

    Terlalu sering mencuci tangan bisa mengacaukan keseimbangan bakteri dalam tubuh. Menurut Samer Blackmon, M.D., dokter spesialis penyakit dalam di Amerika Serikat, kegiatan ini justru akan membunuh bakteri bermanfaat yang membangun sistem kekebalan tubuh.

    Saat masih kecil, tubuh terpapar oleh beragam bakteri, virus, dan parasit. Hal ini sebenarnya bermanfaat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Jika tidak pernah terpapar, sistem kekebalan tubuh tidak bisa melawan bibit penyakit tersebut.

    Hal ini disebabkan karena sistem kekebalan tubuh tidak pernah mengenal mikroba penyebab penyakit paling umum sekalipun. Tanpa mikroba tersebut, sel-sel kekebalan tubuh tidak bisa membuat antibodi ataupun mekanisme pertahanan lainnya.

    Sejumlah ahli meyakini bahwa kondisi ini membuat lebih mudah sakit. Terutama bila kebiasaan terlalu sering mencuci tangan sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Itulah sebabnya disarankan untuk mencuci tangan seperlunya.

    2. Meningkatkan risiko terkena alergi

    Selain bakteri, virus, dan parasit, tubuh juga terpapar berbagai pemicu alergi atau alergen sejak masa kanak-kanak. Paparan ini bermanfaat agar sistem kekebalan tubuh beradaptasi dengan alergen dan tidak menganggapnya sebagai bahaya.

    Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat asing yang sebenarnya tidak berbahaya. Reaksi berlebihan tersebut bisa menyebabkan gatal, peradangan, gejala sinus, serta gangguan pernapasan dan pencernaan.

    Bila terlalu sering mencuci tangan, tubuh tidak berkesempatan ‘mengenal’ zat asing yang berpotensi menyebabkan alergi di kemudian hari. Sementara itu, orang yang tumbuh besar dengan terpapar alergen justru berisiko lebih kecil terkena alergi.

    3. Meningkatkan risiko iritasi dan penyakit kulit

    Bahan-bahan kimia dalam sabun cuci tangan dan alkohol dalam hand sanitizer dapat menyebabkan iritasi jika terlalu sering digunakan. Kulit yang terpapar bahan-bahan ini secara berlebihan cenderung menjadi kering, pecah-pecah, bahkan berdarah.

    Begitu kulit menjadi pecah-pecah, bakteri bisa memasuki tubuh dengan mudah melalui celah yang terbentuk. Kondisi ini dapat mengakibatkan infeksi yang ditandai dengan rasa gatal, kemerahan, hingga munculnya nanah.

    Pada beberapa orang, terlalu sering mencuci tangan bahkan dapat memicu eksim dan memperparah gejalanya. Eksim tidak bisa disembuhkan, tapi gejalanya dapat dikontrol melalui pengobatan.

    Beberapa jenis penyakit berawal dari tangan yang kotor, dan inilah alasan mengapa cuci tangan begitu penting. Meski demikian, pastikan tidak melakukannya secara berlebihan guna mencegah efek samping yang tidak diharapkan.

     

    Sumber: hellosehat.com