Tag: bakteri

  • Apa Bahayanya Makan Telur Setengah Matang?

    Mengonsumsi telur setengah matang sangatlah lezat bagi sebagian orang. Bakteri Salmonella adalah bakteri berbahaya yang terkandung di telur setengah matang. Yang memungkinkan bisa mengakibatkan, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, hingga tipes.

    Agar terhindar dari resiko bahaya telur setengah matang berupa keracunan dan penyakit di atas, maka lebih baik Anda mengonsumsi telur yang benar-benar matang saja karena memasak hingga matang dapat membunuh bakteri berbahaya seperti Salmonella. Oleh sebab itu, masaklah telur hingga tekstur putih dan kuningnya benar-benar padat.

    Telur setengah matang

    Hal lain yang perlu diperhatikan untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri Salmonella dalam telur adalah segera simpan telur yang baru dibeli dalam lemari es. Dan olahlah telur tersebut dalam waktu tidak lebih dari 3 minggu.

    Selain itu, karena telur juga tinggi kandungan kolesterolnya, maka ada baiknya Anda membatasi konsumsinya, apalagi bila Anda atau keluarga pernah memiliki riwayat penyakit kolesterol tinggi dan obesitas.

    Sebagai langkah mengonsumsi telur secara sehat, Anda dapat mengolahnya dengan cara direbus tanpa garam atau diorak-arik tanpa mentega. Menggoreng telur dalam rendaman minyak dapat meningkatkan kandungan lemaknya. Untuk resep makanan yang membutuhkan telur setengah matang, seperti saus untuk salad tertentu, ingatlah untuk memilih telur yang cangkangnya telah melalui proses pasteurisasi atau produk olahan telur yang telah dipasteurisasi.

    Waktu untuk merebus telur

    Meski begitu telur setengah matang juga menyehatkan karena bagian kuning yang tidak berlebihan matangnya masih utuh semua nutrisi didalamnya. Jadi memasak telur dengan kondisi pertengahan lebih baik dan kaya nutrisi.

    Dilansir oleh Boldsky, berikut adalah manfaat dari makan telur yang tidak terlalu matang:

    Rendah kalori

    Telur rebus yang matangnya tidak berlebihan adalah sumber protein tinggi yang rendah kalori. Kandungannya hanya 78 kal, 5,3 gram lemak, serta 1,6 gram lemak jenuh. Ini jauh lebih baik ketimbang telur goring yang kalorinya mencapai 90kal, 6,83 gram lemak serta 2 gram lemak jenuh.

    Karbohidrat

    Terdapat karbohidrat dalam telur setengah matang, yang jika dibandingkan dengan masakan telur olahan lainnya akan jauh lebih tinggi kadarnya. Demikian juga vitamin, mineral dan asam aminonya.

    Vitamin A

    Dalam telur yang matangnya pas, ada 74 microgram vitamin A yang baik bagi kesehatan mata, kulit, gigi serta tulang.

    B12

    Ada pula kandungan vitamin B12 di dalam telur setengah matang, dengan jumlah 0,56 microgram. Ini adalah ¼ dari jumlah kebutuhan tubuh manusia setiap hari.

    Dengan demikian, maka konsumsi telur dalam kondisi dimasak terlebih dahulu memang penting untuk menjaga kesehatan, namun tingkat kematangan yang dianjurkan tak perlu berlebihan.

    Itulah pembahasan mengenai bahaya dan manfaat telur setengah matang. Semoga bermanfaat!

     

     

    Sumber :

    • alodokter.com
    • mediskus.com
    • merdeka.com
  • Waspada Bahaya Bakteri di Tirai Pemisah Pasien

    Rumah sakit merupakan tempat yang justru bisa jadi sarang penularan penyakit, sebab berbagai kasus penyakit hadir di sana. Meskipun rumah sakit terlihat bersih, Anda harus hati-hati dengan bakteri yang tak kasat mata. Pasalnya, gorden rumah sakit digadang-gadang bisa menularkan penyakit juga, lho! Makanya tidak boleh sembarangan pegang-pegang gorden rumah sakit.

    Sebuah studi baru mengungkap jika gorden atau tirai yang menggantung di sekitar tempat tidur pasien bisa saja penuh dengan bakteri methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Infection Control bulan Septeber lalu, menemukan jika gorden yang tergantung tersebut bisa saja penuh dengan bakteri MRSA hanya dalam waktu 14 hari. Penggantian gorden yang biasanya dilakukan 2 minggu sekali ini pun tentunya harus kembali dievaluasi.

    Hasil gambar untuk Tirai Pemisah di RS, Barang Penuh Bakteri Berbahaya

    Penelitian dilakukan dengan mengambil secara acak 10 tirai rumah sakit. Sepuluh tirai rumah sakit itu kemudian dilihat kondisinya selama beberapa hari ke depan. Hasilnya, pada hari ketiga, tirai menunjukan peningkatan kontaminasi mikroba.

    Pada hari ke-14, 5 dari 8 tirai dinyatakan positif terkontaminasi MRSA yang bisa mematikan, terutama pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya sedang melemah.

    Pada 3 minggu terakhir atau hari ke-21 pengamatan, 8 tirai semuanya melebihi tingkat kontaminasi bakteri yang diizinkan untuk sebuah rumah sakit. Dua tirai lainnya yang kebetulan posisinya bukan di kamar rawat inap masih tetap bersih dan terbilang aman di minggu ketiga.

    Tirai yang membatasi kasur pasien rawat inap inilah yang sangat mudah terkontaminasi dan menimbulkan risiko tinggi terjadinya kontaminasi bakteri. Tirai antar kasur pasien ini sering tersentuh tetapi jarang sekali diganti.

    Kevin Shek, seorang dokter di University of Manitoba, Kanada yang juga menjabat sebagai salah satu peneliti dalam studi ini mengatakan bahwa karena tingkat kontaminasi yang paling tinggi tercatat di hari ke-14, maka itu di hari ke 14 ini semua tirai ruangan pasien seharusnya dicuci atau diganti.

    Tips mengurangi penyebaran kuman saat di rumah sakit

    Ilustrasi rumah sakit

    Lantai harus bersih

    Setiap ruangan di rumah sakit rawat inap harus dibersihkan secara menyeluruh dengan pembersih yang mengandung pemutih. Ini membantu mencegah penularan infeksi.

    Bukan hanya ruangan pasien tapi area untuk yang bukan pasien seperti ruang istirahat, ruang perawat, ruang ibadah, dan lainnya harus dibersihkan setiap hari.

    Anda berhak meminta agar lantai dibersihkan setiap hari kepada petugas rumah sakit jika memang tidak dilakukan pembersihan setiap hari di ruangan Anda.

    Tetap pakai alas kaki

    Pasien rawat inap ataupun pengunjung sebaiknya selalu menggunakan sandal atau alas kaki selama di rumah sakit.

    Meskipun hanya ingin berjalan dengan tujuan yang dekat bahkan hanya beberapa langkah, sandal pun harus dipakai terlebih dahulu.

    Sebab, lantai juga bisa jadi sumber penularan bakteri. Ada banyak orang yang masuk menggunakan sepatu, dari sinilah bakteri juga bisa mengumpul di lantai dan nantinya pindah ke tirai.

    Seprai harus diganti setiap hari

    Jika tirai rumah sakit tidak diganti atau dibersihkan setiap 2 minggu sekali, jangan tambahkan lagi dengan seprai yang kotor.

    Di dalam ruangan pasien rawat inap, hukumnya wajib untuk mengganti seprai setiap hari. Jika tidak dilakukan, Anda bisa memanggil staf rumah sakit untuk menggantinya karena seprai juga bisa jadi sarang penyakit.

    Demikianlah penjelasannya, mulai sekarang berhati-hatilah jangan sembarangan menyentuh benda meskipun benda itu terlihat bersih. Jika terlanjur menyentuhnya lebih baik segera cuci tangan ya sahabat.

     

     

    Sumber :

    • republika
    • hellosehat
    • sains.kompas
  • Dampak Yang Terjadi Bila Terinfeksi Bakteri E. Coli Dan Cara Mencegahnya

    E. coli adalah bakteri yang umum ditemukan di dalam usus manusia. Bakteri ini terdiri beberapa jenis dan sebagian besar di antaranya tidak berbahaya. Itu artinya bahwa hanya segelintir jenis bakteri E. coli yang dapat merugikan kesehatan.

    Salah satu bakteri E. coli yang berbahaya adalah E. coli O157:H7. Bakteri ini bisa menyebabkan keracunan makanan dan infeksi yang cukup serius. E. coli O157:H7 dapat menghasilkan racun yang mampu merusak dinding dari usus kecil dan mengakibatkan kram perut, diare yang bercampur dengan darah, hingga muntah-muntah.

    Penyebab Terjadinya Infeksi E. coli

    Bakteri E. coli yang berbahaya, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui:

    • Makanan yang terkontaminasi. Cara yang paling umum bagi seseorang bisa terinfeksi bakteri coli adalah melalui makanan yang telah terkontaminasi bakteri ini. Misalnya, akibat mengonsumsi daging giling yang tercemar bakteri E. coli dari usus hewan ternak tersebut, meminum susu yang tidak dipasteurisasi, atau memakan sayuran mentah atau yang tidak diproses secara benar. Kontaminasi silang juga dapat mengakibatkan seseorang mengalami infeksi, khususnya jika peralatan makanan dan talenan tidak dicuci dengan benar sebelum digunakan.
    • Air yang terkontaminasi. Kotoran manusia dan binatang bisa mencemari air tanah dan juga air di permukaan. Rumah dengan sumur pribadi sangat berisiko tercemar bakteri colikarena biasanya tidak memiliki sistem pembasmi bakteri, termasuk kolam renang atau danau.
    • Kontak langsung dari orang ke orang. Orang dewasa maupun anak-anak yang lupa mencuci tangan setelah buang air besar bisa menularkan bakteri ini ketika orang tersebut menyentuh orang lain atau makanan.
    • Kontak dengan binatang. Orang-orang yang bekerja dengan binatang (misalnya di kebun binatang) atau yang sering melakukan kontak dengan hewan peliharaan, lebih berisiko terkena infeksi bakteri E. coli. Untuk itu, kebersihan harus selalu dijaga dengan sering mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan binatang tersebut.

    Pada umumnya, infeksi E. coli dapat diobati di rumah dan dapat pulih dalam hitungan hari atau satu minggu. Namun, dianjurkan untuk segera menemui dokter apabila seseorang mengalami gejala berat sebagai berikut:

    • Diare yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah lima hari pada orang dewasa, atau selama dua hari pada bayi dan anak-anak.
    • Demam disertai diare.
    • Muntah-muntah selama lebih dari 12 jam. Jika terjadi pada bayi di bawah usia tiga bulan, segera temui dokter anak.
    • Munculnya gejala dehidrasi, seperti jumlah urine menurun, merasa sangat haus, atau kesadaran menurun.
    • Tidak bisa mempertahankan cairan dalam tubuh.
    • Sakit perut tidak hilang setelah buang air besar.
    • Mengalami infeksi usus setelah berpegian ke luar negeri.
    • Tinja yang bercampur dengan nanah atau darah.

    Pencegahan Infeksi E. coli

    Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri E. coli, di antaranya:

    • Mencuci tangan setelah menyentuh binatang atau bekerja di lingkungan dengan banyak binatang.
    • Mencuci tangan hingga bersih sebelum memasak, menyajikan, atau mengonsumsi makanan.
    • Mencuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi.
    • Hindari kontaminasi silang dengan memisahkan peralatan masak dan makan yang bersih dengan yang kotor.
    • Jauhkan daging mentah dari makanan matang dan benda bersih lainnya.
    • Memasukkan makanan sisa ke lemari pendingin agar tidak terjangkit bakteri.
    • Hindari mengonsumsi susu mentah atau yang tidak dipasteurisasi.
    • Jangan menyiapkan atau memasak makanan jika Anda sedang diare.
    • Sering mencuci tangan, terutama setelah keluar dari toilet.
    • Tidak meminum air dari kolam renang.

    Nah itu lah pembahasan mengenai bakteri e. coli. Mulai dari sekarang lakukanlah cara pencegahan seperti yang disebutkan di atas ya. Jangan sampai ketidak hati-hatian kita membawa dampak yang merugikan diri sendiri.

    Semoga bermanfaat ya.

     

     

    Sumber :

    • alodokter.com
    • tipscaraterbaik.com
  • Berbahaya Bila 10 Barang Pribadi Ini Dipinjamkan Kepada Oranglain

    Kita tentu memiliki barang pribadi yang kerap digunakan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang kita meminjamkan barang-barang pribadi tersebut kepada orang lain, entah kepada kerabat maupun teman dekat.

    Hal tersebut bahkan menjadi hal yang lumrah dan sering dilakukan bagi sebagian besar dari kalian bukan? Sebaiknya mulai sekarang kalian menghentikan kebiasaan buruk tersebut ya.

    Sebuah penelitian menemukan fakta mencengangkan bahwa sejumlah tester atau sampel riasan yang disediakan untuk dicoba di toko-toko besar mengandung bakteri E.coliStaphylococcus dan Streptococcus. Bakteri yang menyebabkan gangguan pencernaan tersebut umumnya berpindah dari tangan orang yang tidak mencuci tangan setelah buang air, kemudian menyentuh sampel tersebut.

    3 Kesalahan Pria Memotong Kukunya

    Berikut ini setidaknya ada 10 barang pribadi yang sebaiknya tidak Anda pinjamkan pada orang lain:

    1. Gunting kuku

    Mungkin gunting kuku adalah benda yang seringkali digunakan bersama-sama tapi tahukah Anda ada sejumlah besar virus, bakteri dan jamur di kuku manusia.

    Oleh karena itu, benda ini sebaiknya Anda gunakan secara pribadi demi mengurangi risiko penyakit jamur dan HPV (human papillomavirus).

    2. Anting

    Kedua adalah benda khusus wanita yaitu anting, sebab ada banyak pembuluh darah di telinga.

    Itu sebabnya, sangat mudah terinfeksi penyakit yang ditularkan melalui darah hanya dengan anting teman.

    Tetapi jika Anda tetap ingin meminjam anting, sebaiknya Anda bersihkan terlebih dahulu dengan alkohol.

    3. Lipstik

    Di bawah permukaan bibir, ada pembuluh darah juga, di mana mereka masuk ke bagian wajah melalui aliran darah, bahkan mikroba.

    Virus herpes juga bisa dengan mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain ketika berbagi lipstik, meski tidak ada gejala penyakit terlihat.

    4. Pinset alis

    Jika Anda menggunakan pinset orang lain untuk mencabut beberapa helai rambut itu tidak akan menakutkan.

    Tetapi jika Anda menggunakannya untuk mencabut rambut dan keluar darah, alat ini bisa membuat penyakit serius.

    Dalam kasus ini pinset bisa membawa hepatitis C dan HIV.

    5. Deodoran

    Pada deodoran terdapat ball pada ujungnya, ball tersebut bisa membawa infeksi serius.

    Terutama jika bakteri yang muncul akibat luka kecil saat mencukur rambut ketiak.

    Deodoran yang harum hanya menutupi bau dan tidak mencegah multiplikasi bakteri.

    Karena itu, selalu pilih deodoran dengan bahan antibakteri dan jangan membaginya, bahkan dengan keluarga Anda.

    6. Sabun batang

    Mikroorganisme menutupi batang sabun setelah digunakan, tidak hanya mikroba yang berbahaya tetapi juga virus yang berbahaya.

    Bahayanya, adalah ketika sabun ini terletak di piring yang basah, karena lingkungan yang lembab akan membuat bakteri, jamur dan virus.

    7. Sisir

    Jangan meminjamkan sisir pada siapa pun, karena ini akan meningkatkan risiko penangkapan parasit seperti kutu, kudis, dan infeksi staph.

    Jika Anda berbagi sisir rambut, segera bersihkan dengan pembersih, dan cara terbaiknya adalah tidak berbagi sisir dengan orang lain.

    8. Handuk

    Handuk adalah tempat berkembang biaknya kuman, terutama ketika tergantung di kamar mandi dengan kelembapan tinggi.

    Jika handuk Anda berbau apek, itu berarti ada perkembangan jamur dan bakteri yang menyebabkan ruam, jerawat, dan konjungtivis.

    Untuk menghilangkan bahaya ini, cuci handuk Anda setelah 4-5 kali penggunaan dan biarkan selalu kering.

    9. Kuas make-up

    Hindari beberapa produk rias yang bersentuhan dengan cairan tubuh seperti air mata, mukosa hidung, air liur, atau nanah jerawat.

    Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk berbagi eyeliner, eyeshadow, maskara, concealer, makeup base, lipstik dan rouge.

    Juga sebaiknya jangan meminjamkan kuas makeup Anda atau menggunakan sampler di toko secara sembarangan.

    10. Earphone

    Terakhir adalah earphone, yang bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri di telinga.

    Jika Anda berbagi earphone bersiaplah untuk bakteri seperti streptococcus dan staphylococcus untuk masuk ke telinga dan menyebabkan infeksi, bisul, dan pustula.

    Jika Anda masih ingin berbagi aksesori ini dengan seseorang atau meminjamnya, bersihkan headphone dengan kapas yang dicelupkan ke dalam alkohol.

    Usahakan untuk selalu menghindari bertukar benda-benda pribadi yang melibatkan kontak langsung dengan kulit dan mukosa (seperti mulut dan mata), termasuk sabun batangan serta gelas atau botol minum. Sebaliknya, jika barang-barangmu terlanjur telah dipinjamkan kepada teman, usahakan cuci bersih dengan air hangat untuk membunuh kuman yang mungkin ada.

     

     

    Sumber :

    • today.line.me
    • alodokter.com
    • liputan6.com
    • kaskus.co.id
  • Waspada, Alat Medis Ini Tempat Bersarangnya Bakteri

    Siapa yang tidak kenal dengan benda yang satu ini. Stetoskop adalah alat medis aukustik yang digunakan untuk mendengarkan suara-suara yang terdapat didalam organ tubuh seseorang. Sebuah penelitian dari Swiss baru-baru ini membuktikan  stetoskop ternyata lebih terkotaminasi bakteri dibanding telapak tangan dokter.

    Para peneliti menemukan bakteri lebih banyak menutupi diafragma stetoskop (bagian yang bersentuhan dengan tubuh pasien) dibandingkan seluruh bagian tangan dokter, kecuali jari.

    Studi ini juga menemukan korelasi erat antara tingkat kontaminasi diafragma dan ujung jari dokter.  Para peneliti mengatakan tidak ada pedoman resmi yang memberitahu dokter seberapa sering mereka harus membersihkan stetoskop mereka.

    Sebuah publikasi Society for Healthcare Epidemiology di Amerika pun menemukan bahwa stetoskop yang digunakan di unit perawatan intensif (ICU) telah tercemar bakteri.

    Bakteri tersebut di antaranya termasuk Staphylococcus aureus yang bisa menyebabkan infeksi serius. Menurut betterhealth, Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang umumnya hidup di kulit atau hidung.

    “Semakin terdapat banyak bakteri di ujung jari Anda, maka semakin Anda menemukan bakteri pada membran stetoskop,” kata penulis studi sekaligus direktur pengendalian infeksi di University of Geneva Hospitals, Dr Didier Pittet.

    Dalam studi tersebut, sebanyak 71 pasien diperiksa oleh salah satu dari tiga dokter yang menggunakan sarung tangan steril, dan stetoskop steril.

    Setelah pemeriksaan, para peneliti memeriksa tingkat kontaminasi bakteri pada dua bagian stetoskop – tabung dan membran – dan empat daerah tangan dokter – belakang, ujung jari, daerah di dekat pangkal ibu jari dan daerah dekat sedikit jari.

    Para peneliti menemukan kontaminasi lebih banyak terjadi pada diafragma daripada di seluruh wilayah tangan dokter, kecuali jari. Tabung stetoskop juga menunjukkan kontaminasi lebih banyak pada punggung tangan dokter.

    “Apa yang relatif mengejutkan adalah derajat kolonisasi, yang cukup tinggi,” kata Pittet.

    Temuan mungkin memiliki implikasi untuk peraturan keselamatan pasien. Menurut Pittet, hal ini berarti stetoskop perlu dibersihkan atau “didekontaminasi ” atau “didesinfeksi” setelah digunakan.

    Pittet menambahkan saat ini tidak ada pedoman yang diakui untuk membersihkan stetoskop di dunia. Namun, dokter dapat menggunakan stetostop berbeda untuk  memeriksa pasien yang terinfeksi bakteri  dan pasien yang resisten terhadap obat.

     

    Sumber referensi :

    • whitecoathunter.com
    • himedik.com
  • Tidak Dianjurkan Mencuci Tangan dengan Sabun Antibakteri

    Aktivitas mencuci tangan menjadi hal sederhana terhindar dari penyakit. Mencuci tangan harus menggunakan sabun.

    Dilansir laman Self.com, ternyata sabun antibakteri, seperti yang mengandung triclosan, tidak lebih efektif membunuh kuman daripada sabun biasa. Menggunakan sabun antibakteri bahkan mungkin mengarah pada pengembangan bakteri yang resisten terhadap agen antimikroba produk sehingga lebih sulit untuk kuman ini di masa depan.

    Pada 2016, FDA mengeluarkan aturan di mana produk pencuci antiseptik bebas yang mengandung sebagian besar bahan aktif antibakteri, termasuk triclosan dan triclocarban, tidak lagi dapat dipasarkan ke konsumen. Produk-produk ini termasuk sabun cair, busa dan gel tangan, sabun batangan, dan sabun mandi.

    Hasil gambar untuk sabun antibakteri
    Ilustrasi gambar sabun antibakteri

    Sedangkan pembersih tangan berbasis alkohol, yang tidak membutuhkan air, adalah alternatif yang dapat diterima ketika sabun dan air tidak tersedia. Jika Anda menggunakan pembersih tangan, pastikan produk itu mengandung setidaknya 60 persen alkohol. Berikut langkah-langkah sederhana menggunakan hand sanitizer.

    1. Oleskan secukupnya produk ke telapak tangan Anda untuk membasahi tangan sepenuhnya.
    2. Gosok tangan Anda bersamaan, semua permukaan, sampai tangan Anda kering.
    3. Tisu atau handuk antimikroba adalah pilihan lain yang efektif. Sekali lagi, cari produk yang mengandung persentase alkohol yang tinggi. Namun, jika tangan Anda terlihat kotor, cuci dengan sabun dan air terlebih dulu.

    Anak-anak juga membutuhkan tangan yang bersih. Bantu anak-anak tetap sehat dengan mendorong mereka mencuci tangan dengan benar dan sering. Cuci tangan Anda dengan benar untuk memberikan contoh kepadanya bagaimana melakukannya.

    Agar tidak terburu-buru, disarankan mencuci tangan sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dua kali. Jika anak Anda tidak bisa mencapai wastafel sendirian, sediakan bangku.

    Pembersih tangan berbasis alkohol tidak masalah untuk anak-anak dan remaja, terutama ketika sabun dan air tidak tersedia. Namun, pastikan untuk mengawasi anak-anak kecil menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol. Ingatkan anak Anda untuk memastikan pembersihnya benar-benar kering sebelum ia menyentuh sesuatu. Simpan wadah dengan aman setelah digunakan.

    Kebersihan tangan sangat penting bagi anak-anak di lingkungan penitipan anak. Anak kecil yang dirawat dalam kelompok di luar rumah memiliki risiko lebih besar terkena penyakit pernapasan dan gastrointestinal, yang dapat dengan mudah menyebar ke anggota keluarga dan kontak lainnya.

    Pastikan penyedia penitipan anak Anda sering mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Tanyakan apakah anak-anak diharuskan mencuci tangan beberapa kali sehari, tidak sebelum makan. Perhatikan juga, apakah area popok dibersihkan setelah setiap penggunaan dan apakah area makan dan popok dipisahkan dengan baik.

    Cara sederhana untuk tetap sehat, tidak lain dengan mencuci tangan dan aktivitas ini tidak membutuhkan banyak waktu atau upaya, tetapi menawarkan imbalan besar dalam hal mencegah penyakit. Melakukan kebiasaan sederhana ini dapat memainkan peran utama dalam melindungi kesehatan Anda.

     

     

    Sumber : republika

  • Ternyata Inilah Cara Menghalau Bersin yang Benar

    Bersin merupakan salah satu mekanisme alami tubuh. Hanya saja, ketika itu terjadi ada banyak hal yang disebarkannya dan kita terbiasa menutup langsung dengan tangan untuk menghalangi.

    Selama bertahun-tahun, organisasi kesehatan masyarakat telah memberitahu untuk menggunakan lengan dan siku saat tidak ada alat bantu untuk menutupi bersin. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran ke udara bebas.

    Tapi, seberapa banyak dari kita yang membersihkan bagian yang digunakan untuk menutup bersin? Nyatanya, kebiasaan melakukan pembersihan lengan atau siku setelah bersin sangat jarang dilakukan, padahal itu digunakan untuk menghalau banyak kuman dan bakteri.

    Hasil gambar untuk cara menghalau bersin yang benar

    Tetesan-tetesan infeksi di udara yang kita keluarkan ke tangan dapat dengan mudah ditransmisikan ke orang lain secara langsung atau melalui permukaan tanpa sadar. Ukuran siku atau lengan baju yang lebih besar setidaknya harus memberi kesempatan lebih kecil bagi kuman terbang ke udara.

    Ada banyak bidang penelitian yang mencari cara terbaik menjauhkan kuman flu dan pilek dari orang lain (istilah umum dikenal sebagai etiket batuk). Sebenarnya ada sedikit penelitian yang mengejutkan membandingkan berbagai metode untuk menutupi batuk dan bersin.

    Studi pada 2013 dari para peneliti di University of Alberta di Kanada mencoba melakukan kajian tentang cara menutup saat bersin. Mereka merekrut sekelompok kecil orang sehat untuk batuk dalam kondisi yang berbeda.

    Para peserta mengenakan masker wajah, batuk ke lengan, batuk ke tangan, atau batuk ke tisu. Ketika sukarelawan batuk, para peneliti kemudian menggunakan laser untuk mengukur tingkat tetesan udara yang keluar dari mulut mereka.

    Tim sampai pada kesimpulan setiap metode, termasuk lengan dan masker wajah, masih meninggalkan banyak partikel aerosol kecil yang mampu menginfeksi seseorang melalui udara. Para peneliti juga mengkritik dukungan para dokter dan organisasi kesehatan masyarakat yang menutupi lengan sebagai langkah yang berguna untuk pencegahan flu.

    “Masyarakat telah mengadopsi manuver ini tanpa meminta atau menuntut bukti ilmiah,” ujar penelitian tersebut, dikutip dari Gizmodo, Senin (11/2).

    Insinyur dan salah satu penulis penelitian tersebut Jonathan Chiang menyatakan, hasil studi yang dilakukan tidak membuktikan setiap orang harus berhenti menutupi batuk atau bersin dengan tangan mereka. Sebab, menutup batuk atau bersin dengan sesuatu yang sangat padat memang bisa menahan penyebaran, namun, itu artinya orang tersebut tidak bisa bernafas.

    “Jadi mungkin batuk ke lengan Anda sedekat mungkin dengan penghalang yang solid,” ujar Chiang.

    Chiang menjelaskan, batuk ke lengan setidaknya akan membuat ukuran partikel lebih besar, karena mereka harus melalui penghalang dan terakumulasi menjadi partikel yang lebih besar. Artinya, itu akan membuat lebih sulit bagi partikel untuk melakukan perjalanan di udara dan sulit untuk orang lain menghirup partikel tersebut.

    Tetapi meskipun bersin atau batuk ke lengan bukan strategi yang sempurna, itu masih bisa ditahan ketimbang tersebar ke benda lain. Partikel-partikel itu bisa menempel pada  ponsel cerdas atau keyboard komputer. Virus flu dapat bertahan selama berjam-jam di permukaan lingkungan.

    “Cuci tanganmu, atau dalam hal ini, cuci tanganmu setelah batuk. Itu akan bermanfaat bagi semua orang di sekitar Anda. Hal lain yang dicoba dipelajari oleh penelitian kami adalah jangan memiliki rasa aman yang salah,” kata Chiang.

     

     

    Sumber : republika

  • Hati Hati Keracunan! Makanan Ini Tidak Boleh Dimakan Mentah

    Salad menjadi satu kuliner menyehatkan.

    Apalagi jika dikonsumsi di pagi hari, dijamin membuat tubuh menjadi lebih sehat.

    Sayangnya tak semua makanan bisa dimakan mentah-mentah, beberapa di antaranya harus diolah terlebih dahulu.

    Tujuannya untuk menghilangkan racun berbahaya yang berada di dalamnya.

    Inilah lima di antaranya yang harus Anda ketahui seperti yang disiarkan Medical Daily News, Selasa (22/1).

    Adonan kue

    Bulan lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS mengeluarkan peringatan penting menjelang musim liburan. Peringatan tersebut berisi larangan untuk mencicipi atau makan adonan kue mentah.

    photo

    Adonan kue yang masih mentah.

    Salah satu alasannya karena telur mentah yang biasa dicampurkan dalam adonan kue bisa mengandung bakteri salmonella. Tepung juga bisa mengandung jenis bakteri berbahaya seperti E coli. Kontaminasi ini kemungkinan disebabkan paparan kotoran hewan yang ada di dalam dan sekitar ladang gandum.

    Kentang

    Kentang mentah, terutama yang hijau atau bertunas, menghasilkan solanin. Alkaloid beracun dapat menyebabkan diare, mual, kram, dan sakit kepala. Dalam kasus yang jarang terjadi, bahkan menyebabkan efek yang mengancam jiwa, Anda sangat tidak dianjurkan untuk makan kentang yang masih hijau meskipun dimasak.

    “Selain solanin, kentang mentah mengandung pati yang tahan dicerna,” kata kepala petugas nutrisi di Terra’s Kitchen, Lisa Davis. Risikonya Anda bisa terkena masalah pencernaan yang serius.

    Singkong

    Singkong berbahaya jika dikonsumsi mentah atau setengah matang karena mengandung senyawa yang diubah menjadi hidrogen sianida dalam tubuh. Ini dapat menyebabkan gejala ekstrem, seperti pernapasan cepat, tekanan darah turun, pusing, muntah, diare, kebingungan, dan kejang-kejang.

    Ilustrasi singkong

    Standar Makanan Australia dan Selandia Baru menyarankan untuk mengupas dan mengiris singkong dan kemudian memasaknya. Caranya bisa dengan memanggang, menggoreng, dan merebus.

    Kacang merah

    “Makan kacang merah mentah dapat menyebabkan mual ekstrem, muntah parah, dan diare dari lektin yang terjadi secara alami, phytohaemagglutinin,” ujar ahli diet perusahaan di Medifast, Jennifer Christman.

    Untuk menghilangkan toksinnya, dia menjelaskan kacang perlu direndam selama lima jam. Selanjutnya, Anda harus mengalirkan air dan merebus kacang yang direndam dalam air segar selama setidaknya 30 menit. Perlu diingat, ini tidak berlaku untuk kacang merah kalengan yang hanya perlu dipanaskan.

     

     

    Sumber :

    • msn
    • republika
    • kompas
  • Cucilah Sepatu Jika Tidak Ingin Terkena Diare. Apa Hubungannya?

     

    Melepas sepatu sebelum memasuki rumah bisa jadi kebiasaan baik yang membawa manfaat bagi kesehatan anggota keluarga. Menurut ahli mikrobiologi dan spesialis penelitian di Universitas Arizona, Jonathan Sexton, terdapat ratusan ribu bakteri di setiap inci sepatu.

    Bagian sol pada sepatu menjadi area pertemuan bagi beraneka mikroba, dan saat kaki dilangkahkan itu berarti akan ada bakteri lain yang menempel di sepatu. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hampir semua sepatu dilapisi bakteri Escherichia coli (E. coli), yang ditemukan 97 persen di sol sepatu.

    Ratusan Ribu Bakteri

    Menurut ahli mikrobiologi dari Universitas Arizona, ada sekitar 421.000 bakteri di bagian luar sepatu.

    Kalau di bagian dalam sepatu biasanya ada 2.887 bakteri.

    O iya, sepatu yang baru digunakan selama dua minggu juga bisa dihinggapi 440.000 bakteri.

    Bakteri yang menempel di sepatu kita itu banyak jenisnya, misalnya Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, dan Serratia ficaria.

    Meskipun beberapa jenis E. coli tidak membahayakan manusia, namun ada beberapa yang dapat menyebabkan diare, infeksi saluran kemih, dan bahkan meningitis. “Tidak selalu ada pada setiap sepatu, hanya mayoritas, anda dapat menemukan beberapa jenis E. coli di sana,” ungkap Sexton, seperti dikutip dari laman Live Science.

    Penelitian lain juga menemukan bukti adanya Staphylococcus aureus pada sepatu. Bakteri itu menjadi penyebab infeksi kulit, dan lebih mengkhawatirkan adalah infeksi darah dan jantung.

    Sementara itu, berdasarkan penelitian terhadap 30 rumah di Houston, Texas, yang dipublikasikan pada 2014 dalam jurnal Anaerobe, bakteri Clostridium difficile (C. difficile) banyak didapati di antaranya di sepatu, selain di permukaan toilet.

    Infeksi bakteri itu dapat menyebabkan masalah usus seperti diare. Meskipun demikian, menurut Kevin Garey, penulis penelitian C. difficilepada 2014 dan profesor di University of Houston College of Pharmacy, tak perlu ada kekhawatiran berlebihan karena invasi bakteri tersebut.

    “Untuk orang yang sehat, bakteri pada sepatu mungkin tidak menimbulkan risiko atau minim risiko,” ujar Kevin Garey.

    Biasanya, orang sehat perlu kontak dengan ribuan mikroba dari satu jenis yang berbahaya hingga benar-benar terinfeksi.

    Namun, anak kecil dan seseorang yang baru saja dirawat di rumah sakit berisiko terkena infeksi bakteri berbahaya. Untuk itu, ujarnya, ada baiknya melepaskan sepatu di luar sebelum masuk rumah.

     

     

    Sumber :

    • republika.co.id
    • bobo.grid.id
  • Hati-hati Mandi dengan Shower, Shower Berpotensi Menjadi Sarang Bakteri

    Mandi di bawah guyuran air yang dipancarkan shower akan membersihkan keringat dan kotoran yang menempel di tubuh. Tapi sadarkah Anda kepala shower rupanya adalah tempat bersarangnya bakteri? Bakteri menyukai kepala shower lantaran lingkungan yang hangat dan basah.

    Bakteri bisa terdapat di mana saja, bahkan di tempat-tempat atau hal-hal yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan. Dan masih menurut penelitian terbaru, bakteri dapat berkumpul di topi mandi Anda.

    Hasil gambar untuk shower kamar mandi
    Shower

    Untuk mencari tahu lebih jauh mengenai bakteri tersebut, para peneliti dari University of Colorado Boulder mengumpulkan sampel. Sampel diperoleh dari 656 rumah tangga yang tersebar di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Setelah diteliti, kepala shower memang dipenuhi bakteri namun kebanyakan tidak menyebarkan penyakit.

    Akan tetapi, tim peneliti juga menemukan jejak nontuberculous mycrobacteria (NTM) di sampel yang berasal dari AS. NTM umumnya ditemui di California Selatan, Florida, dan New York. Area-area tersebut adalah area yang dilaporkan mengalami penyakit paru-paru lebih tinggi ketimbang yang lain.

    Para peneliti meyakini tingginya angka penyakit paru-paru diakibatkan bakteri yang bersarang di shower. Menurut Asosiasi Paru-Paru Amerika, gejala infeksi ditandai dengan batuk berdarah, napas pendek-pendek, batuk terus menerus, rasa lelah, dan timbul demam.

    Tidak semua orang mengalami gejala-gejala itu setelah terpapar NTM. Dokter juga belum mengetahui kenapa hanya sebagian orang saja yang sakit. Akan tetapi mereka yang sudah punya masalah paru-paru, orang tua, dan orang dengan kekebalan tubuh rendah punya risiko lebih tinggi.

    Berdasarkan WebMD, infeksi tersebut diobati dengan pemberian antibiotik. Tim peneliti juga mendapati NTM lebih banyak ditemui di shower berbahan besi. Mikrobakteri bersifat resisten pada klorin yang terkandung pada air. Sehingga, bakteri-bakteri NTM punya ruang berkembang yang lebih luas ketika bakteri lain mati akibat klorin.

    Salah satu peneliti Noah Fierer mengatakan dibutuhkan studi lebih lanjut untuk menentukan apakah air yang mengalir ke rumah tangga bisa membawa risiko. “Ada mikroba yang tumbuh subur di shower Anda. Anda bisa terpapar kapanpun anda mandi,” kata Fierer dikutip dari Men’s Health.

    “Mayoritas mikroba tidak menimbulkan penyakit namun sebagian kecil iya. Riset ini membantu memahami bagaimana sebaiknya kita memperlakukan air yang mengalir di rumah agar tidak menjadi pendukung berkembangnya bakteri,” imbuh Fierer.

    Para peneliti juga menemukan bahwa pancuran air yang terbuat dari logam tampaknya lebih rentan untuk bakteri daripada yang plastik, sehingga Anda mungkin bisa mempertimbangkannya.

    Namun, sebenarnya, apa yang akhirnya harus dilakukan adalah memastikan bahwa Anda tidak lupa membersihkan pancuran air di kamar mandi Anda tersebut.

    Untuk pembersihan menyeluruh, Prevention menyarankan Anda membersihkan kepala pancuran mandi Anda dengan cuka selama satu jam dan menggosok lubang-lubang yang terdapat di dalamnya.

    Penting untuk diingat bahwa secara keseluruhan orang-orang terkena bakteri setiap hari, mulai dari debu, udara, makanan, melalui kontak dengan orang lain, kontak dengan hewan peliharaan mereka, dan ruang kerja mereka, ujar Matthew Gebert, seorang peneliti teknisi di Laboratorium Fierer di CIRES.

    Dengan kata lain, hanya karena jenis bakteri tertentu mungkin bersembunyi di beberapa tempat di rumah Anda,  itu tidak berarti mereka benar-benar akan memengaruhi Anda.

    Semoga bermanfaat!

     

     

     

    Sumber :

    • republika
    • msn