Skip to main content
bernafas

Coba berhenti sejenak. Perhatikan napas Anda sekarang. Apakah bibir tertutup dan udara masuk lewat hidung? Atau justru mulut sedikit terbuka tanpa disadari?

Banyak orang terbiasa bernapas lewat mulut sepanjang hari—saat bekerja, menonton, bahkan saat tidur. Kita menganggapnya sepele, karena toh udara tetap masuk ke paru-paru. Padahal, tubuh kita tidak dirancang untuk bernapas lewat mulut secara terus-menerus.

Secara biologis, fungsi keduanya jelas berbeda. Mulut dibuat untuk makan dan berbicara. Hidung dibuat untuk bernapas. Mengganti fungsi ini ibarat menyedot sup dengan garpu—mungkin bisa, tapi jelas bukan cara yang tepat.

Hidung: Sistem Pernapasan yang Dirancang dengan Cerdas

Hidung bukan sekadar dua lubang di wajah. Ia adalah sistem penyaring dan pengatur udara yang sangat kompleks.

Saat Anda bernapas lewat hidung, tubuh melakukan banyak hal sekaligus:

Udara yang masuk diatur suhunya, dihangatkan jika dingin, dilembapkan jika kering, sehingga tidak mengiritasi paru-paru. Mulut tidak memiliki kemampuan ini.

Hidung juga bertindak sebagai filter pertama, menangkap debu, alergen, dan mikroorganisme sebelum masuk lebih dalam ke saluran napas.

Namun yang paling menarik adalah produksi Nitric Oxide (NO) di rongga sinus. Gas ini ikut terbawa ke paru-paru saat bernapas lewat hidung. Fungsinya sangat penting: membantu melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan efisiensi penyerapan oksigen hingga sekitar 10–20 persen.

Artinya, dengan jumlah napas yang sama, tubuh Anda bisa mendapatkan oksigen lebih optimal hanya dengan mengubah jalurnya.

Apa yang Terjadi Jika Terbiasa Bernapas Lewat Mulut?

Bernapas lewat mulut sebenarnya adalah mekanisme darurat—misalnya saat hidung benar-benar tersumbat atau saat aktivitas fisik sangat intens. Masalah muncul ketika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus.

Napas mulut cenderung cepat dan dangkal, yang mengaktifkan sistem saraf fight or flight. Otak menangkapnya sebagai sinyal bahaya, sehingga tubuh lebih mudah merasa cemas dan tegang.

Selain itu, aliran udara yang terus-menerus membuat mulut kering. Padahal, air liur berfungsi melindungi gigi dan gusi dari bakteri. Tak heran jika kebiasaan ini sering dikaitkan dengan gigi berlubang, radang gusi, dan bau mulut kronis.

Saat tidur, bernapas lewat mulut juga meningkatkan risiko dengkuran dan sleep apnea. Posisi mulut terbuka membuat lidah jatuh ke belakang dan mempersempit saluran napas

Tes Sederhana untuk Menilai Pola Napas Anda

Anda bisa mengecek seberapa efisien pola napas Anda dengan BOLT Score (Body Oxygen Level Test).

Tarik napas normal lewat hidung, lalu hembuskan normal lewat hidung.
Setelah itu, tutup hidung dan hitung waktunya.
Hentikan saat muncul dorongan kuat pertama untuk bernapas kembali.
Lepaskan hidung dan bernapaslah seperti biasa.

Jika hasilnya di bawah 25 detik, itu menandakan tubuh Anda terbiasa bernapas berlebihan atau sering bernapas lewat mulut, sehingga toleransi terhadap CO₂ masih rendah.

Melatih Tubuh Kembali Bernapas Lewat Hidung

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dilatih ulang.

Mulailah dengan kesadaran di siang hari. Biasakan mengecek posisi bibir dan lidah. Posisi istirahat yang ideal adalah bibir tertutup dan lidah menempel lembut di langit-langit mulut.

Saat tidur, beberapa orang memilih mouth taping—menutup bibir secara vertikal menggunakan plester mikropori yang aman. Tujuannya bukan menyegel mulut rapat, melainkan mengingatkan tubuh untuk bernapas lewat hidung. Banyak yang melaporkan tidur lebih nyenyak dan bangun tanpa mulut kering.

Saat berolahraga ringan seperti berjalan atau jogging santai, cobalah menutup mulut dan bernapas lewat hidung. Awalnya mungkin terasa kurang nyaman, tetapi seiring waktu tubuh akan beradaptasi dan menjadi lebih efisien menggunakan oksigen.

Penutup

Bernapas adalah aktivitas paling dasar yang kita lakukan sejak lahir, namun justru paling sering kita abaikan caranya. Padahal, perubahan kecil—bernapas lewat hidung, lebih perlahan, dan lebih sadar—dapat memberi dampak besar pada kualitas tidur, tingkat stres, kesehatan gigi, hingga energi harian.