Author: admin

  • Cek Fakta: Tenggorokan Kering Jadi Risiko Terkena COVID-19?

    Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 kabarnya dapat hilang dari tenggorokan bila Anda minum cukup air. Akan tetapi, Anda tentu tidak dapat membuat tenggorokan tetap basah terutama ketika berpuasa karena Anda tidak minum selama belasan jam. Lantas, apakah tenggorokan kering membuat Anda lebih berisiko terkena COVID-19?

    Bisakah tenggorokan kering membuat Anda tertular COVID-19?

    Di tengah maraknya berita tentang pandemi COVID-19 yang simpang siur, Anda akan mudah menemukan informasi yang belum jelas kebenarannya. Salah satunya termasuk minum air putih yang disebut-sebut bisa menghilangkan SARS-CoV-2 dari tenggorokan.

    Sejumlah akun media sosial sempat menganjurkan untuk minum air putih tiap 15 menit sekali. Minum air putih dianggap bisa mencegah COVID-19 karena air dapat ‘membilas’ coronavirus pada dinding tenggorokan terutama saat kering. Padahal, faktanya tidak demikian.

    Kerongkongan berbeda dengan tenggorokan. Kerongkongan adalah jalur makanan yang menghubungkan mulut dengan lambung, sedangkan tenggorokan adalah jalur napas yang terletak di belakang mulut dan menghubungkan hidung dengan paru-paru.

    Air putih memang dapat membasahi kerongkongan yang kering, tapi tidak menghilangkan SARS-CoV-2 yang menempel pada dindingnya.

    Tak ada pula bukti ilmiah bahwa air dapat membunuh virus pada kerongkongan, sebab yang dapat membasmi virus dalam tubuh adalah sistem kekebalan tubuh atau obat antivirus.

    Selain itu, ujung kerongkongan juga berbeda dengan tenggorokan yang mengarah ke paru-paru. Walaupun kerongkongan Anda cukup lembap oleh air, virus mungkin masih menempel pada tenggorokan atau bisa jadi sudah bergerak menuju paru-paru.

    Tenggorokan lembap atapun kering sama-sama dapat terinfeksi SARS-CoV-2. Dengan kata lain, risiko penularan COVID-19 tidak ditentukan dari kondisi tenggorokan. Cara terbaik menghambat penyebaran COVID-19 adalah dengan melakukan pencegahan.

    Tenggorokan kering dan penularan COVID-19

    Tenggorokan yang kering tidak lantas membuat Anda jadi lebih berisiko tertular COVID-19. Virus SARS-CoV-2 dari lingkungan tetap bisa masuk ke dalam saluran pernapasan.

    Risiko penularan COVID-19 meningkat apabila Anda berinteraksi dengan pasien positif, bepergian ke zona merah, dan tidak menjaga kebersihan tangan. Anda pun lebih rentan tertular penyakit ini bila melakukan kontak dekat atau berjabat tangan dengan banyak orang.

    Selain itu, Anda juga berisiko tertular COVID-19 jika sering menyentuh barang-barang di sekitar dan tidak mencuci tangan setelahnya. Ini disebabkan karena SARS-CoV-2 bertahan pada barang selama beberapa jam hingga berhari-hari.

    Virus berpindah ke tangan ketika Anda menyentuh barang-barang tersebut. Kemudian, virus memasuki tubuh saat Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan menggunakan sabun dan air.

    Penularan COVID-19 terutama bila tenggorokan terasa kering bisa dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan membatasi interaksi dengan orang lain.

    Asupan cairan penting saat tenggorokan kering

    Meskipun tenggorokan yang kering saat puasa tidak berhubungan dengan penularan COVID-19, asupan cairan tetaplah penting terutama ketika Anda puasa. Pasalnya, dehidrasi dapat menimbulkan efek negatif yang mengganggu kenyamanan selama berpuasa.

    Pastikan Anda minum cukup air selama puasa. Rata-rata, tiap orang memerlukan setidaknya dua liter air dalam sehari. Anda bisa menyiasatinya dengan minum delapan gelas air yang dibagi ke dalam waktu berbuka puasa, malam hari, dan sahur.

    Minumlah tiga gelas air ketika berbuka puasa, kemudian lanjutkan dengan dua gelas air sebelum tidur. Ketika sahur, akhiri santapan Anda dengan tiga gelas air putih. Anda juga dapat mengubah kombinasinya sesuai selera dan kenyamanan.

    Selain air putih, sumber cairan juga bisa berasal dari makanan berkuah, serta sayur dan buah. Sertakan ketiganya dalam menu sahur dan berbuka puasa agar Anda memperoleh asupan cairan tambahan.

    Tenggorokan kering tidak menjadikan seseorang lebih berisiko tertular COVID-19. SARS-CoV-2 tetap dapat memasuki saluran pernapasan melalui hidung atau mulut ketika Anda terpapar virus ini.

    Tetap lindungi diri Anda dengan melakukan upaya pencegahan yang sudah disarankan. Apabila Anda merasa mengalami gejala COVID-19 seperti demam tinggi, batuk, atau sesak napas, segera periksakan diri ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Mengapa Banyak Orang Merasa Kebal dari COVID-19?

    Berbagai kebijakan telah diterapkan demi mencegah penularan COVID-19. Pemerintah beberapa kota bahkan bertindak tegas dalam membatasi kegiatan warga di wilayahnya. Namun, di tengah upaya pencegahan yang sedemikian besar, ternyata tak sedikit yang masih mengabaikan peraturan tersebut dan merasa kebal dari COVID-19.

    Orang-orang yang merasa kebal dari COVID-19 sebetulnya tidak kekurangan informasi tentang pandemi ini. Mereka sedang mengalami fenomena psikologis yang umum, tapi sering kali jarang disadari. Simak informasi berikut untuk memahami fenomena yang dimaksud serta cara mengatasinya.

    Mengapa ada orang yang mengabaikan bahaya COVID-19?

    Ada pandemi maupun tidak, perlu diakui bahwa orang-orang biasanya baru mematuhi anjuran kesehatan bila mengetahui dirinya berisiko sakit. Jika tidak, mereka cenderung bersikap seperti biasa tanpa menyadari bahaya yang mengancam.

    Akhir-akhir ini, laporan tentang pelanggaran social distancing mungkin lebih banyak diisi oleh kaum dewasa muda. Tidak heran, sebab sejak wabah coronavirus muncul pertama kali, Anda sudah diberitahu bahwa yang paling rentan tertular COVID-19 adalah lansia.

    Meskipun hal ini benar, ada dampak negatif yang ikut muncul bersamanya. Tidak sedikit orang dewasa muda yang akhirnya merasa kebal dari COVID-19 karena menganggap dirinya sangat sehat. Padahal, tidak ada satu orang pun yang kebal dari penyakit ini.

    Fenomena ini sebetulnya tidak cuma terjadi dalam pandemi. Catherine Potard, psikolog dari University of Angers, Prancis, membuat sebuah penelitian dengan rekan-rekannya. Mereka meneliti perilaku berkendara sambil mabuk pada orang dewasa muda.

    Penelitian mereka mengacu pada Teori Perilaku yang Direncanakan (TPB). Menurut teori ini, perilaku Anda bisa diprediksi dari tujuan Anda. Namun, tujuan Anda pun dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni sikap, pendapat orang lain, dan seberapa yakin Anda bisa mengontrol diri.

    Menurut Potard, teori TPB memiliki kekurangan, yakni tidak membahas risiko. Peserta penelitian Potard tahu bahayanya menyetir sambil mabuk, tapi mereka sangat percaya diri tidak akan mengalami kecelakaan. Padahal, risiko kecelakaan amat besar bila Anda menyetir sambil mabuk.

    Pada kasus pandemi COVID-19, banyak orang merasa kebal karena usianya masih muda. Sebagian besar orang dewasa muda juga tidak menderita penyakit seperti lansia sehingga menganggap dirinya ‘terlalu sehat’ untuk terjangkit COVID-19.

    Faktanya, siapa pun bisa tertular COVID-19 jika tidak melakukan upaya pencegahan. Anda bahkan dapat tertular dari pasien yang tidak menunjukkan gejala, atau melalui sentuhan dengan barang yang terkontaminasi virus.

    Cara menghadapi orang-orang yang merasa kebal dari COVID-19

    Reaktansi psikologi merupakan perilaku yang sangat umum. Anda pun mungkin saja pernah melakukannya tanpa sadar. Bahkan, perilaku seperti ini terkadang juga terlihat lucu ketika dilakukan oleh anak-anak.

    Akan tetapi, mengabaikan anjuran kesehatan di tengah pandemi justru membahayakan diri Anda dan orang-orang yang Anda sayangi. Keinginan untuk melawan aturan social distancing yang tampaknya sederhana malah bisa memperparah penyebaran wabah.

    Jika orang-orang terdekat Anda tidak mau melakukan upaya pencegahan, coba atasi dengan sering memberikan mereka informasi mengenai COVID-19. Berikan pula kabar terbaru tentang para pasien yang sakit parah dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

    Berikan informasi yang membuat mereka sadar bahwa COVID-19 mengintai semua orang. Walaupun mereka merasa sehat, tidak ada orang yang benar-benar kebal dari COVID-19.

    Anda bisa menjadi contoh yang baik dengan mencuci tangan, menjaga kesehatan, dan menerapkan social distancing. Berikan pengertian bahwa semua ini bukan hanya untuk mereka, tapi juga orang-orang yang mereka cintai.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Bahaya Menggunakan Cairan Antiseptik pada Diffuser

    Belakangan ramai soal penggunaan cairan antiseptik untuk dicampurkan pada diffuser. Sebuah video tutorial mengklaim uap diffuser yang dihasilkan dari cairan antiseptik bisa membunuh COVID-19. Padahal cairan tersebut hanya untuk kegunaan luar dan berbahaya jika terhirup dan mengenai paru-paru lewat uap yang dihasilkan diffuser.

    Bisakah cairan antiseptik digunakan untuk campuran diffuser?

    Diffuser adalah alat untuk mengubah cairan minyak esensial menjadi uap dan menyebarkannya ke udara. Partikel minyak yang telah dipecah menjadi uap tersebut akan tersebar ke udara ruangan secara merata, menjadikan udara di sekeliling menjadi terasa nyaman dan mudah untuk dihirup.

    Efek uap diffuser pada tubuh berbeda-beda tergantung campurannya saat dimasukkan ke dalam diffuser. Setiap jenis minyak esensial mengklaim memiliki kegunaannya masing-masing. Umumnya, uap yang dihasilkan dari minyak esensial tersebut akan memberikan efek rileks dan menenangkan.

    Dalam video tutorial yang beredar viral, cairan yang dimasukkan ke dalam diffuser diganti dengan antiseptik cair. Si pembuat video mencampur air mineral botolan dengan cairan antiseptik tersebut lalu mengocoknya dan memasukkan ke dalam alat diffuser.

    Tutorial tersebut tidak dianjurkan untuk ditiru karena belum terbukti kegunaannya dan malah memiliki potensi bahaya untuk tubuh.

    Cairan antiseptik bukan untuk diffuser

    Cairan antiseptik pada hampir semua merek dagang pasti memiliki label peringatan “hanya untuk pemakaian luar”. Ini karena kandungan di dalamnya bagus jika difungsikan sebagaimana mestinya tapi berbahaya jika salah penggunaan.

    Cairan antiseptik yang ditunjukkan dalam video tutorial itu memiliki tiga kandungan bahan utama yakni minyak pinus, minyak jarak dan chloroxylenol dengan persentase 4.8%.

    Minyak pinus dan minyak jarak memang cenderung aman. Namun, chloroxylenol memiliki sifat beracun. Toksisitasnya memang sangat rendah jika untuk pemakaian luar, tapi bisa berbahaya tertelan.

    Jurnal National Library of Medicine AS menyebutkan salah satu bahaya dari chloroxylenol adalah dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan.

    Bahaya pada saluran pernapasan ini bisa jadi masalah saat antiseptik yang mengandung chloroxylenol dimasukkan ke diffuser dan disebar ke udara. Cairan antiseptik yang keluar dalam bentuk uap dari diffuser bisa terhirup dan terbawa ke paru-paru.

    Dalam jurnal yang sama, studi berjudul Pulmonary aspiration following Dettol poisoning: the scope for prevention menjabarkan bahaya dengan risiko lain. Cairan antiseptik (dengan kandungan 4.9% chloroxylenol) yang tertelan oleh tubuh dapat menyebabkan:

    1. Penurunan sistem saraf pusat.
    2. Korosi pada pada selaput lendir tenggorokan, laring (bagian tenggorokan berisi pita suara), dan saluran pencernaan.

    Gunakan cairan antiseptik sebagaimana mestinya

    Sebaiknya gunakan minyak esensial untuk diffuser dan gunakan cairan antiseptik sebagaimana mestinya. Cairan antiseptik efektif membunuh kuman untuk menjaga kebersihan rumah dan tubuh bagian luar.

    Cairan antiseptik biasanya digunakan untuk membunuh kuman pada luka, perabotan rumah tangga, dan cucian kotor. Penggunaan antiseptik harus selalu memperhatikan petunjuk yang tertera dalam kemasan.

    Dalam masa pandemi seperti sekarang ini, masyarakat melakukan berbagai cara untuk menjaga kebersihan dari kuman dan virus. Tutorial yang berkaitan dengan kebersihan banyak bertebaran di media sosial. Intinya, carilah informasi seputar coronavirus dari sumber tepercaya.

     

    Sumber: hellosehat.com

  • Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

    Di tengah pandemi corona (COVID-19) banyak orangtua khawatir untuk melanjutkan rencana imunisasi anak. Pasalnya, mendatangi tempat-tempat umum yang padat, termasuk fasilitas kesehatan, dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19 pada anak-anak dan bayi. Namun, di saat pandemi corona, imunisasi justru memegang peranan penting dalam pengendalian kasus penyakit menular sehingga dapat mencegah munculnya wabah penyakit lain yang tidak kalah berbahaya.

    Pentingnya imunisasi saat pandemi corona

    Pada pertengahan April 2020, pandemi COVID-19 sudah mencapai lebih dari 200 negara, di Indonesia sendiri telah mencakup lebih dari 30 provinsi.

    Meski jumlah penderita dan tingkat kematian pada kelompok anak masih lebih rendah dibandingkan orang lanjut usia, anak-anak tetap rentan tertular penyakit pernapasan ini.

    Namun, bukan berarti orang tua tak meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan anak. Dalam situasi pandemi seperti ini, anak-anak tetap diharuskan untuk melanjutkan imunisasi.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong orang tua untuk tetap menjalankan imunisasi pada anak sesuai dengan usia dan jadwal yang ditentukan sebelumnya.

    Imunisasi saat pandemi corona dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terlindungi dari bahaya kesehatan penyakit menular yang bisa dicegah dengan vaksin, seperti hepatitis B, polio, dan difteri.

    Apabila sebagian besar anak di Indonesia menunda imunisasi, situasi ini bisa mengarah pada terjadinya wabah penyakit menular.

    Belum lagi, rendahnya cakupan imunisasi pada tahun 2019 di Indonesia hanya berkisar 60-70 persen turut meningkatkan potensi munculnya wabah penyakit berbahaya lain yang berlangsung setelah atau bahkan bersamaan dengan pandemi COVID-19.

    Imunisasi saat pandemi tidak menimbulkan risiko kesehatan yang disebabkan oleh efek infeksi coronavirus. Apabila dilakukan dalam prosedur medis yang tepat, imunisasi juga aman untuk dilakukan.

    Siapa yang perlu menjalankan imunisasi saat pandemi?

    Dari rekomendasi IDAI, anak-anak yang berusia 0-18 bulan diprioritaskan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap di saat pandemi corona.

    Pada awal masa kelahiran, bayi perlu sesegera mungkin memperoleh perlindungan untuk membangun kekebalan tubuh dari serangan penyakit berbahaya.

    Imunisasi di saat pandemi corona tetap perlu dilakukan mengikuti jadwal rekomendasi yang ditentukan oleh IDAI. Jadwal imunisasi dasar lengkap diatur berdasarkan perkembangan usia anak, yang meliputi:

    • Segera setelah lahir : Hepatitis B0 + OPV 0
    •  Usia 1 bulan : BCG
    •  Usia 2 bulan : Pentavalent 1 + OPV 1
    •  Usia 3 bulan : Pentavalent  2 + OPV 2
    •  Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV
    •  Usia 9 bulan : MR1
    •  Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR2

    Imunisasi Pentavalent + OPV  dapat digantikan dengan Hexavalent (Pentavalent+IPV). Selanjutnya, imunisasi dasar lengkap yang dijalani saat pandemi perlu diikuti dengan imunisasi tambahan yang mengikuti jadwal sebagai berikut:

    • Usia 2 bulan : PCV 1
    • Usia 4 bulan : PCV 2
    • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
    • Usia 7 bulan : Influenza 2
    • Usia 12-15 bulan : PCV4

    Kapan sebaiknya anak menunda imunisasi?

    Penundaan imunisasi anak di saat pandemi corona sebenarnya memang tidak dianjurkan. Namun jika Anda ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter dan petugas kesehatan. Batas waktu penundaan imunisasi yang masih ditoleransi oleh IDAI adalah 2 minggu.

    Sementara jika Anda tinggal atau berada dalam wilayah penyebaran COVID-19 yang luas, imunisasi saat pandemi bisa ditunda hingga 1 bulan.

    Namun, Anda diharapkan untuk segera membawa anak untuk melakukan imunisasi saat kondisi telah memungkinkan.

    Akan tetapi, penundaan atau pelarangan imunisasi saat pandemi corona diberlakukan untuk kelompok anak dalam kondisi kesehatan tertentu.

    Jika anak memiliki riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dan dalam kondisi sakit, maka anak termasuk pasien dalam pengawasan (PDP).

    Anak yang berstatus PDP harus menjalani karantina atau isolasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan Kementrian Kesehatan dan otomatis menunda waktu imunisasi.

    Apabila anak menunjukkan gejala lemas, napas cepat, sesak, dan demam tinggi (38 derajat Celsius atau lebih) yang berlangsung sampai 3 hari, segera bawa anak ke rumah sakit terdekat. Terlebih jika ia mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah seperti mengalami kejang dan muntah-muntah.

    Sebaliknya, apabila anak pernah berkontak dengan orang yang terinfeksi dan masih dalam keadaan sehat, ia perlu melakukan karantina secara mandiri dan imunisasi saat pandemi corona ditunda sampai 14 hari.

    Sumber : hellosehat.com

  • Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Virus Corona

    Pandemi virus Corona tidak hanya mengancam kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental setiap individu. Tidak hanya rasa takut, efek psikologis yang ditimbulkan pun bisa berdampak serius. Apa saja gangguan kesehatan mental yang dapat muncul dan bagaimana cara mengatasinya?

    Wabah infeksi virus Corona atau COVID-19 semakin meluas dan telah menjangkit lebih dari 190 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, jumlah pasien positif COVID-19 bertambah dengan cepat.

    Hal tersebut tentu dapat menimbulkan rasa takut dan panik. Apalagi anjuran untuk diam di rumah serta kebijakan social distancing, yang kini disebut physical distancing, sedikit banyak menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, sahabat, rekan kerja, teman, atau umat persekutuan di tempat ibadah yang dapat saling memberi dukungan.

    Bagi sebagian orang, hal ini bisa dirasakan sebagai suatu tekanan atau beban yang sangat besar. Bila tidak dikendalikan, tekanan tersebut akan berdampak negatif pada kesehatan mental.

    Gangguan Kesehatan Mental Saat Pandemi Virus Corona
    Gangguan kesehatan mental yang terjadi selama pandemi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketakutan terhadap wabah, rasa terasing selama menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga atau orang yang dikasihi, kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah lagi kebingungan akibat informasi yang simpang siur.

    Hal-hal tersebut tidak hanya berdampak pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan umum, namun juga dapat memengaruhi orang yang sehat secara fisik dan mental.

    Beberapa kelompok yang rentan mengalami stres psikologis selama pandemi virus Corona adalah anak-anak, lansia, dan petugas medis. Tekanan yang berlangsung selama pandemi ini dapat menyebabkan gangguan berupa:

    Ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat
    Perubahan pola tidur dan pola makan
    Bosan dan stres karena terus-menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak
    Sulit berkonsentrasi
    Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
    Memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi
    Munculnya gangguan psikosomatis

    Tips Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Virus Corona
    Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi virus Corona:

    1. Melakukan aktivitas fisik
    Berbagai olahraga ringan, seperti lari kecil atau lompat di tempat, dapat Anda lakukan selama menjalani karantina di rumah. Dengan melakukan aktivitas fisik, tubuh Anda akan memproduksi hormon endorfin yang dapat meredakan stres, mengurangi rasa khawatir, dan memperbaiki mood Anda.

    Latihan peregangan dan pernapasan juga dapat membantu Anda untuk menenangkan diri. Jangan lupa untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk meningkatkan sistem imun.

    2. Mengonsumsi makanan bergizi
    Konsumsilah makanan yang mengandung protein, lemak sehat, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Beragam nutrisi tersebut dapat Anda peroleh dari nasi dan cereal, buah-buahan, sayuran, makanan laut, daging, kacang-kacangan, serta susu.

    Bukan hanya untuk menjaga kesehatan tubuh Anda, asupan nutrisi yang cukup juga dapat menjaga kesehatan mental Anda, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    3. Menghentikan kebiasaan buruk
    Bila Anda seorang perokok, cobalah hentikan kebiasaan buruk tersebut mulai dari sekarang. Merokok akan meningkatkan risiko Anda terinfeksi kuman penyakit, termasuk virus Corona. Selain itu, batasi juga konsumsi minuman beralkohol.

    Kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental Anda.

    Kebiasaan buruk yang juga perlu dihentikan adalah kurang beristirahat atau sering begadang. Jika kurang istirahat, Anda akan lebih mudah mengalami kecemasan dan mood Anda pun akan lebih tidak stabil.

    4. Membuat rutinitas sendiri
    Selama menjalani karantina di rumah, Anda bisa melakukan hobi atau aktivitas yang Anda sukai, misalnya memasak, membaca buku, atau menonton film. Selain meningkatkan produktivitas, kegiatan tersebut juga dapat menghilangkan rasa jenuh.

    5. Lebih bijak memilah informasi
    Batasi waktu Anda untuk menonton, membaca, atau mendengar berita mengenai pandemi, baik dari televisi, media cetak, maupun media sosial untuk mengurangi rasa cemas.

    Meski begitu, jangan menutup diri sepenuhnya dari informasi yang penting. Pilah informasi yang Anda terima secara kritis dan bijak. Dapatkan informasi mengenai pandemi virus Corona hanya dari sumber yang terpercaya.

    6. Menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat
    Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, teman, dan rekan kerja Anda, baik melalui pesan singkat, telepon, atau video call. Anda bisa menceritakan kekhawatiran dan kecemasan yang Anda rasakan. Dengan cara ini, tekanan yang Anda rasakan dapat berkurang sehingga Anda bisa lebih tenang.

    Bila Anda memang memiliki gangguan mental, konsumsilah obat-obatan yang telah diresepkan dokter secara rutin. Bila perlu, periksakan diri Anda ke dokter secara berkala agar dokter dapat memantau perkembangan kondisi Anda.

    Rasa takut dan cemas memang normal dirasakan selama masa pandemi seperti ini. Namun, cobalah untuk selalu berpikir positif dan bersyukur. Jika stres dan ketakutan yang Anda alami terasa sangat berat, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui fitur chat dengan dokter di aplikasi Alodokter.

    Sumber: hellosehat.com

  • Inilah Pilihan Masker untuk Virus Corona

    Akhir-akhir ini, masyarakat kian sibuk mencari masker untuk melindungi diri dari virus Corona. Namun, banyaknya pilihan masker di pasaran bisa membuat Anda bingung. Untuk memilih masker, Anda perlu mengerti fungsi masing-masing masker terlebih dahulu. Simak artikel berikut ini untuk penjelasannya.

    Saat ini, menggunakan masker disarankan bagi orang yang bepergian untuk mengantisipasi penularan virus Corona. Virus ini terdapat pada percikan air liur orang yang sakit ketika ia bersin, batuk, atau bahkan saat berbicara. Penularan terjadi ketika percikan air liur terhirup orang lain yang ada di sekitar.

    Pilihan Masker untuk Virus Corona

    Jenis masker sangat beragam. Beberapa di antaranya hanya berguna untuk menangkal polusi tapi tidak bisa menangkal penularan virus Corona. Hingga saat ini, ada 3 jenis masker untuk virus Corona yang disarankan kepada masyarakat:

    Masker kain
    Sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI, semua orang disarankan untuk memakai masker kain ketika harus bepergian ke luar rumah. Masker kain tetap dapat menghalau sebagian percikan air liur yang keluar saat berbicara, menghela napas, ataupun batuk dan bersin.

    Jadi, jika digunakan dengan benar, masker ini tetap dapat mengurangi penyebaran virus Corona di masyarakat, terutama dari orang yang terinfeksi virus namun tidak memiliki gejala apa pun.

    Meski begitu, selama beraktivitas di tempat yang cukup banyak orang, alangkah baiknya untuk tetap melakukan physical distancing walaupun sudah mengenakan masker kain. Jika Anda sedang sakit dengan gejala batuk, atau bersin yang jelas, lebih baik lakukan isolasi mandiri di rumah.

    Masker bedah
    Masker bedah atau surgical mask merupakan jenis masker sekali pakai yang mudah dijumpai dan sering digunakan tenaga medis saat bertugas. Masker bedah efektif pilihan untuk mencegah penyebaran virus Corona karena memiliki lapisan yang mampu menghalau percikan air liur.

    Kebanyakan masker bedah terdiri dari 3 lapisan yang memiliki fungsi berbeda, yaitu:

    • Lapisan luar, yang antiair
    • Lapisan tengah, yang berfungsi sebagai filter kuman
    • Lapisan dalam, yang berguna untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut

    Jika sedang sakit, Anda lebih disarankan menggunakan masker dengan ketiga fungsi tersebut karena efektif dalam mencegah penyebaran penyakit menular, seperti infeksi virus Corona.

    Meski efektif untuk menghadang virus Corona, karena stoknya yang makin menipis, saat ini masker bedah lebih diutamakan untuk melindungi tenaga medis yang bekerja di pelayanan kesehatan atau orang yang sedang sakit guna mencegah penularan virus ke orang lain.

    Masker N95
    Masker N95 juga efektif untuk mencegah penularan virus Corona. Masker yang cenderung lebih mahal dari masker bedah ini tidak hanya mampu menghalau percikan air liur saja, tapi juga partikel kecil di udara yang mungkin mengandung virus.

    Dibanding masker bedah, masker N95 terasa lebih ketat pada wajah karena telah didesain secara pas untuk menutupi hidung dan mulut orang dewasa. Pada anak-anak, penggunaan masker ini tidak disarankan karena ukuran masker bisa terlalu besar sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang cukup.

    Walaupun daya lindungnya lebih baik, masker N95 tidak disarankan untuk penggunaan sehari-hari. Hal ini disebabkan desainnya yang membuat orang yang memakai bisa sulit bernapas, gerah, dan tidak betah memakainya dalam jangka waktu yang agak lama.

    Masker ini diutamakan untuk digunakan untuk petugas medis yang memang kontak secara langsung dengan penderita COVID-19, misalnya dokter dan perawat yang bekerja di ruang isolasi khusus COVID-19 atau di IGD.

    Cara Penggunaan Masker yang Benar
    Masker bedah dan masker N95 dapat digunakan untuk mencegah paparan virus Corona. Namun, manfaat dari kedua masker ini hanya akan efektif jika Anda menggunakannya dengan benar.

    Berikut adalah panduan menggunakan masker yang benar:

    1. Pastikan Anda telah mencuci tangan dengan benar.
    2. Jika Anda menggunakan masker bedah, pastikan sisi luar adalah yang berwarna hijau dan sisi dalam yang berwarna putih.
    3. Pasang tali masker dengan baik. Jika tali masker perlu diikat, ikat bagian atas terlebih dahulu, kemudian bagian bawahnya.
    4. Pastikan masker menutupi hidung, mulut, dan dagu dengan sempurna. Pastikan pula bagian yang ada logamnya berada di batang hidung.
    5. Lekukkan strip logam mengikuti lekukan hidung hingga tidak ada menyisakan lubang.
    6. Hindari menyentuh bagian tengah masker saat menggunakan dan melepas masker.
    7. Buang masker ke tempat sampah dan cuci tangan Anda hingga bersih setelah menggunakan masker.

     

    Menggunakan masker untuk virus Corona efektif untuk mencegah penularan. Apa pun jenis maskernya, Anda harus mengerti cara pemakaian yang tepat. Selain itu, cuci tangan juga sama pentingnya dengan memakai masker. Pastikan selalu mencuci tangan setiap usai melakukan atau menyentuh sesuatu, terutama di tempat umum.

    Di samping itu semua, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh juga tidak kalah pentingnya. Jika Anda baru saja bepergian ke negara Tiongkok atau negara lainnya yang sudah terjangkit infeksi virus Corona, sebaiknya temui dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama jika Anda mengalami gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

     

    Sumber: alodokter.com

     

  • Teknik Pernapasan Tertentu Bisa Meredakan Gejala Coronavirus?

    Sesak napas adalah salah satu gejala umum dari COVID-19. Beberapa orang yang mengalami gejala ini akhirnya mencoba teknik pernapasan tertentu untuk meringankan gejala tersebut, termasuk J.K. Rowling, penulis buku Harry Potter.

    Apakah teknik pernapasan yang disebut oleh penulis kondang ini ampuh untuk tangani coronavirus (COVID-19)?

    Adakah teknik pernapasan tertentu untuk ringankan gejala COVID-19?

    Baru-baru ini, J.K. Rowling menyebut bahwa ada teknik pernapasan yang membantu dirinya mengatasi gejala sesak napas yang mirip dengan coronavirus (COVID-19).

    Dalam twitnya, terdapat video dokter dari rumah sakit Inggris ini, digambarkan bagaimana mengontrol batuk. Mulai dari menarik napas dalam-dalam hingga menutupi mulut dan batuk agar terkontrol.

    Lantas, apakah teknik pernapasan yang disebut J.K. Rowling ini dapat membantu meringankan gejala coronavirus?

    Teknik pernapasan yang diperagakan oleh dr. Sarfaraz Munshi dari Queen’s Hospital di Inggris tersebut memang dapat membantu meringankan sesak napas yang sering dialami pasien coronavirus.

    Akan tetapi, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa metode ini dapat digunakan oleh pasien yang terinfeksi virus yang menyerang sistem pernapasan ini.

    Mengontrol batuk yang disebut oleh J.K. Rowling ini ternyata cukup membantu bagi penderita cystic fibrosis. Cystic fibrosis adalah kelainan bawaan yang menyebabkan kerusakan parah pada paru-paru, sistem pencernaan, dan organ lain di dalam tubuh bayi.

    Begini, sel paru manusia memproduksi lendir yang lengket sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh. Apabila paru-paru terinfeksi virus, terutama SARS-CoV-2 atau influenza, produksi lendir akan meningkat. Lendir dari paru ini bertujuan untuk ‘menjebak’ patogen yang menyerang.

    Umumnya, lendir ini akan dikeluarkan dari paru layaknya rambut kecil yang bergerak di saluran udara. Maka itu, ketika seseorang batuk, lendir dapat dikeluarkan sebagai dahak atau ditelan.

    Paru bisa menghasilkan lendir yang cukup banyak sehingga sulit untuk bernapas. Hal ini dikarenakan lendir menghalangi saluran udara kecil yang mencegah tubuh mendapatkan oksigen dari paru-paru.

    Pada penyakit seperti cystic fibrosis, batuk yang terkontrol memang dapat membantu menghilangkan lendir dan memudahkan Anda bernapas.

    Namun, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa teknik pernapasan ini bisa digunakan untuk meringankan gejala coronavirus.

    Bolehkah metode ini tetap dicoba?

    Sebenarnya, mencoba teknik pernapasan yang direkomendasikan oleh dokter dari Inggris tersebut untuk meringankan gejala coronavirus bukan menjadi masalah. Namun, ada risiko yang cukup mengkhawatirkan karena metode itu dapat secara tidak sengaja menyebarkan virus.

    Pada saat Anda batuk, tubuh akan memproduksi tetesan lendir dari paru yang dapat menyebar atau percikan dari mulut. Akibatnya, percikan air yang cukup banyak dan berisi virus dapat menginfeksi orang lain.

    Sebagai contoh, ketika seseorang batuk, secara tidak langsung percikan dari mulut yang menempel di tangan bisa berpindah ke benda atau permukaan yang disentuh orang lain.

    Sesak napas Anda mungkin membaik, tetapi ketika dilakukan di dekat orang lain, risiko penyebarannya akan cukup besar.

    Pada saat seorang pasien positif COVID-19 dirawat di rumah sakit, mereka akan ditempatkan di ruangan khusus yang udaranya tidak tercemar. Pasien juga diwajibkan memakai masker untuk menyerap percikan air saat batuk, sedangkan petugas medis memakai alat pelindung diri (APD).

    Begini teknik pernapasan untuk meringankan sesak napas

    Sebenarnya, teknik pernapasan yang disebut-sebut dapat meringankan gejala coronavirus tersebut lebih cocok digunakan oleh orang yang sering mengalami sesak napas akibat infeksi paru.

    Penderita cystic fibrosis, bronkitis kronis, dan asma kronis mungkin sudah sering melakukan metode ini ketika mereka kesulitan bernapas.

    Apabila Anda mengalami kondisi yang sama dan ingin menggunakan teknik ini, sebaiknya tidak dilakukan di dekat orang lain dan lebih baik menggunakan masker.

    Selain itu, jangan lupa untuk melakukan berbagai cara mencegah penularan COVID-19, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak.

    Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko penyebaran karena percikan air dari tenggorokan dapat bertahan di permukaan.

    Mengontrol batuk

    Salah satu teknik pernapasan yang dapat meringankan sesak napas seperti gejala coronavirus adalah dengan mengontrol batuk.

    Dilansir dari Baltimore Washington Medical Center, sering batuk dapat menghambat saluran udara dan membuat Anda kesulitan bernapas.

    Apabila Anda mencoba metode mengontrol batuk, paru akan kembali longgar dan membawa lendir melalui saluran udara tanpa menghambat apa pun. Metode ini juga dipercaya dapat menghemat oksigen, terlebih saat Anda batuk. Berikut langkah-langkahnya.

    1. Duduk di kursi dengan kaki menempel di lantai dan condongkan tubuh ke depan
    2. Lipat lengan di atas perut dan tarik napas perlahan melalui hidung
    3. Condongkan tubuh sedikit ke depan dan buang napas sambil menekan lengan ke perut
    4. Buka sedikit mulut dan batuk dua sampai tiga kali
    5. Usahakan untuk membuat batuk tidak terlalu panjang
    6. Tarik napas dengan lembut melalui hidung
    7. Istirahat

    Mengatur pernapasan

    Selain mencoba mengontrol batuk ketika merasa sesak napas, ada teknik pernapasan lainnya yang mungkin dapat meringankan gejala yang mirip coronavirus, yaitu mengatur nafas

    Fokus utama dari mengatur napas adalah bernapas dengan lembut dengan usaha yang sedikit.

    1. Duduk dengan posisi yang nyaman
    2. Meletakkan tangan di tulang rusuk atau atas perut
    3. Cobalah rasakan pergerakan tulang rusuk atau perut naik dan turun saat bernapas
    4. Tarik napas lewat hidung dan keluarkan dari mulut
    5. Usahakan bernapas dengan ritme yang pelan dan nyaman

    Walaupun kedua teknik pernapasan di atas mungkin dapat membantu meringankan sesak napas yang mirip dengan gejala coronavirus, usahakan untuk memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu.

     

    sumber : hellosehat.com

  • Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

    Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 1.400.000 kasus di seluruh dunia dan sekitar 80.000 orang meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh coronavirus SARS-CoV-2 ini menimbulkan gejala yang menyerupai flu. Namun, baru-baru ini terdengar kabar bahwa mata merah dapat menjadi gejala dari coronavirus COVID-19.

    Benarkah demikian? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

    Gejala coronavirus yang ditandai dengan mata merah

    COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia, sehingga ketika seseorang terinfeksi mereka akan menunjukkan gejala menyerupai flu. Mulai dari demam tinggi, batuk kering, hingga sesak napas.

    Pada kasus tertentu, orang yang terinfeksi coronavirus mengalami masalah pada sistem pencernaannya, seperti diare. Bahkan, tidak sedikit pasien positif COVID-19 yang tidak memiliki gejala apa pun tetapi penularan masih dapat terjadi.

    Selain itu, baru-baru ini American Academy of Ophthalmology mengumumkan bahwa mata merah dapat menjadi indikasi dari gejala coronavirus COVID-19. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

    Hal ini dibuktikan melalui penelitian dari JAMA Network. Sekitar 38 pasien COVID-19, dua belas diantaranya mengalami mata merah (konjungtivitis) dan dua pasien lainnya memiliki cairan pada mata dan hidung mereka.

    Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat konjungtiva adalah lapisan jaringan yang cukup tipis dan transparan. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi kelopak mata bagian dan dan menutupi bagian putih mata.

    Pada saat disentuh oleh tangan yang kotor dan mungkin terdapat virus di permukaannya, tidak menutup kemungkinan lapisan tersebut akan terkena iritasi dan memerah.

    Selain itu, salah satu penyebab mengapa konjungtivitis bisa terjadi adalah adanya infeksi virus yang berhubungan dengan flu atau saluran pernapasan atas.

    Artinya, virus dapat menyebar ketika seseorang menggosok mata yang terinfeksi dan menyentuh orang lain, terutama saat pemeriksaan mata.

    Walaupun jumlah kasus pasien menunjukkan gejala coronavirus dengan mata merah tidak banyak, para ahli tetap mengimbau dokter untuk tetap waspada. Mulai dari rutin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri, dan upaya mencegah penularan coronavirus.

    Ganti lensa kontak Anda dengan kacamata biasa

    Selain menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dengan rutin mencuci tangan, ternyata bagi pengguna lensa kontak dianjurkan untuk tidak menggunakannya sementara waktu.

    Anjuran untuk tidak menyentuh wajah adalah aturan yang dibuat para dokter untuk mencegah infeksi COVID-19. Apabila Anda memakai lensa kontak, kemungkinan untuk lebih sering menyentuh atau menggosok mata setiap hari dapat terjadi.

    Hal ini berlaku untuk memasukkan, melepas, dan menyimpan sesuai dengan aturan pemakaian lensa kontak. Akibatnya, mata merah yang menjadi indikasi gejala coronavirus bisa saja terjadi.

    Kebanyakan orang mungkin merasa lebih nyaman dengan penggunaan lensa kontak dibandingkan kacamata. Entah itu karena meningkatkan penampilan atau lensa kacamata yang terlalu berat.

    Padahal, ada beberapa alasan yang membuat pemakaian kacamata jauh lebih baik daripada lensa kontak, terutama saat pandemi COVID-19. Salah satu kelebihan kacamata adalah memberikan perlindungan ekstra agar Anda tidak sering menyentuh mata.

    Hal tersebut bukan berarti kacamata dapat mencegah infeksi penularan sebab belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.

    Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ketika beralih dari lensa kontak ke kacamata biasa sebagai berikut.

    • Berhenti menggunakan lensa kontak jika terasa sakit dan mata memerah.
    • Beralih ke kacamata jika sering berhubungan dengan pasien positif COVID-19.
    • Membersihkan kacamata setiap hari dengan sabun dan air selama 20 detik.
    • Jangan lupa keringkan kacamata dengan kain bebas serat agar lensa tidak tergores.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

    Dampak COVID-19 memang lebih parah pada lansia, terutama bagi mereka yang telah menderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, dan penyakit paru. Akan tetapi, tidak sedikit pula laporan kematian akibat COVID-19 pada pasien berusia 20 atau 30-an. Para ilmuwan menduga penyebab kematian COVID-19 teresbut berkaitan dengan badai sitokin.

    Sitokin merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sitokin seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada kondisi yang salah, keberadaan sitokin justru dapat membahayakan jiwa. Apa itu sitokin dan bagaimana kaitannya dengan COVID-19? Berikut penjelasan selengkapnya.

    Fungsi sitokin sebelum terjadi badai sitokin pada infeksi COVID-19

    Sistem kekebalan tubuh terdiri dari banyak komponen. Ada sel-sel darah putih, antibodi, dan sebagainya. Tiap komponen bekerja sama untuk mengenali patogen (bibit penyakit), membunuhnya, dan membentuk pertahanan tubuh jangka panjang.

    Agar dapat menjalankan fungsinya, tiap komponen pada sistem kekebalan tubuh harus berkomunikasi antara satu sama lain. Di sinilah peran sitokin dibutuhkan. Sitokin adalah protein khusus pembawa pesan antara sel 0pada sistem kekebalan tubuh.

    Sitokin terbagi berdasarkan jenis sel yang memproduksinya atau cara kerjanya dalam tubuh. Ada empat macam sitokin, yakni:

    • Limfokin, diproduksi oleh sel limfosit-T. Fungsinya untuk mengarahkan respons sistem imun menuju daerah infeksi.
    • Monokin, diproduksi oleh sel monosit. Fungsinya untuk mengarahkan sel-sel neutrofil yang akan membunuh patogen.
    • Kemokin, diproduksi oleh sel sistem imun. Fungsinya untuk memicu perpindahan respons imun ke daerah infeksi.
    • Interleukin, diproduksi oleh sel darah putih. Fungsinya untuk mengatur produksi, pertumbuhan, dan pergerakan respons imun dalam reaksi peradangan.

    Ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaksi peradangan.

    Sitokin terkadang juga berikatan dengan sel darah putih lain atau bekerja sama dengan sitokin lain saat terjadi infeksi. Tujuannya tetap sama, yakni mengatur sistem kekebalan tubuh dalam membasmi patogen.

    Saat terjadi peradangan, sel-sel darah putih akan bergerak menuju darah atau jaringan yang terinfeksi untuk melindunginya dari penyakit. Pada kasus COVID-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2.

    Peradangan sebenarnya berguna untuk membunuh patogen, tapi reaksi ini juga dapat menimbulkan demam dan gejala COVID-19 lainnya. Setelah beberapa waktu, barulah peradangan mereda dan sistem imun tubuh dapat melawan virus dengan sendirinya.

    Mengenal badai sitokin pada pasien COVID-19

    Banyak pasien COVID-19 meninggal karena sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi. Virus pun memperbanyak diri dengan cepat, menyebabkan kegagalan beberapa organ sekaligus, dan akhirnya mengakibatkan kematian.

    Namun, beberapa dokter dan ilmuwan menemukan pola tidak biasa pada sejumlah pasien COVID-19. Pasien-pasien ini mengalami gejala ringan, tampak membaik, tapi selang beberapa hari, kondisi mereka menurun drastis hingga kritis atau meninggal.

    Dr. Pavan Bhatraju, dokter ICU di Harborview Medical Center Seattle, AS, menyebut hal ini dalam penelitiannya. Penurunan kondisi pasien umumnya terjadi setelah tujuh hari dan lebih banyak ditemukan pada pasien COVID-19 yang sehat dan masih muda.

    Mereka meyakini bahwa penyebabnya adalah produksi sitokin yang berlebihan. Hal ini dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin. Alih-alih melawan infeksi, kondisi ini justru dapat menyebabkan kerusakan organ dan berakibat fatal.

    Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

    Paru-paru mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Peradangan pun bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru.

    Jaringan paru-paru pun mengalami kerusakan. Kondisi pasien yang tadinya sudah baik berakhir memburuk. Dr. Bhatraju mengatakan, pasien yang awalnya hanya memerlukan sedikit oksigen bisa saja mengalami gagal napas hanya dalam waktu semalam.

    Dampak badai sitokin begitu drastis dan cepat. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas. Di sisi lain, infeksi terus bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan organ.

    Menangani badai sitokin pada pasien COVID-19

    Ada beberapa jenis obat yang dapat meredakan badai sitokin pada pasien COVID-19, salah satunya dikenal sebagai interleukin-6 inhibitors (IL-6 inhibitors). Obat ini bekerja dengan menghambat kerja sitokin yang memicu reaksi peradangan.

    Meski perlu dikaji lebih dalam, laporan dari Prancis dan Tiongkok menunjukkan bahwa IL-6 inhibitors cukup berpotensi meredakan badai sitokin.

    Pada satu kasus, seorang pasien yang sudah hampir menggunakan ventilator dapat bernapas lagi beberapa jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

    Pasien lain yang diberikan obat ini hanya sebentar menggunakan ventilator, padahal ia seharusnya memakai ventilator selama beberapa minggu. Saat ini, tugas para ilmuwan adalah memastikan bahwa IL-6 inhibitors memang efektif mengatasi badai sitokin.

    Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan melakukan upaya mencegah COVID-19. Lindungi diri Anda dengan mencuci tangan dan menjaga daya tahan tubuh.

    Hindari pula interaksi dengan orang lain guna mengurangi risiko penyebaran COVID-19 yang dapat mengakibatkan badai sitokin pada beberapa orang.

     

    Sumber : hellosehat.com

  • Hal-Hal yang Harus Dilakukan Ketika Merasakan Gejala COVID-19

    Virus penyebab COVID-19 hingga kini masih merebak dan kasusnya terus meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pasien COVID-19 sudah mencapai ribuan orang dan telah memakan korban hingga ratusan jiwa.

    Penyebaran yang sangat cepat dan awalnya yang sering tanpa gejala pun membuat banyak masyarakat khawatir. Lantas, bagaimana jika suatu saat seseorang merasakan gejala COVID-19, apa yang harus dilakukan?

    COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyerang pernapasan. Hampir serupa dengan flu, gejala yang ditunjukkan bisa berupa gejala ringan seperti batuk kering, dan sakit tenggorokan.

    Namun infeksi virus COVID-19 juga bisa menimbulkan gejala yang cukup berat seperti pneumonia dan sesak nafas.

    Seiring dengan bertambahnya kasus, ditemukan juga berbagai gejala lainnya yang terjadi pada beberapa orang. Gejala tersebut meliputi hilangnya indera penciuman dan diare.

    Berkurangnya fungsi indera penciuman masih lebih umum terjadi, mengingat virus bisa saja menyebabkan pilek yang membuat hidung tersumbat dan tidak bisa mencium aroma.

    Berbeda dengan gejala diare, orang-orang yang mengalaminya kebanyakan tidak segera mencari pertolongan medis karena merasa bahwa gejala tidak berhubungan dengan masalah pernapasan.

    Hal yang harus dilakukan jika Anda mengalami gejala COVID-19

    Sebenarnya, kebanyakan pasien yang terinfeksi COVID-19 hanya menunjukkan gejala ringan dan dapat melakukan perawatan sendiri di rumah tanpa bantuan medis. Gejala biasanya akan muncul dalam 2 sampai 14 hari setelah terpapar dengan virus.

    Bagi Anda yang ingin melakukan tes untuk mengetahui apakah tubuh telah terinfeksi virus, cobalah hubungi dinas kesehatan atau penyedia layanan medis yang ada di kota Anda. Bisa juga menghubungi hotline Kemenkes RI dengan nomor 021-5210411 atau 081212123119.

    Jika hasilnya negatif, kemungkinannya Anda memang tidak terinfeksi atau Anda masih berada pada tahap awal saat pengumpulan spesimen.

    Meski demikian, Anda tetap harus berhati-hati dan melakukan pencegahan. Hasil tes yang negatif tidak menutup kemungkinan Anda bisa terinfeksi virus di kemudian hari.

    Jika hasilnya positif, Anda harus segera mencari bantuan dan meminta anjuran pada dokter tentang apa saja yang harus dilakukan jika masih bisa melakukan perawatan sendiri.

    Berikut adalah beberapa di antaranya yang harus Anda lakukan ketika mulai merasakan gejala atau sudah terinfeksi COVID-19.

    Berdiam di rumah

    Untuk Anda yang mengalami gejala seperti batuk dan demam tanpa mengalami sesak nafas, Anda disarankan untuk berdiam di rumah dan tidak bepergian kecuali untuk keperluan medis seperti periksa ke dokter.

    Anda bisa melakukan penyembuhan dengan meminum obat-obatan yang akan mengurangi gejalanya.

    Bila Anda terpaksa harus pergi, usahakan untuk tidak naik kendaraan umum, lebih baik gunakan kendaraan pribadi.

    Memisahkan diri dari orang lain ketika sakit

    Lakukan isolasi diri dengan menjauh dari orang-orang di sekitar Anda. Lakukan jarak fisik minimal 1 meter. Tidurlah di kamar yang terpisah dari orang lain.

    Bila ada, gunakan kamar mandi yang berbeda. Hal ini dilakukan agar Anda tidak menularkan penyakit terutama jika Anda telah positif menderita COVID-19.

    Beritahu kepada dokter tentang keadaan Anda

    Bagi Anda yang sedang menjalani perawatan atau memiliki jadwal dengan dokter yang tidak bisa ditunda, beritahukan dahulu melalui telepon bahwa Anda mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan COVID-19 sebelum bertemu.

    Dengan informasi yang Anda berikan, dokter dan petugas kesehatan lainnya dapat melakukan persiapan terlebih dahulu.

    Gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut
    Gunakanlah masker yang bisa menutup area hidung dan mulut dengan baik bila perlu setiap saat. Masker kain sudah cukup membantu untuk menghalangi percikan dari mulut dan hidung untuk terpapar ke luar. Jika kehabisan masker, Anda bisa mengganti dengan menggunakan syal atau selendang.

    Ketika bersin atau batuk, tutupi dengan tisu lalu segera buang ke tempat sampah setelahnya. Jika tidak memiliki tisu, Anda bisa menutup hidung dan mulut menggunakan area siku. Setelah itu, cuci tangan dengan sabun atau gunakan hand sanitizer.

     

    Sumber: hellosehat.com