Tag: coronavirus

  • Tips Berbelanja Bahan Makanan Selama Pandemi COVID-19

    Di tengah wabah virus Corona, Anda dianjurkan untuk melakukan physical distancing dengan tidak keluar rumah, kecuali untuk hal yang penting, misalnya berbelanja bahan makanan. Namun, hal ini juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Simak tips berbelanja bahan makanan selama pandemi COVID-19 berikut ini.

    Sejak pemerintah memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hampir seluruh aktivitas bekerja, belajar, dan beribadah dilakukan di rumah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus Corona.

    Meski demikian, tempat penjualan kebutuhan pokok, seperti pasar, supermarket, minimarket, dan toko bahan pangan, tetap diizinkan untuk beroperasi selama pandemi COVID-19. Masyarakat juga masih diperbolehkan untuk pergi ke tempat-tempat tersebut untuk membeli persediaan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari.

    Meski begitu, Anda perlu tetap waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan COVID-19 agar tidak tertular virus Corona saat berbelanja.

    Tips Berbelanja Bahan Makanan dengan Aman

    Untuk mencegah penularan virus Corona, berikut ini adalah tips berbelanja bahan makanan selama pandemi COVID-19:

    1. Pastikan diri sendiri sehat

    Sebelum pergi ke luar rumah untuk berbelanja bahan makanan, pastikan diri Anda dalam keadaan sehat. Jika Anda menderita gejala COVID-19, yaitu demam, batuk, pilek, atau sesak napas, disarankan untuk tidak keluar rumah dan menjalani isolasi mandiri.

    Untuk berbelanja bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari, gunakanlah aplikasi belanja online atau layanan pesan antar. Selain praktis, cara ini dapat meminimalkan kontak dengan orang banyak sehingga mengurangi risiko Anda tertular atau menularkan virus Corona.

    2. Hindari berbelanja di jam sibuk

    Hindari berbelanja pada jam sibuk untuk menghindari keramaian. Dengan begitu, risiko Anda untuk terpapar virus Corona dari orang lain juga akan lebih rendah.

    Anda bisa berbelanja pada pagi hari ketika supermarket baru saja buka atau pada malam hari menjelang supermarket tutup. Bila Anda berbelanja di pasar tradisional, hindari berbelanja di pagi hari karena cenderung lebih ramai.

    3. Kenakan masker saat keluar rumah

    Saat bepergian keluar rumah untuk berbelanja, jangan lupa untuk mengenakan masker. Bila Anda dalam keadaan sehat, kenakanlah masker kain. Namun, bila Anda sedang sakit dan terpaksa harus keluar rumah, kenakan masker bedah. Pastikan masker yang Anda gunakan dapat menutupi hidung dan mulut Anda dengan sempurna.

    Hindari menyentuh wajah dan bagian dalam masker karena dapat membuat masker terkontaminasi kuman dari tangan.

    Jika ingin memperbaiki posisi masker, cuci tangan terlebih dahulu atau gunakan hand sanitizer, lalu perbaiki posisi masker dengan mengencangkan ikatan tali masker atau memperbaiki posisi tali pengait masker di telinga.

    4. Bawalah selalu hand sanitizer

    Anda bisa menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan pegangan troli atau keranjang belanja yang sering dipegang oleh orang lain. Pilihlah hand sanitizer yang mengandung alkohol dengan kadar minimal 60%.

    5. Jagalah jarak dengan orang lain

    Saat keluar rumah, penting untuk selalu menerapkan physical distancing di mana pun Anda berada, termasuk saat berbelanja. Usahakan untuk selalu menjaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang lain, baik itu penjual, petugas supermarket, maupun sesama pembeli.

    6. Stok bahan makanan

    Agar Anda tidak perlu terlalu sering keluar rumah, belilah bahan makanan yang cukup untuk dikonsumsi selama 1–2 minggu. Supaya tidak lupa, catat dulu bahan makanan apa saja yang diperlukan dan berapa banyak yang hendak dibeli.

    Hindari panic buying atau membeli barang-barang secara berlebihan karena dapat menghabiskan stok persediaan kebutuhan sehari-hari di pasaran, sehingga orang lain yang membutuhkannya jadi tidak kebagian.

    Saat memilih makanan, pilihlah makanan yang sehat dan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh tetap kuat, seperti buah dan sayuran, telur, ikan, daging, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Anda juga dapat membeli suplemen vitamin dan mineral jika memang asupan nutrisi dari makanan saja dirasa tidak cukup.

    7. Pilih metode pembayaran nontunai (cashless)

    Jika memungkinkan, gunakan metode nontunai atau cashless untuk membayar belanjaan selama pandemi    COVID-19. Hindari membayar bahan makanan dengan uang tunai, kartu debit, atau kartu kredit karena berpotensi menularkan kuman, termasuk virus Corona.

    Jika Anda terpaksa menggunakan uang tunai atau kartu untuk membayar, segera bersihkan tangan dengan hand sanitizer setelah menerima uang kembalian atau memencet tombol di mesin EDC. Ingat, jangan menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci.

    Tips Membersihkan Bahan Makanan yang Baru Dibeli

    Hingga saat ini, belum ada bukti atau penelitian yang menyebutkan bahwa virus Corona dapat menular melalui makanan.

    Meski demikian, virus Corona diketahui dapat bertahan hidup selama beberapa jam hingga beberapa hari di permukaan benda, termasuk kemasan makanan. Lamanya virus Corona bertahan di permukaan suatu benda tergantung pada bahan benda tersebut, serta suhu dan kelembapan udara di sekitarnya.

    Jika Anda merasa bahwa makanan atau kemasan bahan makanan yang telah dibeli berisiko terkontaminasi virus Corona, lakukan beberapa tips berikut ini:

    Cuci tangan setelah berbelanja

    Cucilah tangan Anda dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik setelah memegang kemasan bahan makanan, sebelum mengeluarkan bahan makanan dari kemasan, sebelum memasak, dan sebelum makan.

    Bersihkan bahan makanan yang baru dibeli

    Untuk membersihkan kemasan bahan makanan, Anda dapat menggunakan hand sanitizer, alkohol, atau tisu basah dengan bahan antibakteri.

    Sedangkan untuk membersihkan sayur dan buah, Anda dapat mencucinya dengan air mengalir dan sabun khusus untuk makanan selama kurang lebih 20 detik. Hindari mencuci bahan makanan dengan detergen atau disinfektan, karena produk pembersih tersebut bisa berbahaya jika tertelan.

    Setelah itu, buang kantung plastik yang digunakan untuk membawa belanjaan dan bersihkan meja atau tempat lain di mana barang belanjaan diletakkan sebelumnya.

    Olah bahan makanan hingga matang sepenuhnya

    Agar lebih aman dikonsumsi, bahan makanan sebaiknya dimasak dulu hingga benar-benar matang. Pastikan juga bahan makanan tersebut sudah dicuci hingga bersih sebelum dimasak.

    Berbelanja bahan makanan selama pandemi COVID-19 perlu dilakukan secara lebih berhati-hati agar Anda tidak terpapar virus Corona dan bahan makanan yang Anda beli juga tidak terkontaminasi oleh virus ini.

    Jika Anda mengalami gejala COVID-19, terutama bila dalam 14 hari terakhir Anda sempat berdekatan dengan orang yang positif terinfeksi virus Corona atau berada di daerah endemik COVID-19, segeralah lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

    Selain itu, Anda juga bisa mencoba fitur Cek Risiko Infeksi Virus Corona yang disediakan secara gratis oleh Alodokter untuk mengetahui besarnya risiko Anda telah terinfeksi virus Corona.

    Bila Anda memiliki pertanyaan terkait infeksi virus Corona, baik mengenai gejala maupun langkah pencegahan COVID-19, jangan ragu untuk chat dokter langsung di aplikasi Alodokter. Anda juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi ini.

     

    Sumber: alodokter.com

  • Sambut Ramadan di Tengah Pandemi COVID-19 dengan Tips Sehat dan Produktif Ini

    Ibadah puasa di tengah pandemi COVID-19 bisa jadi sebuah tantangan baru bagi yang menjalaninya. Kendati akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Ramadan tetap bisa kamu lalui dengan hikmat, kok, apalagi jika menerapkan tips-tips sehat dan produktif di bawah ini.

    Bulan puasa merupakan momen untuk memperbanyak ibadah dan silaturahmi, mulai dari sebelum matahari terbit hingga terbenam, maupun setelahnya. Kesehatan tubuh selama berpuasa sebulan penuh harus lebih dijaga agar ibadah ini bisa lancar, apalagi di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang.

    Hingga kini, sudah tercatat lebih dari 2 juta orang yang terinfeksi virus Corona di seluruh dunia. Virus yang menyerang sistem pernapasan ini memang sangat cepat menyebar dan mudah menimbulkan infeksi, khususnya pada orang yang daya tahan tubuhnya lemah.

    Oleh karena itu, meski sedang fokus beribadah, kamu tidak boleh mengabaikan tindakan pencegahan penularan virus Corona. Selain itu, jaga juga daya tahan tubuh dan kesehatanmu selama berpuasa.

    Nah, agar tetap sehat dan produktif selama menjalani ibadah puasa di tengah pandemi COVID-19, terapkanlah beberapa tips berikut ini:

    1. Penuhi kebutuhan nutrisi dan cairan

    Saat berpuasa, kamu dilarang makan dan minum mulai dari subuh hingga isya. Agar tidak kekurangan energi serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, kamu perlu mengonsumsi makanan bergizi saat sahur maupun berbuka.

    Lengkapilah menu sahur dan buka puasamu dengan makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks sebagai sumber energi, protein yang dapat menjaga daya tahan tubuh, dan serat untuk melancarkan pencernaan. Selain itu, tetap minum air putih yang cukup, mulai dari berbuka puasa hingga sebelum sahur, agar tubuhmu tidak kekurangan cairan (dehidrasi).

    Walaupun menggiurkan, kurangi konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, seperti makanan cepat saji (fast food), gorengan, dan makanan yang banyak mengandung gula. Kurangi juga konsumsi minuman yang manis serta minuman berkafein, seperti teh dan kopi, karena dapat memicu dehidrasi.

    2. Tetap aktif dan rutin olahraga

    Wajar bila kamu merasa lebih lemas dan lesu ketika berpuasa. Namun, ini bukan berarti puasa bisa menjadi alasan bagimu untuk bermalas-malasan sepanjang hari, ya. Meski sedang berpuasa, kamu harus tetap aktif bergerak dan berolahraga secara rutin.

    Lakukanlah olahraga 3–5 kali seminggu dengan durasi 15–30 menit. Pilih olahraga yang ringan dan tidak mengeluarkan terlalu banyak keringat, misalnya sit-up, yoga dengan gerakan yang santai, atau angkat beban ringan di rumah.

    Kalau kamu mau, berjalan santai di sekitar perumahan juga boleh, kok. Tapi kamu harus ingat, tetap terapkan physical distancing alias menjaga jarak dengan orang lain paling tidak 1–2 meter.

    Kalau daerah di sekitar rumahmu ramai, sebaiknya jangan dulu keluar rumah. Kamu bisa berjalan kaki di dalam rumahmu, mulai dari halaman depan rumah, teras, ruang tamu, lalu ke dapur. Bila rumahmu memiliki dua lantai, kamu juga bisa naik turun tangga. Jangan dianggap remeh, ini juga termasuk olahraga, lho.

    3. Jalani ibadah di rumah

    Ramadan memang erat dengan ibadah bersama di masjid. Namun, demi memutus rantai penularan COVID-19, di bulan Ramadan kali ini kamu dianjurkan untuk tetap menerapkan physical distancing. Jadi, sebaiknya kamu beribadah di rumah saja.

    Walaupun di rumah, kamu tetap bisa melakukan ibadah salat tarawih berjamaah dengan keluargamu, kok. Kamu juga bisa mengaji dan mendengarkan ceramah dari TV atau radio bersama-sama. Dengan begitu, kamu bisa makin dekat dengan keluarga, kan?

    4. Silaturahmi dengan cara lain

    Bulan puasa juga merupakan momen yang tak lepas dari kegiatan silaturahmi. Namun, di tengah merebaknya virus Corona seperti sekarang, lebih baik kamu menunda dulu berkumpul dengan sanak saudara atau kerabat secara langsung untuk mengurangi risiko penyebaran virus ini.

    Tapi, jangan sedih dulu. Dengan memanfaatkan telepon, gadget, dan koneksi internet, kamu tetap bisa bersilaturahmi dengan keluarga tanpa membuat mereka maupun dirimu sendiri berisiko terpapar virus Corona.

    Lagi pula, esensi dari silaturahmi tidak akan berkurang walaupun hanya melalui telepon, kok. Jika memiliki smartphone, kamu bahkan tetap bisa bertatap muka melalui video call.

    5. Istirahat yang cukup

    Selama bulan Ramadan, tidak sedikit orang yang bangun dini hari untuk melakukan salat. Banyak juga ibu rumah tangga yang bangun sangat awal untuk menyiapkan sahur. Jika kamu juga melakukannya, tetap usahakan agar waktu tidurmu tidak berkurang, ya.

    Meski terdengar sepele, cukup atau tidaknya waktu tidur dan istirahat sangat berpengaruh pada imunitas tubuh, lho. Bila kurang tidur dan banyak begadang, kamu bisa lebih mudah terinfeksi kuman penyakit, termasuk virus Corona.

    Jadi, supaya tetap sehat selama berpuasa, usahakan untuk tidur dan beristirahat yang cukup, ya. Kamu bisa mengganti waktu tidur malam yang kurang dengan tidur siang atau tidur lebih awal di malam hari.

    6. Urungkan niat untuk mudik

    Pemerintah telah memberikan imbauan untuk tidak mudik tahun ini. Tujuannya adalah agar kamu dan keluargamu tidak tertular atau tanpa sadar menularkan virus Corona dan membuat penyebarannya semakin luas.

    Mengurungkan niat untuk tidak mudik di bulan Ramadan kali ini tidak akan mengurangi kesucian bulan penuh berkah ini, kok. Kamu justru melakukan perbuatan yang baik karena melindungi keluargamu dan orang lain dari risiko terinfeksi virus Corona.

    Selain mencegah wabah COVID-19 di Indonesia semakin meluas, kamu juga jadi bisa berhemat, lho. Uang yang kamu persiapkan untuk ongkos mudik bisa kamu gunakan untuk kebutuhan lain atau mungkin bersedekah kepada orang-orang yang terkena dampak dari wabah ini.

    Kamu juga bisa menyimpan dulu uang tersebut dan menggunakannya untuk pulang kampung di lain kesempatan, ketika pandemi COVID-19 ini telah berakhir.

    Menjalani bulan Ramadan saat pandemi COVID-19 memang akan sangat berbeda dengan bulan-bulan Ramadan biasanya, terutama yang melibatkan silaturahmi dan ibadah bersama.

    Namun, perlu diingat bahwa hal ini dilakukan demi kepentingan orang banyak. Melindungi sesama pun merupakan bagian dari ibadah, kan?

    Dengan menerapkan tips-tips di atas selama bulan Ramadan yang akan segera tiba, kamu bisa tetap beribadah dengan lancar, sekaligus menjaga kesehatan dan menekan penyebaran virus Corona.

    Selain itu, jangan lupa untuk selalu melakukan tindakan pencegahan, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, mengenakan masker ketika sakit atau saat berada di luar rumah, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

    Jika kamu atau anggota keluarga di rumah mengalami gejala infeksi virus Corona, segera lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

    Bila masih memiliki pertanyaan terkait penyakit COVID-19, kamu bisa chat langsung dengan dokter melalui aplikasi ALODOKTER. Di aplikasi ini, kamu juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit.

     

    Sumber : alodokter.com

     

  • Cek Fakta: Tenggorokan Kering Jadi Risiko Terkena COVID-19?

    Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 kabarnya dapat hilang dari tenggorokan bila Anda minum cukup air. Akan tetapi, Anda tentu tidak dapat membuat tenggorokan tetap basah terutama ketika berpuasa karena Anda tidak minum selama belasan jam. Lantas, apakah tenggorokan kering membuat Anda lebih berisiko terkena COVID-19?

    Bisakah tenggorokan kering membuat Anda tertular COVID-19?

    Di tengah maraknya berita tentang pandemi COVID-19 yang simpang siur, Anda akan mudah menemukan informasi yang belum jelas kebenarannya. Salah satunya termasuk minum air putih yang disebut-sebut bisa menghilangkan SARS-CoV-2 dari tenggorokan.

    Sejumlah akun media sosial sempat menganjurkan untuk minum air putih tiap 15 menit sekali. Minum air putih dianggap bisa mencegah COVID-19 karena air dapat ‘membilas’ coronavirus pada dinding tenggorokan terutama saat kering. Padahal, faktanya tidak demikian.

    Kerongkongan berbeda dengan tenggorokan. Kerongkongan adalah jalur makanan yang menghubungkan mulut dengan lambung, sedangkan tenggorokan adalah jalur napas yang terletak di belakang mulut dan menghubungkan hidung dengan paru-paru.

    Air putih memang dapat membasahi kerongkongan yang kering, tapi tidak menghilangkan SARS-CoV-2 yang menempel pada dindingnya.

    Tak ada pula bukti ilmiah bahwa air dapat membunuh virus pada kerongkongan, sebab yang dapat membasmi virus dalam tubuh adalah sistem kekebalan tubuh atau obat antivirus.

    Selain itu, ujung kerongkongan juga berbeda dengan tenggorokan yang mengarah ke paru-paru. Walaupun kerongkongan Anda cukup lembap oleh air, virus mungkin masih menempel pada tenggorokan atau bisa jadi sudah bergerak menuju paru-paru.

    Tenggorokan lembap atapun kering sama-sama dapat terinfeksi SARS-CoV-2. Dengan kata lain, risiko penularan COVID-19 tidak ditentukan dari kondisi tenggorokan. Cara terbaik menghambat penyebaran COVID-19 adalah dengan melakukan pencegahan.

    Tenggorokan kering dan penularan COVID-19

    Tenggorokan yang kering tidak lantas membuat Anda jadi lebih berisiko tertular COVID-19. Virus SARS-CoV-2 dari lingkungan tetap bisa masuk ke dalam saluran pernapasan.

    Risiko penularan COVID-19 meningkat apabila Anda berinteraksi dengan pasien positif, bepergian ke zona merah, dan tidak menjaga kebersihan tangan. Anda pun lebih rentan tertular penyakit ini bila melakukan kontak dekat atau berjabat tangan dengan banyak orang.

    Selain itu, Anda juga berisiko tertular COVID-19 jika sering menyentuh barang-barang di sekitar dan tidak mencuci tangan setelahnya. Ini disebabkan karena SARS-CoV-2 bertahan pada barang selama beberapa jam hingga berhari-hari.

    Virus berpindah ke tangan ketika Anda menyentuh barang-barang tersebut. Kemudian, virus memasuki tubuh saat Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan menggunakan sabun dan air.

    Penularan COVID-19 terutama bila tenggorokan terasa kering bisa dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan membatasi interaksi dengan orang lain.

    Asupan cairan penting saat tenggorokan kering

    Meskipun tenggorokan yang kering saat puasa tidak berhubungan dengan penularan COVID-19, asupan cairan tetaplah penting terutama ketika Anda puasa. Pasalnya, dehidrasi dapat menimbulkan efek negatif yang mengganggu kenyamanan selama berpuasa.

    Pastikan Anda minum cukup air selama puasa. Rata-rata, tiap orang memerlukan setidaknya dua liter air dalam sehari. Anda bisa menyiasatinya dengan minum delapan gelas air yang dibagi ke dalam waktu berbuka puasa, malam hari, dan sahur.

    Minumlah tiga gelas air ketika berbuka puasa, kemudian lanjutkan dengan dua gelas air sebelum tidur. Ketika sahur, akhiri santapan Anda dengan tiga gelas air putih. Anda juga dapat mengubah kombinasinya sesuai selera dan kenyamanan.

    Selain air putih, sumber cairan juga bisa berasal dari makanan berkuah, serta sayur dan buah. Sertakan ketiganya dalam menu sahur dan berbuka puasa agar Anda memperoleh asupan cairan tambahan.

    Tenggorokan kering tidak menjadikan seseorang lebih berisiko tertular COVID-19. SARS-CoV-2 tetap dapat memasuki saluran pernapasan melalui hidung atau mulut ketika Anda terpapar virus ini.

    Tetap lindungi diri Anda dengan melakukan upaya pencegahan yang sudah disarankan. Apabila Anda merasa mengalami gejala COVID-19 seperti demam tinggi, batuk, atau sesak napas, segera periksakan diri ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Mengapa Banyak Orang Merasa Kebal dari COVID-19?

    Berbagai kebijakan telah diterapkan demi mencegah penularan COVID-19. Pemerintah beberapa kota bahkan bertindak tegas dalam membatasi kegiatan warga di wilayahnya. Namun, di tengah upaya pencegahan yang sedemikian besar, ternyata tak sedikit yang masih mengabaikan peraturan tersebut dan merasa kebal dari COVID-19.

    Orang-orang yang merasa kebal dari COVID-19 sebetulnya tidak kekurangan informasi tentang pandemi ini. Mereka sedang mengalami fenomena psikologis yang umum, tapi sering kali jarang disadari. Simak informasi berikut untuk memahami fenomena yang dimaksud serta cara mengatasinya.

    Mengapa ada orang yang mengabaikan bahaya COVID-19?

    Ada pandemi maupun tidak, perlu diakui bahwa orang-orang biasanya baru mematuhi anjuran kesehatan bila mengetahui dirinya berisiko sakit. Jika tidak, mereka cenderung bersikap seperti biasa tanpa menyadari bahaya yang mengancam.

    Akhir-akhir ini, laporan tentang pelanggaran social distancing mungkin lebih banyak diisi oleh kaum dewasa muda. Tidak heran, sebab sejak wabah coronavirus muncul pertama kali, Anda sudah diberitahu bahwa yang paling rentan tertular COVID-19 adalah lansia.

    Meskipun hal ini benar, ada dampak negatif yang ikut muncul bersamanya. Tidak sedikit orang dewasa muda yang akhirnya merasa kebal dari COVID-19 karena menganggap dirinya sangat sehat. Padahal, tidak ada satu orang pun yang kebal dari penyakit ini.

    Fenomena ini sebetulnya tidak cuma terjadi dalam pandemi. Catherine Potard, psikolog dari University of Angers, Prancis, membuat sebuah penelitian dengan rekan-rekannya. Mereka meneliti perilaku berkendara sambil mabuk pada orang dewasa muda.

    Penelitian mereka mengacu pada Teori Perilaku yang Direncanakan (TPB). Menurut teori ini, perilaku Anda bisa diprediksi dari tujuan Anda. Namun, tujuan Anda pun dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni sikap, pendapat orang lain, dan seberapa yakin Anda bisa mengontrol diri.

    Menurut Potard, teori TPB memiliki kekurangan, yakni tidak membahas risiko. Peserta penelitian Potard tahu bahayanya menyetir sambil mabuk, tapi mereka sangat percaya diri tidak akan mengalami kecelakaan. Padahal, risiko kecelakaan amat besar bila Anda menyetir sambil mabuk.

    Pada kasus pandemi COVID-19, banyak orang merasa kebal karena usianya masih muda. Sebagian besar orang dewasa muda juga tidak menderita penyakit seperti lansia sehingga menganggap dirinya ‘terlalu sehat’ untuk terjangkit COVID-19.

    Faktanya, siapa pun bisa tertular COVID-19 jika tidak melakukan upaya pencegahan. Anda bahkan dapat tertular dari pasien yang tidak menunjukkan gejala, atau melalui sentuhan dengan barang yang terkontaminasi virus.

    Cara menghadapi orang-orang yang merasa kebal dari COVID-19

    Reaktansi psikologi merupakan perilaku yang sangat umum. Anda pun mungkin saja pernah melakukannya tanpa sadar. Bahkan, perilaku seperti ini terkadang juga terlihat lucu ketika dilakukan oleh anak-anak.

    Akan tetapi, mengabaikan anjuran kesehatan di tengah pandemi justru membahayakan diri Anda dan orang-orang yang Anda sayangi. Keinginan untuk melawan aturan social distancing yang tampaknya sederhana malah bisa memperparah penyebaran wabah.

    Jika orang-orang terdekat Anda tidak mau melakukan upaya pencegahan, coba atasi dengan sering memberikan mereka informasi mengenai COVID-19. Berikan pula kabar terbaru tentang para pasien yang sakit parah dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

    Berikan informasi yang membuat mereka sadar bahwa COVID-19 mengintai semua orang. Walaupun mereka merasa sehat, tidak ada orang yang benar-benar kebal dari COVID-19.

    Anda bisa menjadi contoh yang baik dengan mencuci tangan, menjaga kesehatan, dan menerapkan social distancing. Berikan pengertian bahwa semua ini bukan hanya untuk mereka, tapi juga orang-orang yang mereka cintai.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Bahaya Menggunakan Cairan Antiseptik pada Diffuser

    Belakangan ramai soal penggunaan cairan antiseptik untuk dicampurkan pada diffuser. Sebuah video tutorial mengklaim uap diffuser yang dihasilkan dari cairan antiseptik bisa membunuh COVID-19. Padahal cairan tersebut hanya untuk kegunaan luar dan berbahaya jika terhirup dan mengenai paru-paru lewat uap yang dihasilkan diffuser.

    Bisakah cairan antiseptik digunakan untuk campuran diffuser?

    Diffuser adalah alat untuk mengubah cairan minyak esensial menjadi uap dan menyebarkannya ke udara. Partikel minyak yang telah dipecah menjadi uap tersebut akan tersebar ke udara ruangan secara merata, menjadikan udara di sekeliling menjadi terasa nyaman dan mudah untuk dihirup.

    Efek uap diffuser pada tubuh berbeda-beda tergantung campurannya saat dimasukkan ke dalam diffuser. Setiap jenis minyak esensial mengklaim memiliki kegunaannya masing-masing. Umumnya, uap yang dihasilkan dari minyak esensial tersebut akan memberikan efek rileks dan menenangkan.

    Dalam video tutorial yang beredar viral, cairan yang dimasukkan ke dalam diffuser diganti dengan antiseptik cair. Si pembuat video mencampur air mineral botolan dengan cairan antiseptik tersebut lalu mengocoknya dan memasukkan ke dalam alat diffuser.

    Tutorial tersebut tidak dianjurkan untuk ditiru karena belum terbukti kegunaannya dan malah memiliki potensi bahaya untuk tubuh.

    Cairan antiseptik bukan untuk diffuser

    Cairan antiseptik pada hampir semua merek dagang pasti memiliki label peringatan “hanya untuk pemakaian luar”. Ini karena kandungan di dalamnya bagus jika difungsikan sebagaimana mestinya tapi berbahaya jika salah penggunaan.

    Cairan antiseptik yang ditunjukkan dalam video tutorial itu memiliki tiga kandungan bahan utama yakni minyak pinus, minyak jarak dan chloroxylenol dengan persentase 4.8%.

    Minyak pinus dan minyak jarak memang cenderung aman. Namun, chloroxylenol memiliki sifat beracun. Toksisitasnya memang sangat rendah jika untuk pemakaian luar, tapi bisa berbahaya tertelan.

    Jurnal National Library of Medicine AS menyebutkan salah satu bahaya dari chloroxylenol adalah dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan.

    Bahaya pada saluran pernapasan ini bisa jadi masalah saat antiseptik yang mengandung chloroxylenol dimasukkan ke diffuser dan disebar ke udara. Cairan antiseptik yang keluar dalam bentuk uap dari diffuser bisa terhirup dan terbawa ke paru-paru.

    Dalam jurnal yang sama, studi berjudul Pulmonary aspiration following Dettol poisoning: the scope for prevention menjabarkan bahaya dengan risiko lain. Cairan antiseptik (dengan kandungan 4.9% chloroxylenol) yang tertelan oleh tubuh dapat menyebabkan:

    1. Penurunan sistem saraf pusat.
    2. Korosi pada pada selaput lendir tenggorokan, laring (bagian tenggorokan berisi pita suara), dan saluran pencernaan.

    Gunakan cairan antiseptik sebagaimana mestinya

    Sebaiknya gunakan minyak esensial untuk diffuser dan gunakan cairan antiseptik sebagaimana mestinya. Cairan antiseptik efektif membunuh kuman untuk menjaga kebersihan rumah dan tubuh bagian luar.

    Cairan antiseptik biasanya digunakan untuk membunuh kuman pada luka, perabotan rumah tangga, dan cucian kotor. Penggunaan antiseptik harus selalu memperhatikan petunjuk yang tertera dalam kemasan.

    Dalam masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat melakukan berbagai cara untuk menjaga kebersihan dari kuman dan virus. Tutorial yang berkaitan dengan kebersihan banyak bertebaran di media sosial. Intinya, carilah informasi seputar coronavirus dari sumber tepercaya.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

    Di tengah pandemi corona (COVID-19) banyak orangtua khawatir untuk melanjutkan rencana imunisasi anak. Pasalnya, mendatangi tempat-tempat umum yang padat, termasuk fasilitas kesehatan, dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19 pada anak-anak dan bayi. Namun, di saat pandemi corona, imunisasi justru memegang peranan penting dalam pengendalian kasus penyakit menular sehingga dapat mencegah munculnya wabah penyakit lain yang tidak kalah berbahaya.

    Pentingnya imunisasi saat pandemi corona

    Pada pertengahan April 2020, pandemi COVID-19 sudah mencapai lebih dari 200 negara, di Indonesia sendiri telah mencakup lebih dari 30 provinsi.

    Meski jumlah penderita dan tingkat kematian pada kelompok anak masih lebih rendah dibandingkan orang lanjut usia, anak-anak tetap rentan tertular penyakit pernapasan ini.

    Namun, bukan berarti orang tua tak meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan anak. Dalam situasi pandemi seperti ini, anak-anak tetap diharuskan untuk melanjutkan imunisasi.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong orang tua untuk tetap menjalankan imunisasi pada anak sesuai dengan usia dan jadwal yang ditentukan sebelumnya.

    Imunisasi saat pandemi corona dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terlindungi dari bahaya kesehatan penyakit menular yang bisa dicegah dengan vaksin, seperti hepatitis B, polio, dan difteri.

    Apabila sebagian besar anak di Indonesia menunda imunisasi, situasi ini bisa mengarah pada terjadinya wabah penyakit menular.

    Belum lagi, rendahnya cakupan imunisasi pada tahun 2019 di Indonesia hanya berkisar 60-70 persen turut meningkatkan potensi munculnya wabah penyakit berbahaya lain yang berlangsung setelah atau bahkan bersamaan dengan pandemi COVID-19.

    Imunisasi saat pandemi tidak menimbulkan risiko kesehatan yang disebabkan oleh efek infeksi coronavirus. Apabila dilakukan dalam prosedur medis yang tepat, imunisasi juga aman untuk dilakukan.

    Siapa yang perlu menjalankan imunisasi saat pandemi?

    Dari rekomendasi IDAI, anak-anak yang berusia 0-18 bulan diprioritaskan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap di saat pandemi corona.

    Pada awal masa kelahiran, bayi perlu sesegera mungkin memperoleh perlindungan untuk membangun kekebalan tubuh dari serangan penyakit berbahaya.

    Imunisasi di saat pandemi corona tetap perlu dilakukan mengikuti jadwal rekomendasi yang ditentukan oleh IDAI. Jadwal imunisasi dasar lengkap diatur berdasarkan perkembangan usia anak, yang meliputi:

    • Segera setelah lahir : Hepatitis B0 + OPV 0
    •  Usia 1 bulan : BCG
    •  Usia 2 bulan : Pentavalent 1 + OPV 1
    •  Usia 3 bulan : Pentavalent  2 + OPV 2
    •  Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV
    •  Usia 9 bulan : MR1
    •  Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR2

    Imunisasi Pentavalent + OPV  dapat digantikan dengan Hexavalent (Pentavalent+IPV). Selanjutnya, imunisasi dasar lengkap yang dijalani saat pandemi perlu diikuti dengan imunisasi tambahan yang mengikuti jadwal sebagai berikut:

    • Usia 2 bulan : PCV 1
    • Usia 4 bulan : PCV 2
    • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
    • Usia 7 bulan : Influenza 2
    • Usia 12-15 bulan : PCV4

    Kapan sebaiknya anak menunda imunisasi?

    Penundaan imunisasi anak di saat pandemi corona sebenarnya memang tidak dianjurkan. Namun jika Anda ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter dan petugas kesehatan. Batas waktu penundaan imunisasi yang masih ditoleransi oleh IDAI adalah 2 minggu.

    Sementara jika Anda tinggal atau berada dalam wilayah penyebaran COVID-19 yang luas, imunisasi saat pandemi bisa ditunda hingga 1 bulan.

    Namun, Anda diharapkan untuk segera membawa anak untuk melakukan imunisasi saat kondisi telah memungkinkan.

    Akan tetapi, penundaan atau pelarangan imunisasi saat pandemi corona diberlakukan untuk kelompok anak dalam kondisi kesehatan tertentu.

    Jika anak memiliki riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dan dalam kondisi sakit, maka anak termasuk pasien dalam pengawasan (PDP).

    Anak yang berstatus PDP harus menjalani karantina atau isolasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan Kementrian Kesehatan dan otomatis menunda waktu imunisasi.

    Apabila anak menunjukkan gejala lemas, napas cepat, sesak, dan demam tinggi (38 derajat Celsius atau lebih) yang berlangsung sampai 3 hari, segera bawa anak ke rumah sakit terdekat. Terlebih jika ia mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah seperti mengalami kejang dan muntah-muntah.

    Sebaliknya, apabila anak pernah berkontak dengan orang yang terinfeksi dan masih dalam keadaan sehat, ia perlu melakukan karantina secara mandiri dan imunisasi saat pandemi corona ditunda sampai 14 hari.

    Sumber : hellosehat.com

  • Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

    Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 1.400.000 kasus di seluruh dunia dan sekitar 80.000 orang meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh coronavirus SARS-CoV-2 ini menimbulkan gejala yang menyerupai flu. Namun, baru-baru ini terdengar kabar bahwa mata merah dapat menjadi gejala dari coronavirus COVID-19.

    Benarkah demikian? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

    Gejala coronavirus yang ditandai dengan mata merah

    COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia, sehingga ketika seseorang terinfeksi mereka akan menunjukkan gejala menyerupai flu. Mulai dari demam tinggi, batuk kering, hingga sesak napas.

    Pada kasus tertentu, orang yang terinfeksi coronavirus mengalami masalah pada sistem pencernaannya, seperti diare. Bahkan, tidak sedikit pasien positif COVID-19 yang tidak memiliki gejala apa pun tetapi penularan masih dapat terjadi.

    Selain itu, baru-baru ini American Academy of Ophthalmology mengumumkan bahwa mata merah dapat menjadi indikasi dari gejala coronavirus COVID-19. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

    Hal ini dibuktikan melalui penelitian dari JAMA Network. Sekitar 38 pasien COVID-19, dua belas diantaranya mengalami mata merah (konjungtivitis) dan dua pasien lainnya memiliki cairan pada mata dan hidung mereka.

    Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat konjungtiva adalah lapisan jaringan yang cukup tipis dan transparan. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi kelopak mata bagian dan dan menutupi bagian putih mata.

    Pada saat disentuh oleh tangan yang kotor dan mungkin terdapat virus di permukaannya, tidak menutup kemungkinan lapisan tersebut akan terkena iritasi dan memerah.

    Selain itu, salah satu penyebab mengapa konjungtivitis bisa terjadi adalah adanya infeksi virus yang berhubungan dengan flu atau saluran pernapasan atas.

    Artinya, virus dapat menyebar ketika seseorang menggosok mata yang terinfeksi dan menyentuh orang lain, terutama saat pemeriksaan mata.

    Walaupun jumlah kasus pasien menunjukkan gejala coronavirus dengan mata merah tidak banyak, para ahli tetap mengimbau dokter untuk tetap waspada. Mulai dari rutin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri, dan upaya mencegah penularan coronavirus.

    Ganti lensa kontak Anda dengan kacamata biasa

    Selain menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dengan rutin mencuci tangan, ternyata bagi pengguna lensa kontak dianjurkan untuk tidak menggunakannya sementara waktu.

    Anjuran untuk tidak menyentuh wajah adalah aturan yang dibuat para dokter untuk mencegah infeksi COVID-19. Apabila Anda memakai lensa kontak, kemungkinan untuk lebih sering menyentuh atau menggosok mata setiap hari dapat terjadi.

    Hal ini berlaku untuk memasukkan, melepas, dan menyimpan sesuai dengan aturan pemakaian lensa kontak. Akibatnya, mata merah yang menjadi indikasi gejala coronavirus bisa saja terjadi.

    Kebanyakan orang mungkin merasa lebih nyaman dengan penggunaan lensa kontak dibandingkan kacamata. Entah itu karena meningkatkan penampilan atau lensa kacamata yang terlalu berat.

    Padahal, ada beberapa alasan yang membuat pemakaian kacamata jauh lebih baik daripada lensa kontak, terutama saat pandemi COVID-19. Salah satu kelebihan kacamata adalah memberikan perlindungan ekstra agar Anda tidak sering menyentuh mata.

    Hal tersebut bukan berarti kacamata dapat mencegah infeksi penularan sebab belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.

    Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ketika beralih dari lensa kontak ke kacamata biasa sebagai berikut.

    • Berhenti menggunakan lensa kontak jika terasa sakit dan mata memerah.
    • Beralih ke kacamata jika sering berhubungan dengan pasien positif COVID-19.
    • Membersihkan kacamata setiap hari dengan sabun dan air selama 20 detik.
    • Jangan lupa keringkan kacamata dengan kain bebas serat agar lensa tidak tergores.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

    Dampak COVID-19 memang lebih parah pada lansia, terutama bagi mereka yang telah menderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, dan penyakit paru. Akan tetapi, tidak sedikit pula laporan kematian akibat COVID-19 pada pasien berusia 20 atau 30-an. Para ilmuwan menduga penyebab kematian COVID-19 teresbut berkaitan dengan badai sitokin.

    Sitokin merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sitokin seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada kondisi yang salah, keberadaan sitokin justru dapat membahayakan jiwa. Apa itu sitokin dan bagaimana kaitannya dengan COVID-19? Berikut penjelasan selengkapnya.

    Fungsi sitokin sebelum terjadi badai sitokin pada infeksi COVID-19

    Sistem kekebalan tubuh terdiri dari banyak komponen. Ada sel-sel darah putih, antibodi, dan sebagainya. Tiap komponen bekerja sama untuk mengenali patogen (bibit penyakit), membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

    Agar dapat menjalankan fungsinya, tiap komponen pada sistem kekebalan tubuh harus berkomunikasi antara satu sama lain. Di sinilah peran sitokin dibutuhkan. Sitokin adalah protein khusus pembawa pesan antara sel 0pada sistem kekebalan tubuh.

    Sitokin terbagi berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerjanya dalam tubuh. Ada empat macam sitokin, yakni:

    • Limfokin, diproduksi oleh sel limfosit-T. Fungsinya untuk mengarahkan respons sistem imun menuju daerah infeksi.
    • Monokin, diproduksi oleh sel monosit. Fungsinya untuk mengarahkan sel-sel neutrofil yang akan membunuh patogen.
    • Kemokin, diproduksi oleh sel sistem imun. Fungsinya untuk memicu perpindahan respons imun ke daerah infeksi.
    • Interleukin, diproduksi oleh sel darah putih. Fungsinya untuk mengatur produksi, pertumbuhan, dan pergerakan respons imun dalam reaksi peradangan.

    Ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaksi peradangan.

    Sitokin terkadang juga berikatan dengan sel darah putih lain atau bekerja sama dengan sitokin lain saat terjadi infeksi. Tujuannya tetap sama, yakni mengatur sistem kekebalan tubuh dalam membasmi patogen.

    Saat terjadi peradangan, sel-sel darah putih akan bergerak menuju darah atau jaringan yang terinfeksi untuk melindunginya dari penyakit. Pada kasus COVID-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2.

    Peradangan sebenarnya berguna untuk membunuh patogen, tapi reaksi ini juga dapat menimbulkan demam dan gejala COVID-19 lainnya. Setelah beberapa waktu, barulah peradangan mereda dan sistem imun tubuh dapat melawan virus dengan sendirinya.

    Mengenal badai sitokin pada pasien COVID-19

    Banyak pasien COVID-19 meninggal karena sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi. Virus pun memperbanyak diri dengan cepat, menyebabkan kegagalan beberapa organ sekaligus, dan akhirnya mengakibatkan kematian.

    Namun, beberapa dokter dan ilmuwan menemukan pola tidak biasa pada sejumlah pasien COVID-19. Pasien-pasien ini mengalami gejala ringan, tampak membaik, tapi selang beberapa hari, kondisi mereka menurun drastis hingga kritis atau meninggal.

    Dr. Pavan Bhatraju, dokter ICU di Harborview Medical Center Seattle, AS, menyebut hal ini dalam penelitiannya. Penurunan kondisi pasien umumnya terjadi setelah tujuh hari dan lebih banyak ditemukan pada pasien COVID-19 yang sehat dan masih muda.

    Mereka meyakini bahwa penyebabnya adalah produksi sitokin yang berlebihan. Hal ini dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin. Alih-alih melawan infeksi, kondisi ini justru dapat menyebabkan kerusakan organ dan berakibat fatal.

    Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

    Paru-paru mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Peradangan pun bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru.

    Jaringan paru-paru pun mengalami kerusakan. Kondisi pasien yang tadinya sudah baik berakhir memburuk. Dr. Bhatraju mengatakan, pasien yang awalnya hanya memerlukan sedikit oksigen bisa saja mengalami gagal napas hanya dalam waktu semalam.

    Dampak badai sitokin begitu drastis dan cepat. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas. Di sisi lain, infeksi terus bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan organ.

    Menangani badai sitokin pada pasien COVID-19

    Ada beberapa jenis obat yang dapat meredakan badai sitokin pada pasien COVID-19, salah satunya dikenal sebagai interleukin-6 inhibitors (IL-6 inhibitors). Obat ini bekerja dengan menghambat kerja sitokin yang memicu reaksi peradangan.

    Meski perlu dikaji lebih dalam, laporan dari Prancis dan Tiongkok menunjukkan bahwa IL-6 inhibitors cukup berpotensi meredakan badai sitokin.

    Pada satu kasus, seorang pasien yang sudah hampir menggunakan ventilator dapat bernapas lagi beberapa jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

    Pasien lain yang diberikan obat ini hanya sebentar menggunakan ventilator, padahal ia seharusnya memakai ventilator selama beberapa minggu. Saat ini, tugas para ilmuwan adalah memastikan bahwa IL-6 inhibitors memang efektif mengatasi badai sitokin.

    Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan melakukan upaya mencegah COVID-19. Lindungi diri Anda dengan mencuci tangan dan menjaga daya tahan tubuh.

    Hindari pula interaksi dengan orang lain guna mengurangi risiko penyebaran COVID-19 yang dapat mengakibatkan badai sitokin pada beberapa orang.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Hal-Hal yang Harus Dilakukan Ketika Merasakan Gejala COVID-19

    Virus penyebab COVID-19 hingga kini masih merebak dan kasusnya terus meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pasien COVID-19 sudah mencapai ribuan orang dan telah memakan korban hingga ratusan jiwa.

    Penyebaran yang sangat cepat dan awalnya yang sering tanpa gejala pun membuat banyak masyarakat khawatir. Lantas, bagaimana jika suatu saat seseorang merasakan gejala COVID-19, apa yang harus dilakukan?

    COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyerang pernapasan. Hampir serupa dengan flu, gejala yang ditunjukkan bisa berupa gejala ringan seperti batuk kering, dan sakit tenggorokan.

    Namun infeksi virus COVID-19 juga bisa menimbulkan gejala yang cukup berat seperti pneumonia dan sesak nafas.

    Seiring dengan bertambahnya kasus, ditemukan juga berbagai gejala lainnya yang terjadi pada beberapa orang. Gejala tersebut meliputi hilangnya indera penciuman dan diare.

    Berkurangnya fungsi indera penciuman masih lebih umum terjadi, mengingat virus bisa saja menyebabkan pilek yang membuat hidung tersumbat dan tidak bisa mencium aroma.

    Berbeda dengan gejala diare, orang-orang yang mengalaminya kebanyakan tidak segera mencari pertolongan medis karena merasa bahwa gejala tidak berhubungan dengan masalah pernapasan.

    Hal yang harus dilakukan jika Anda mengalami gejala COVID-19

    Sebenarnya, kebanyakan pasien yang terinfeksi COVID-19 hanya menunjukkan gejala ringan dan dapat melakukan perawatan sendiri di rumah tanpa bantuan medis. Gejala biasanya akan muncul dalam 2 sampai 14 hari setelah terpapar dengan virus.

    Bagi Anda yang ingin melakukan tes untuk mengetahui apakah tubuh telah terinfeksi virus, cobalah hubungi dinas kesehatan atau penyedia layanan medis yang ada di kota Anda. Bisa juga menghubungi hotline Kemenkes RI dengan nomor 021-5210411 atau 081212123119.

    Jika hasilnya negatif, kemungkinannya Anda memang tidak terinfeksi atau Anda masih berada pada tahap awal saat pengumpulan spesimen.

    Meski demikian, Anda tetap harus berhati-hati dan melakukan pencegahan. Hasil tes yang negatif tidak menutup kemungkinan Anda bisa terinfeksi virus di kemudian hari.

    Jika hasilnya positif, Anda harus segera mencari bantuan dan meminta anjuran pada dokter tentang apa saja yang harus dilakukan jika masih bisa melakukan perawatan sendiri.

    Berikut adalah beberapa di antaranya yang harus Anda lakukan ketika mulai merasakan gejala atau sudah terinfeksi COVID-19.

    Berdiam di rumah

    Untuk Anda yang mengalami gejala seperti batuk dan demam tanpa mengalami sesak nafas, Anda disarankan untuk berdiam di rumah dan tidak bepergian kecuali untuk keperluan medis seperti periksa ke dokter.

    Anda bisa melakukan penyembuhan dengan meminum obat-obatan yang akan mengurangi gejalanya.

    Bila Anda terpaksa harus pergi, usahakan untuk tidak naik kendaraan umum, lebih baik gunakan kendaraan pribadi.

    Memisahkan diri dari orang lain ketika sakit

    Lakukan isolasi diri dengan menjauh dari orang-orang di sekitar Anda. Lakukan jarak fisik minimal 1 meter. Tidurlah di kamar yang terpisah dari orang lain.

    Bila ada, gunakan kamar mandi yang berbeda. Hal ini dilakukan agar Anda tidak menularkan penyakit terutama jika Anda telah positif menderita COVID-19.

    Beritahu kepada dokter tentang keadaan Anda

    Bagi Anda yang sedang menjalani perawatan atau memiliki jadwal dengan dokter yang tidak bisa ditunda, beritahukan dahulu melalui telepon bahwa Anda mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan COVID-19 sebelum bertemu.

    Dengan informasi yang Anda berikan, dokter dan petugas kesehatan lainnya dapat melakukan persiapan terlebih dahulu.

    Gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut
    Gunakanlah masker yang bisa menutup area hidung dan mulut dengan baik bila perlu setiap saat. Masker kain sudah cukup membantu untuk menghalangi percikan dari mulut dan hidung untuk terpapar ke luar. Jika kehabisan masker, Anda bisa mengganti dengan menggunakan syal atau selendang.

    Ketika bersin atau batuk, tutupi dengan tisu lalu segera buang ke tempat sampah setelahnya. Jika tidak memiliki tisu, Anda bisa menutup hidung dan mulut menggunakan area siku. Setelah itu, cuci tangan dengan sabun atau gunakan hand sanitizer.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Ditangani Sesuai Protokol, Jenazah COVID-19 Tidak Akan Menularkan Virus

    Virus Corona telah menginfeksi ribuan orang di Indonesia. Jumlah pasien yang meninggal akibat terpapar virus ini pun terus bertambah. Ironisnya, di tengah kondisi ini justru muncul penolakan warga terhadap pemakaman jenazah penderita COVID-19.

    Berita penolakan pemakaman jenazah penderita COVID-19 di beberapa daerah marak terdengar. Penolakan tersebut kabarnya terjadi karena warga sekitar tempat pemakaman takut tertular infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan ini, padahal jika ditangani sesuai protokolnya, jenazah penderita COVID-19 tidak akan menularkan virus Corona.

    Perawatan Jenazah COVID-19 di Indonesia Sudah Sesuai Protokol

    Virus Corona memang masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari di dalam cairan tubuh, darah, dan permukaan tubuh jenazah penderita COVID-19. Namun, umumnya setelah 9 hari, virus tersebut akan mati karena tidak memiliki sel hidup sebagai inang untuk berkembang biak.

    Perlu diketahui bahwa perawatan jenazah penderita COVID-19 di Indonesia sudah diatur sesuai dengan protokol yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sehingga jenazah tersebut aman dan tidak akan menularkan virus Corona.

    Hingga kini pun tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.

    Oleh karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak melakukan aksi penolakan terhadap pemakaman jenazah penderita COVID-19, apalagi sampai membuat kerumunan orang di jalan. Kerumunan inilah yang justru berpotensi menjadi tempat penyebaran virus Corona.

    Protokol Penanganan Jenazah Penderita COVID-19

    Penularan virus Corona lebih berisiko terjadi pada petugas kesehatan atau siapa pun yang kontak langsung dengan jenazah. Oleh karena itu, keamanan dan kebersihan petugas yang menangani jenazah harus diutamakan.

    Petugas wajib melindungi diri dengan mengenakan alat pelindung diri (APD), termasuk sarung tangan, masker, dan pelindung mata saat melakukan perawatan jenazah hingga menguburnya.

    Jenazah yang dicurigai atau terbukti meninggal karena COVID-19 akan didisinfeksi oleh petugas kesehatan terlebih dahulu. Setelah itu, jenazah baru bisa dimandikan dan dibungkus kain kafan. Meski jenazah sudah didisinfeksi, petugas atau keluarga yang memandikan dan membungkus jenazah tetap harus menggunakan APD yang lengkap.

    Setelah dimandikan dan dibungkus kain kafan, jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah atau plastik yang diikat rapat dan tidak tembus air. Bila dilakukan pemetian, peti harus berbahan kayu yang kuat dengan ketebalan minimal 3 cm. Peti juga akan dipaku di beberapa tempat lalu disegel menggunakan silikon.

    Lokasi pemakaman diatur untuk berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman dan 30 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum, sehingga sumber air tidak akan terkontaminasi virus. Jenazah juga harus dikubur sedalam minimal 1,5 meter dan permukaan kubur ditutup dengan tanah setinggi 1 meter.

    Selain itu, seluruh prosesi dari perawatan jenazah hingga prosesi pemakaman juga perlu diatur secara ketat untuk tidak dikunjungi banyak orang. Pihak keluarga pun tetap harus menjaga jarak dengan jenazah maupun dengan satu sama lain untuk meminimalkan risiko penularan.

    Semua langkah-langkah perawatan hingga pemakaman jenazah penderita COVID-19 telah diatur dengan jelas dan rinci oleh pemerintah. Semua aturan ini dibuat sedemikian rupa untuk memastikan tidak adanya kemungkinan penularan dari jenazah ke orang yang masih hidup.

    Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir, apalagi sampai melarang jenazah COVID-19 dimakamkan. Perlu disadari, hal ini bisa sangat menyakitkan bagi anggota keluarga jenazah. Di masa-masa sulit seperti ini, alangkah baiknya bila kita saling membantu dan memberi dukungan, bukannya malah menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

    Penyebaran virus Corona yang perlu dikhawatirkan justru pada orang-orang yang masih melakukan aktivitas, khususnya di luar rumah dan keramaian. Agar tidak tertular COVID-19, lakukan langkah pencegahan dengan menerapkan physical distancing, rajin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan tidak bepergian ke luar rumah kecuali bila ada kepentingan mendesak.

    Jika kamu mengalami demam yang disertai batuk atau sesak napas, terlebih jika dalam 14 hari terakhir kamu pernah berada di daerah endemis COVID-19 atau memiliki kontak dengan orang yang terinfeksi virus Corona, lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

    Gunakan fitur cek risiko virus Corona yang disediakan gratis oleh Alodokter untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kamu telah terinfeksi virus ini. Bila memiliki pertanyaan seputar COVID-19 atau masalah kesehatan lainnya, kamu bisa chat langsung dengan dokter melalui aplikasi Alodokter.

    Jika kamu memerlukan konsultasi atau pemeriksaan langsung dari dokter, sebaiknya jangan langsung ke rumah sakit karena akan meningkatkan risiko kamu tertular virus Corona. Buatlah dulu janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Alodokter, sehingga kamu bisa diarahkan untuk menemui dokter terdekat yang dapat membantu kamu.

     

    Sumber : alodokter.com