Category: Stroke

  • Buah-Buahan untuk Penderita Stroke: Nutrisi Penting untuk Pemulihan

    Buah-Buahan untuk Penderita Stroke: Nutrisi Penting untuk Pemulihan

    buah-buahan untuk penderita stroke

    Penderita stroke memerlukan pola makan sehat untuk membantu pemulihan dan mencegah risiko stroke berulang. Buah-buahan adalah salah satu sumber nutrisi yang kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan yang mendukung kesehatan otak dan pembuluh darah. Berikut adalah buah-buahan yang direkomendasikan untuk penderita stroke beserta manfaatnya.

    1. Pisang: Kaya Kalium untuk Tekanan Darah Stabil

    Kalium dalam pisang membantu menyeimbangkan tekanan darah, yang merupakan faktor penting dalam pencegahan stroke. Konsumsi pisang secara rutin dapat membantu mengurangi risiko hipertensi, salah satu penyebab utama stroke.

    2. Jeruk dan Buah Citrus: Sumber Vitamin C untuk Antioksidan

    Jeruk, lemon, dan grapefruit kaya akan vitamin C, yang dapat membantu mengurangi peradangan dan melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, vitamin C juga mendukung sistem kekebalan tubuh.

    3. Alpukat: Lemak Sehat untuk Fungsi Otak

    Alpukat mengandung lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk kesehatan jantung dan otak. Lemak sehat ini membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL), sehingga mencegah penyumbatan pembuluh darah.

    4. Berry: Antioksidan untuk Perlindungan Sel Otak

    Strawberi, blueberry, dan raspberry mengandung flavonoid dan antioksidan tinggi. Zat ini dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif dan melindungi otak dari kerusakan akibat stroke. Selain itu, berry juga rendah kalori, sehingga cocok untuk menjaga berat badan ideal.

    5. Apel: Serat Tinggi untuk Kesehatan Jantung

    Apel kaya akan pektin, yaitu jenis serat yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan menjaga kesehatan pembuluh darah. Buah ini juga mudah dikonsumsi sebagai camilan sehat sehari-hari.

    6. Kiwi: Mengurangi Tekanan Darah

    Kiwi mengandung vitamin C, potasium, dan antioksidan yang membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. Sifat anti-inflamasi pada kiwi juga mendukung pemulihan setelah stroke.

    7. Semangka: Menghidrasi Tubuh

    Semangka kaya akan kandungan air dan potasium yang membantu menjaga keseimbangan elektrolit. Selain itu, buah ini rendah kalori dan menyegarkan, cocok untuk dikonsumsi penderita stroke yang membutuhkan hidrasi ekstra.

    Cara Mengonsumsi Buah untuk Penderita Stroke

    • Konsumsi Buah Segar: Hindari buah kalengan yang mengandung gula tambahan.
    • Pilih Buah yang Lunak: Jika pasien mengalami kesulitan menelan, pilih buah yang mudah dikunyah atau buat jus tanpa gula.
    • Sajikan dalam Porsi Kecil: Bagilah konsumsi buah dalam beberapa porsi kecil sepanjang hari agar tubuh menyerap nutrisinya secara optimal.

    Kesimpulan

    Buah-buahan merupakan bagian penting dari pola makan sehat untuk penderita stroke. Dengan memilih buah yang kaya akan nutrisi seperti pisang, berry, dan alpukat, penderita stroke dapat mendukung proses pemulihan dan mencegah risiko komplikasi di masa depan. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menyesuaikan asupan buah sesuai kebutuhan masing-masing.

  • Terapi untuk Pemulihan Pasca-Stroke: Langkah Menuju Kehidupan Lebih Baik

    Terapi untuk Pemulihan Pasca-Stroke: Langkah Menuju Kehidupan Lebih Baik

    terapi pemulihan pasca stroke

    Stroke dapat meninggalkan dampak jangka panjang seperti kelemahan fisik, kesulitan berbicara, hingga gangguan emosional. Namun, dengan terapi yang tepat, banyak penderita stroke yang berhasil meningkatkan kualitas hidup mereka. Berikut adalah beberapa jenis terapi yang umumnya direkomendasikan untuk pemulihan pasca-stroke.

    1. Terapi Fisik (Fisioterapi)

    Fisioterapi berfokus pada pemulihan fungsi motorik dan mobilitas. Terapi ini membantu pasien mengatasi kelemahan atau kelumpuhan pada bagian tubuh tertentu.

    Dalam fisioterapi, pasien dilatih untuk:

    • Menguatkan otot-otot tubuh.
    • Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.
    • Melakukan aktivitas dasar seperti berjalan atau berpindah posisi.

    Fisioterapi dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan pasien dan bertujuan untuk membantu mereka kembali mandiri dalam aktivitas sehari-hari.

    2. Terapi Okupasi

    Terapi okupasi membantu pasien mempelajari kembali keterampilan yang diperlukan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, atau menulis.

    Terapi ini juga melibatkan penggunaan alat bantu, seperti kursi roda atau alat makan khusus, untuk mendukung kemandirian pasien. Selain itu, terapis akan membantu menyesuaikan lingkungan rumah agar lebih aman dan nyaman bagi pasien.

    3. Terapi Wicara

    Stroke dapat memengaruhi kemampuan berbicara dan memahami bahasa. Terapi wicara bertujuan untuk membantu pasien memulihkan keterampilan komunikasi.

    Metode yang digunakan dalam terapi ini meliputi:

    • Melatih pengucapan kata dengan jelas.
    • Membantu pasien mengatasi kesulitan menelan (disfagia).
    • Mengajarkan teknik komunikasi alternatif, seperti menggunakan isyarat atau alat bantu komunikasi.

    4. Terapi Psikologis

    Banyak penderita stroke yang mengalami depresi, kecemasan, atau perubahan suasana hati akibat dampak emosional dari kondisi mereka. Terapi psikologis membantu pasien mengelola emosi dan membangun semangat untuk pemulihan.

    Dukungan dari keluarga dan konseling dengan psikolog dapat memberikan dorongan moral yang sangat diperlukan pasien.

    5. Terapi Musik dan Seni

    Terapi kreatif seperti terapi musik atau seni dapat membantu pasien meningkatkan fungsi kognitif dan emosional. Musik dapat merangsang otak untuk memperkuat ingatan dan meningkatkan suasana hati. Sementara itu, seni dapat membantu pasien mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang kreatif.

    6. Stimulasi Neurologis

    Dalam beberapa kasus, teknologi seperti stimulasi listrik atau terapi robotik digunakan untuk merangsang saraf dan membantu pemulihan fungsi otot. Teknologi ini biasanya diberikan sebagai bagian dari program rehabilitasi intensif di bawah pengawasan dokter spesialis.

    Kesimpulan

    Pemulihan pasca-stroke membutuhkan kombinasi berbagai terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Dukungan keluarga, semangat pasien, dan pendampingan oleh tenaga medis profesional adalah kunci keberhasilan rehabilitasi. Dengan terapi yang konsisten dan sabar, banyak pasien stroke yang mampu kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.

  • Mengenal Stroke: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan

    Mengenal Stroke: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan

    mengenal stroke

    Stroke adalah kondisi medis serius yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak yang berpotensi fatal jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, memahami penyebab, gejala, dan cara pencegahan stroke menjadi sangat penting.

    Apa Itu Stroke?

    Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Gangguan ini dapat disebabkan oleh penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

    Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat untuk mencegah kerusakan permanen pada otak atau bahkan kematian.

    Gejala Stroke

    Gejala stroke sering muncul secara tiba-tiba. Berikut adalah beberapa tanda utama yang harus diwaspadai:

    • Wajah asimetris: Salah satu sisi wajah tampak turun, terutama saat tersenyum.
    • Kelemahan pada lengan atau kaki: Salah satu sisi tubuh terasa lemah atau sulit digerakkan.
    • Kesulitan berbicara: Sulit bicara jelas atau memahami pembicaraan orang lain.
    • Gangguan penglihatan: Pandangan kabur atau hilang, baik pada satu atau kedua mata.
    • Pusing dan kehilangan keseimbangan: Sulit berjalan atau merasa kepala berputar.

    Jika gejala-gejala ini muncul, segera hubungi layanan darurat medis untuk mendapatkan pertolongan.

    Faktor Risiko Stroke

    Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko stroke, antara lain:

    1. Hipertensi: Tekanan darah tinggi merupakan penyebab utama stroke.
    2. Diabetes: Kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan.
    3. Kolesterol tinggi: Penumpukan lemak di pembuluh darah dapat memicu stroke iskemik.
    4. Merokok: Zat kimia dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke.
    5. Obesitas: Berat badan berlebih berhubungan dengan tekanan darah tinggi dan diabetes.

    Cara Mencegah Stroke

    Pencegahan stroke melibatkan perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi medis yang mendasarinya. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

    1. Konsumsi makanan sehat: Perbanyak buah, sayur, biji-bijian, dan kurangi makanan berlemak serta tinggi garam.
    2. Berolahraga secara rutin: Aktivitas fisik seperti berjalan kaki atau bersepeda membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
    3. Hindari merokok dan alkohol berlebihan: Kebiasaan ini merusak kesehatan pembuluh darah.
    4. Kelola stres: Lakukan meditasi, yoga, atau teknik relaksasi lainnya untuk menjaga kesehatan mental.
    5. Periksa kesehatan secara rutin: Pantau tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol untuk mendeteksi risiko sejak dini.

    Kesimpulan

    Stroke adalah kondisi yang bisa dicegah jika kita memahami faktor risikonya dan menerapkan gaya hidup sehat. Mengenali gejala stroke sejak dini juga sangat penting agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat. Dengan pola hidup yang lebih baik, risiko stroke dapat diminimalkan, sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

  • Ini 5 Kebiasaan Buruk yang Bisa Memicu Penyakit Stroke

    Ini 5 Kebiasaan Buruk yang Bisa Memicu Penyakit Stroke

    Stroke ringan merupakan penyakit yang dapat menghampiri berbagai kalangan usia. Mengubah gaya hidup ke arah yang lebih sehat seperti mengontrol asupan makanan, melakukan diet, hingga rutin berolahraga dapat melindungi diri dari penyakit stroke.

    penyakit store

    Kerap dikenali sebagai penyakit yang menyerang usia lanjut, ternyata penyakit stroke tidak pandang bulu dan bisa menyerang anak usia muda, lho! Terlebih lagi untuk stroke ringan. Jenis stroke ini juga dikenal sebagai Transient Ischemic Attack (TIA) yang merupakan kondisi ketika aliran darah ke otak terhambat dalam durasi yang singkat. 

    Gejala yang dirasakan oleh penderita stroke ringan pun tidak jauh berbeda dengan gejala stroke biasa, seperti: kesulitan berbicara; penglihatan buram; mati rasa di satu atau lebih anggota badan; hingga sakit kepala berat.

    Kebiasaan Buruk Pemicu Penyakit Stroke

    Ada beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit stroke, antara lain:

    1. Kebiasaan merokok

    Rokok tak hanya mengandung zat-zat kimia beracun yang dapat memicu sel kanker. Merokok rokok juga dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah dan kolesterol, yang keduanya merupakan faktor utama penyebab stroke ringan. Oleh karena itu, menjauhkan diri dari rokok tidak hanya bermanfaat untuk mencegah stroke saja, tetapi juga meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    2. Konsumsi minuman beralkohol

    Minuman beralkohol yang dikonsumsi secara berlebihan berdampak langsung pada penurunan fungsi organ hati. Di samping itu, pembekuan darah pada otak lebih mungkin terjadi pada mereka pengidap darah tinggi, yang juga sering mengonsumsi alkohol. 

    Pembekuan darah ini pun membuat oksigen yang terkandung dalam darah terlambat untuk disalurkan ke otak. Nah, berkurangnya kadar oksigen dalam otak dapat mengganggu fungsi organ tersebut.

    3. Mengonsumsi makanan cepat saji yang berlebihan

    Asupan makanan cepat saji secara berlebihan dapat meningkatkan lemak dan kolesterol jahat dalam tubuh. Kolesterol tersebut dapat mengendap di otak dan menghambat aliran darah. Ditambah lagi kandungan nutrisi junk food yang dipertanyakan. 

    4. Kurang bergerak

    Kurangnya aktivitas fisik dibarengi dengan pola makan yang tidak sehat dapat memicu stroke, karena lemak yang tertimbun perlu waktu yang lama untuk ‘terbakar’. Tentunya, hal ini dapat memicu gangguan pada pembuluh darah.

    5. Mengabaikan penyakit diabetes

    Pengidap diabetes lebih rentan terkena penyakit stroke, karena kadar gula darah yang lebih tinggi daripada non-diabetes. Jadi bagi para penderita diabetes, harus lebih cermat untuk mengatur pola makan agar gula darahnya tetap terjaga.

    Cara Mencegah Penyakit Stroke dengan Gaya Hidup Sehat

    Cara mencegah stroke ringan adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Berikut tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari diri dari stroke ringan di usia muda:

    1. Rutin berolahraga ringan

    Rutin berolahraga dapat mengurangi risiko penyakit stroke. Sebab, berolahraga dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, mengontrol berat badan, menjaga tekanan darah tetap normal, dan melancarkan sirkulasi darah. Tidak perlu melakukan olahraga yang berat, olahraga ringan seperti berjalan santai, joging, bersepeda, dan yoga pun dapat dilakukan.

    2. Lakukan diet sehat

    Menjaga pola makan dan melakukan diet sehat adalah salah satu cara yang cukup ampuh untuk mencegah stroke di kemudian hari. Ada berbagai macam diet yang dirancang untuk menekan tekanan darah dalam tubuh agar tetap stabil, salah satunya adalah metode diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). 

    Diet ini berfokus untuk mengurangi konsumsi garam dan lemak jenuh serta mengkonsumsi lebih banyak buah-buahan, sayuran, biji-bijian, protein nabati, dan produk susu rendah lemak.

  • Minum Jus Jeruk Ternyata Dapat Menurunkan Darah Tinggi

    Minum Jus Jeruk Ternyata Dapat Menurunkan Darah Tinggi

    Tekanan darah tinggi atau dikenal sebagai hipertensi sering kali hadir tanpa gejala. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan kemungkinan Anda mengalami keadaan darurat medis yang fatal seperti serangan jantung dan strok.

    Keadaan darurat medis yang fatal muncuk akibat ketegangan ekstra yang terjadi pada banyak organ vital, seperti jantung, otak, dan ginjal. Dilansir laman Express, Ahad (4/6/2023), salah satu faktor pendorong hipertensi adalah pola makan yang buruk, dengan makanan tinggi garam sebagai penyebab utamanya.

    Namun, diet juga dapat digunakan untuk mengurangi risiko terkena tekanan darah tinggi, dan bahkan menurunkan hasil pengukuran tensi. Mark Gilbert, ahli gizi di The 1:1 Diet by Cambridge Weight, Inggris, merekomendasikan jus jeruk setiap hari buat Anda yang khawatir dengan tekanan darah tinggi.

    Gilbert mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengurangi tekanan darah adalah olahraga teratur dan penurunan berat badan. Selain itu, dalam banyak hal, diet dapat membantu.

    “Salah satu makanan yang telah dipelajari secara khusus untuk menurunkan berat badan adalah jus jeruk, khususnya senyawa pigmen yang ditemukan dalam jus jeruk, yang disebut hesperidin,” ujar Gilbert.

    Menurut Gilbert, studi topik ini telah menunjukkan hasil yang berbeda selama bertahun-tahun. Misalnya, tinjauan terhadap 19 penelitian berkualitas tinggi menunjukkan efek signifikan pada tekanan darah diastolik.

    Diastolik merupakan angka yang lebih kecil di bagian bawah hasil tekanan darah yang mencerminkan tekanan darah di antara detak jantung. Namun, Gilbert menuturkan, tinjauan yang lebih baru tetapi lebih kecil menyimpulkan bahwa tidak ada efeknya.

    “Menariknya, seperti banyak intervensi, mungkin ada pengaruh genetik yang substansial terhadap efek ini, yang berarti bahwa beberapa orang mendapat manfaat dari jus jeruk dan yang lainnya tidak,” katanya.

    Gilbert kemudian mengulas sebuah penelitian baru-baru ini. Ketika subjek minum jus jeruk selama 60 hari dan darahnya diuji untuk pemecahan produk hesperidin dan flavonid lainnya, mereka yang dapat memetabolisme dan memecah flavonoid di hati lebih efektif menunjukkan penurunan tekanan darah yang signifikan, sedangkan subjek yang lainnya tidak. Bonus tambahan di sini adalah subjek tersebut juga kehilangan lemak tubuh.

    Gilbert menyebut kemanjuran bahan kimia alami dalam jus jeruk menurunkan tekanan darah pada beberapa orang masih belum jelas. Demikian juga efek jus jeruk pada orang yang mendapatkan manfaat khasiatnya pada bagi tekanan darah dan mengalami penurunan berat badan. Terlepas dari itu, hasilnya tampaknya positif.

    “Tentu saja, penurunan berat badan yang substansial menyebabkan penurunan tekanan darah yang cepat, yang kami lihat pada klien diet kami di berbagai penelitian,” ujar Gilbert.

    Satu studi, yang tidak dijadikan referensi oleh Gilbert, menunjukkan bahwa minum jus jeruk selama periode 12 pekan mengurangi tekanan darah di antara para peserta. Makalah yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition pada 2021 itu menyimpulkan hesperidin dalam jus jeruk mengurangi tekanan darah sistolik dan tekanan nadi setelah konsumsi berkelanjutan.

    Setelah dosis tunggal, konsumsi jus jeruk yang kaya akan hesperidin meningkatkan efek postprandialnya.

    “Jus jeruk yang diperkaya hesperidin bisa membantu menurunkan tekanan darah dan manajemen tekanan nadi pada individu hipertensi sebelum dan tahap satu.”

    Sumber: Republika.com

  • Dua Jenis Penyebab Stroke

    Berdasarkan penyebabnya, ada dua jenis stroke, yaitu:

    • Stroke iskemik. Sekitar 80% stroke adalah jenis stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak mengalami penyempitan atau terhambat, sehingga menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang. Kondisi ini disebut juga dengan iskemia. Stroke iskemik dapat dibagi lagi ke dalam 2 jenis, di antaranya:
      • Stroke trombotik, yaitu stroke yang terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di salah satu pembuluh darah arteri yang memasok darah ke otak. Pembentukan gumpalan darah ini disebabkan oleh timbunan lemak atau plak yang menumpuk di arteri (aterosklerosis) dan menyebabkan menurunnya aliran darah.
      • Stroke embolik, yaitu stroke yang terjadi ketika gumpalan darah atau gumpalan yang terbentuk di bagian tubuh lain, umumnya jantung, terbawa melalui aliran darah dan tersangkut di pembuluh darah otak, sehingga menyebabkan arteri otak menyempit. Jenis gumpalan darah ini disebut embolus. Salah satu gangguan irama jantung, yaitu fibrilasi atrium, sering menyebabkan stroke embolik.
    • Stroke hemoragik. Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan. Pendarahan di otak dapat dipicu oleh beberapa kondisi yang memengaruhi pembuluh darah. Kondisi tersebut meliputi:
      • Hipertensi yang tidak terkendali.
      • Melemahnya dinding pembuluh darah (aneurisma otak).
      • Pengobatan dengan antikoagulan (pengencer darah).

    Ada dua jenis stroke hemoragik, antara lain:

      • Perdarahan intraserebral. Pada perdarahan intraserebral, pembuluh darah di otak pecah dan menumpahkan isinya ke jaringan otak di sekitarnya, sehingga merusak sel otak.
      • Perdarahan subarachnoid. Pada perdarahan subarachnoid, pembuluh darah arteri yang berada dekat permukaan otak, pecah dan menumpahkan isinya ke rongga subarachnoid, yaitu ruang antara permukaan otak dan tulang tengkorak.

    Transient Ischemic Attack (TIA)

    TIA memiliki gejala yang serupa dengan jenis stroke lainnya, namun TIA umumnya hanya berlangsung selama lima menit. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan suplai darah ke otak akibat gumpalan darah yang menghambat aliran darah ke otak. TIA tidak mengakibatkan kerusakan jaringan otak secara permanen dan gejalanya pun tidak berlangsung lama. Meskipun demikian, segera hubungi dokter untuk mencegah serangan stroke dan mengendalikan faktor risikonya.

    Faktor Risiko Stroke

    Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Selain stroke, faktor risiko di bawah ini juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Faktor-faktor tersebut meliputi:

    • Faktor kesehatan, yang meliputi:
      • Hipertensi.
      • Diabetes.
      • Kolesterol tinggi.
      • Obesitas.
      • Penyakit jantung, seperti gagal jantung, penyakit jantung bawaan, infeksi jantung, atau aritmia.
      • Sleep apnea.
      • Pernah mengalami TIA atau serangan jantung sebelumnya.
    • Faktor gaya hidup, yang meliputi:
      • Merokok.
      • Kurang olahraga atau aktivitas fisik.
      • Konsumsi obat-obatan terlarang.
      • Kecanduan alkohol.
    • Faktor lain yang berhubungan dengan risiko stroke, antara lain:
      • Faktor keturunan. Jika anggota keluarga pernah mengalami stroke, maka risiko terkena stroke juga semakin tinggi.
      • Usia. Dengan bertambahnya usia, seseorang memiliki risiko stroke lebih tinggi dibandingkan orang yang lebih muda.
    Sumber : alodokter.com
  • Berbagai perubahan yang terjadi akibat kerusakan otak pascastroke

    gegar otak

    Umumnya, stroke hanya memengaruhi satu sisi otak saja. Itu berarti jika stroke menyerang sisi kiri otak, maka Anda akan mengalami berbagai masalah dengan sisi kanan tubuh Anda begitupun sebaliknya.

    Namun, tak jarang stroke juga dapat memengaruhi kedua sisi otak. Efek stroke pada otak biasanya akan menyebabkan hilangnya fungsi normal pada beberapa bagian tubuh. Efek yang dihasilkan akan berbeda-beda sesuai dengan daerah otak mana yang terserang, apakah pada serebrum (otak kanan dan kiri), serebelum (otak atas dan depan), dan brainstem (batang otak).

    Dikutip dari Hopkinsmedicine.org, berikut berbagai perubahan yang terjadi akibat kerusakan otak pascastroke sesuai dengan bagian yang terserang.

    Serebrum (otak kanan dan kiri)

    Berikut efek stroke pada otak kanan dan kiri, di antaranya:

    • Memiliki masalah dalam menggerakkan tubuh.
    • Gangguan kognitif seperti pada proses berpikir dan ingatan.
    • Memiliki masalah pada kemampuan bahasa.
    • Kesulitan makan dan menelan.
    • Gangguan penglihatan.
    • Gangguan pada kemampuan seksual.
    • Masalah pada kendali usus dan kandung kemih.

    Serebelum (otak atas dan depan)

    Berikut efek stroke pada otak bagian atas dan depan, di antaranya:

    • Masalah koordinasi dan keseimbangan.
    • Pusing
    • Sakit kepala
    • Mual dan muntah

    Brainstem (batang otak)

    Berikut efek stroke pada batang otak, di antaranya:

    • Masalah pada pernapasan dan fungsi jantung.
    • Ketidakmampuan tubuh untuk mengendalikan suhu.
    • Masalah pada keseimbangan dan koordinasi.
    • Kesulitan mengunyah, menelan, dan berbicara.
    • Gangguan penglihatan.

    Demikianlah informasi mengenai perubahan yang terjadi akibat kerusakan otak pascastroke. semoga dapat bermanfaat.

     

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Bagaimana Stroke Bisa Menyebabkan Kerusakan Otak?

    Otak membutuhkan pasokan darah untuk tetap dapat bekerja dengan baik. Nah, jika aliran darah tidak mencukupi maka kondisi dan kerja otak mengalami perubahan. Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan otak akibat stroke.

    1. Peradangan

    Saat racun menyerang otak selama stroke, maka secara alami organ tubuh ini akan mencoba untuk memperbaiki dirinya. Namun, tak jarang usaha ini justru bisa menimbulkan peradangan berlebihan.

    Akibatnya, jaringan otak akan dibanjiri dengan cairan dan sel darah putih yang bertugas melawan infeksi.  Nah, kondisi ini bisa menyebabkan pembengkakan (edema) yang bisa merusak fungsi otak normal.

    2.  Kelebihan kalsium dan kekurangan natrium

    Saat otak mengalami kerusakan akibat stroke, kalsium di dalam tubuh bisa bocor dan masuk ke dalam sel otak. Ketika pasokan darah ke otak tidak mencukupi tandanya asupan oksigen pun berkurang.

    Akibatnya, kadar kalsium menjadi tidak seimbang. Sementara itu, sel otak dirancang tidak bisa merespon kalsium dalam jumlah yang besar. Akibatnya, kerusakan otak tidak bisa terhindarkan.

    Di samping itu, natrium juga berfungsi untuk menjaga fungsi otak tetap normal. Namun saat stroke menyerang, natrium di dalam otak menjadi tidak seimbang hingga bisa mengubah isi sel otak dan membuatnya rusak.

    3. Terbentuknya radikal bebas

    Sementara itu, faktor lainnya yang berkontribusi pada kerusakan otak saat stroke ialah radikal bebas. Radikal bebas yang dihasilkan selama stroke bisa dengan cepat merusak jaringan yang ada di dekatnya. Jika itu terjadi, sel otak yang sehat pun akan terkena dampaknya dan mengalami kegagalan fungsi.

    4. Tidak seimbangnya pH

    Sel otak yang tidak mendapatkan suplai darah yang membuat otak mengalami kekurangan energi untuk menjalankan fungsinya. Akibatnya hal ini akan memicu terbentuknya molekul asam kuat yang dapat memengaruhi pH otak. Molekul asam yang berlebih dapat membahayakan dan bisa menyebabkan cedera otak.

    Demikian itulah penyebab otak mengalami kerusakan akibat stroke. semoga informasi ini dapat bermanfaat.

     

    Sumber : hellosehat.com

     

  • Milenials! Hati-Hati Resiko Stroke Menghantui

    Milenials! Ditengah hiruk pikuk semangat yang menggebu didalam diri kamu, perhatikanlah, bahwa pola hidup menentukan masa depanmu. Statistik terbaru menunjukkan risiko stroke pada anak muda terus meningkat. Dibandingkan dengan pertengahan 1990-an, terjadi peningkatan 53% untuk stroke iskemik di antara mereka yang berusia antara 15 dan 44 tahun pada tahun 2000-an. Selama waktu yang sama, ada kecenderungan peningkatan faktor risiko stroke seperti, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, penyakit jantung bawaan, dan merokok.

    Jadi, para Sahabat yang sedang menggebu dalam meraih mimpi, cobalah untuk merenung sejenak. Berkaca diri pada apa yang sedang dilakukan, sudahkah kita menyayangi diri kita melebihi meyayangi si Dia calon ibu dari anak-anak nanti?

    Berdasarkan rujukan yang kami kutip, Penyebab stroke pada usia muda lebih beragam dan relatif jarang terjadi dibandingkan pada orang yang lebih tua. Kebanyakan stroke pada orang dewasa yang lebih tua adalah karena aterosklerosis, atau lemak dan endapan kalsium di arteri yang menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah. Di kalangan usia muda, penyebabnya berkisar dari masalah katup jantung bawaan, aritmia, hingga penyakit jantung bawaan.

    Setengah dari semua kasus stroke di kalangan anak muda adalah karena stroke iskemik. Hal ini terjadi sebagai akibat dari gangguan dalam pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Sekitar 15 persen dari semua stroke iskemik terjadi pada usia dewasa muda (di bawah 40 tahun) dan remaja. Selain itu, stroke pada usia muda juga diakibatkan stroke hemoragik, yang terjadi ketika pembuluh darah yang pecah menjadi lemah. Penyebab paling umum dari stroke hemoragik adalah tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

    Meski dengan peningkatan resiko tersebut, pasien stroke yang lebih muda cenderung untuk kembali normal dan pulih lebih baik. Otak pasien yang lebih muda cenderung lebih tangguh. Bagian lain dari otak akan membantu pemulihan dan membantu bagian yang terkena stroke. Mereka biasanya tidak memiliki kondisi jantung atau arthritis yang dapat mengganggu terapi fisik mereka, dan mereka memiliki dorongan dan potensi lebih untuk melakukan pemulihan.

    Untuk itu, berikut beberapa tips menjaga pola hidup agar meminimalisir resiko stroke yang ada :

    1. Jangan merokok baik secara aktif maupun sekedar perokok pasif;
    2. Perbaiki kebiasaan makan, dengan mengurangi lemak, garam, dan gula; utamakan sarapan buah
    3. Konsumsi makanan sehat, buah dan sayur terutama, jangan jadi anak micin.
    4. Aktif beraktivitas fisik, dan tidak memporsir badan
    5. Lakukan cek tekanan darah secara teratur;
    6. Capailah dan pertahankan berat badan ideal;
    7. Kurangi tingkat stres Anda, Jangan lembur terus demi cepat meminang kekasih ya!
    8. Carilah dukungan emosional bila diperlukan, buat jomblo, Semangat!
    9. Hindari daging berlemak, mentega atau cream, yang mengandung tinggi lemak tersaturasi;
    10. Bakar, panggang, rebus makanan kita, sebaiknya hindari gorengan;
    11. Hindari alkohol;
    12. Lakukan cek kesehatan secara teratur.

    Jadi Sahabat Milenials, bekerja keras dalam menggapai mimpi merupakan sebuah produktivitas yang membanggakan. Meniti karir, mengejar jodoh, membahagiakan orangtua, merupakan cita-cita setiap anak muda tentunya. Namun, pertimbangkanlah mimpi yang tercapai dalam kondisi tidak sehat merupakan sebuah penyesalan besar. Sayangi dirimu sebagaimana Kamu menyayangi cita-citamu.

    Salam Sehat !

     

    Rujukan :

    hellosehat.com

    awalbros.com

  • Perilaku atau Kebiasaan Buruk yang Dapat Menyebabkan Stroke

    Penyakit atau serangan stroke merupakan kondisi gawat darurat yang harus mendapatkan penanganan segera. Hingga saat ini penyakit stroke menjadi momok yang menakutkan. Tak heran, jika stroke menjadi penyakit paling mematikan di Indonesia (Depkes RI, 2017).

    Pada kesempatan kali ini wellagree akan sedikit memaparkan faktor penyebab stroke dari perilaku atau kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan stroke.

    Hasil gambar untuk faktor faktor stroke mediskus

    Faktor Perilaku atau gaya hidup/kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan stroke yang wellagree ambil dari mediskus.com adalah sebagai berikut.

    1. Merokok

    Merokok diyakini menjadi resiko stroke karena dapat melukai pembuluh darah dan mempercepat pengerasan arteri. Karbon monoksida dalam asap rokok mengurangi jumlah oksigen dalam darah. Asap rokok dapat meningkatkan risiko stroke dibandingkan orang yang tidak merokok. merokok dapat menyebabkan stroke

    2. Minum Alkohol Minum

    terlalu banyak alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, yang meningkatkan risiko stroke. Hal ini juga meningkatkan kadar trigliserida, suatu bentuk kolesterol, yang bisa mengeras pada arteri.

    3. Kurang Aktifitas Fisik

    Kurang Aktifitas Fisik atau olahraga dapat meningkatkan berat badan, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol. Ketidakaktifan juga merupakan faktor risiko untuk diabetes, yang semuanya merupakan faktor resiko stroke.

    Semua faktor resiko di atas masih dapat dikendalikan, namun ada juga faktor resiko stroke yang tidak dapat diubah atau dikendalikan.

    Faktor Resiko stroke yang tak dapat diubah

    1. Riwayat keluarga.

    Memiliki riwayat keluarga stroke meningkatkan kemungkinan seseorang terserang stroke.

    2. Usia dan jenis kelamin.

    Semakin tua Anda, semakin besar kemungkinan Anda untuk mengalami stroke. Untuk usia 65 dan lebih tua, laki-laki berada pada risiko yang lebih besar daripada wanita.

    Demikian beberapa Faktor risiko stroke yang diakibatkan dari perilaku atau kebiasaan buruk seseorang. Semoga dapat bermanfaat.