PENDAHULUAN

Stroke dan penyakit serebrovaskuler adalah penyebab kematian utama kedua setelah jantung. Tercatat lebih dari 4,6 juta meninggal di seluruh dunia, dua dari tiga kematian terjadi di negara sedang berkembang (WHO,2003). Angka kejadian stroke di Indonesia meningkat dengan tajam. Bahkan, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia (Yastroki, 2007).Kasus stroke di RSCM sekitar 1.000 per tahun.Penanganan di RSCM mampu menekan angka kematian akibat stroke dari 40% menjadi 25%, bahkan di Unit Pelayanan Khusus Stroke Soepardjo Roestam yang merupakan unit swadana bisa ditekan menjadi 13% (Siswono, 2003). Unit Stroke RSUP Dr Kariadi yang sejak berdiri pada 7 juni 2000 –19 juli 2001, unit ini telah menangani 658 penderita stroke (Unit Stroke RSUP dr. Kariadi, 2001). Dari sejumlah klien post stroke, 10% klien dapat kembali bekerja tanpa kelemahan, 40% penyandang cacat ringan dan 50% penyandang cacat berat Untuk itu klien post stroke membutuhkan program rehabilitasi. Program rehabilitasi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang terpadu dengan pendekatan medik, psikososial, educationalvocational yang bertujuan mencapai kemampuan fungsional semaksimal mungkin dan mencegah serangan berulang. Dalam pelayanan rehabilitasi ini merupakan pelayanan dengan pendekatan multidisiplin yang terdiri dari dokter ahli syaraf, dokter rehabilitasi medik, perawat, fisioterapis, terapi occupational, pekerja sosial medik, psikolog serta klien dan keluarga turut berperan. Mobilisasi merupakan salah satu bentuk rehabilitasi awal dari kondisi penyakit tertentu, dalam hal ini pada klien yang mengalami serangan stroke sehingga terhindar dari komplikasi.

REHABILIATASI KLIEN STROKE

Stroke dapat terjadi pada umur berapa saja, musim apa saja, kapan saja, semua suku bangsa,baik wanita maupun pria Penyakit yang mendasari terjadinya stroke disebut faktor resiko. Faktor resiko penyakit stroke menurut Mansjoer, dkk (2000), adalah sebagai berikut:

  1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin pria, ras, riwayat keluarga, riwayat TIA atau stroke, penyakit jantung koroner, fibrilasi atrium. 44 Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol . 1 No.1, Maret 2008 :43-46
  2. Yang dapat diubah: hipertensi, diabetes mellitus, merokok, penyalahgunaan alcohol atau obat, kontrasepsi oral, hamatrokit meningkat. Apabila pengendalian faktor resiko dapat dicegah dengan baik, maka biaya upaya tersebut jauh lebih murah dibanding dengan perawatan stroke. Perawatan stroke, termasuk upaya rehabilitasi. Rehabilitasi adalah suatu program yang disusun untuk memberi kemampuan kepada penderita yang mengalami disabilitas fisik dan atau penyakit kronis, agar mereka dapat hidup atau bekerja sepenuhnya sesuai dengan kapasitasnya (Harsono, 1996). Program rehabilitasi menurut Ibrahim (2001) tidak hanya terbatas pada pemulihan kondisi semata, tetapi juga mencakup rehabilitasi yang bersifat psikososial, penuh dengan kasih sayang serta empati yang luas, guna membangkitkan penderita. Rehabilitasi medik meliputi tiga hal, yaitu rehabilitasi medikal, sosial, dan vokasional. Rehabilitasi medik merupakan upaya mengembalikan kemampuan klien secara fisik pada keadaan semula sebelum sakit dalam waktu sesingkat mungkin. Rehabilitasi sosial merupakan upaya bimbingan sosial berupa bantuan sosial guna memperoleh lapangan kerja Rehabilitasi vokasional merupakan upaya pembinaan yang bertujuan agar penderita cacat menjadi tenaga produktif serta dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya.

Prinsip-Prinsip Rehabilitasi.

Prinsip-prinsip rehabilitasi menurut Harsono (1996) adalah:

  1. Rehabilitasi dimulai sedini mungkin, bahkan dapat dikatakan bahwa rehabilitasi segera dimulai sejak dokter melihat
    penderita untuk pertama kalinya.
  2. Tidak ada seorang penderitapun yang boleh berbaring satu hari lebih lama dari waktu yang diperlukan, karena akan mengakibatkan komplikasi.
  3. Rehabilitasi merupakan terapi multidisipliner terhadap seorang penderita dan rehabilitasi merupakan terapi terhadap seorang penderita seutuhnya.
  4. Faktor yang paling penting dalam rehabilitasi adalah kontinuitas perawatan.
  5. Perhatian untuk rehabilitasi lebih dikaitkan dengan sisa kemampuan fungsi neuromuskuler yang masih ada, atau dengan sisa kemampuan yang masih dapat diperbaiki dengan latihan.
  6. Dalam pelaksanaan rehabilitasi termasuk pula upaya pencegahan serangan berulang.
  7. Penderita GPDO lebih merupakan subyek rehabilitasi dan bukannya sekedar obyek. Pihak medis, paramedik, dan pihak lainnya termasuk keluarga berperan untuk memberikan pengertian, petunjuk, bimbingan dan dorongan agar penderita selalu
    mempunyai motivasi yang kuat.
  8. Ungkapan Benjamin Franklin berikut ini perlu direnungkan maknanya: a little neglect may breed mischief.

Tahap Rehabilitasi.

Rehabilitasi stadium akut Sejak awal tim rehabilitasi medik sudah diikutkan, terutama untuk mobilisasi. Programnya dijalankan oleh tim, biasanya latihan aktif dimulai sesudah prosesnya stabil, 24-72 jam sesudah serangan, kecuali perdarahan. Sejak awal Speech terapi diikutsertakan untuk melatih otot-otot menelan yang biasanya terganggu pada stadium akut. Psikolog dan Pekerja Sosial Medik untuk mengevaluasi status psikis dan membantu kesulitan keluarga.

Rehabilitasi stadium subakut Pada stadium ini kesadaran membaik, penderita mulai menunjukan tanda-tanda depresi, fungsi bahasa mulai dapat terperinci. Pada post GPDO pola kelemahan ototnya menimbulkan hemiplegic posture. Kita berusaha mencegahnya dengan cara pengaturan posisi, stimulasi sesuai kondisi klien.

Rehabilitasi stadium kronik Pada saat ini terapi kelompok telah ditekankan, dimana terapi ini biasanya sudah dapat dimulai pada akhir stadium subakut. Keluarga penderita lebih banyak dilibatkan, pekerja medik sosial, dan psikolog harus lebih aktif. Mobilisasi adalah hal yang menyebabkan bergeraknya sesuatu (Ramali, Pamoentjak,1996). Tujuan mobilisasi pada klin stroke menurut Hoeman (1996) adalah:

1) Mempertahankan range of motion.

2) Memperbaiki fungsi pernafasan dan sirkulasi.

3) Menggerakkan seseorang secara dini pada fungsi aktifitas meliputi gerakan di tempat tidur, duduk, berdiri dan berjalan.

4) Mencegah masalah komplikasi.

5) Meningkatkan kesadaran diri dari bagian hemiplegi

6) Meningkatkan kontrol dan keseimbangan duduk dan berdiri.

7) Memaksimalkan aktivitas perawatan diri Program mobilisasi segera dijalankan oleh tim, biasanya aktif dimulai sesudah prosesnya stabil, 24-72 jam sesudah serangan kecuali pada perdarahan. Tindakan mobilisasi pada perdarahan subarachnoid dimulai 2-3 minggu sesudah serangan (Harsono, 1996) Lamanya pasien harus diam di tempat tidurtergantung keadaan tipe CVA dan prakiraan dokter tentang mobilisasi dini. (Long, 1996) Klien dengan stroke harus dimobilisasi dan dilakukan fisioterapi sedini mungkin, bila kondisi klinis neurologis dan hemodinamik stabil. Untuk Rehabilitasi Pasien Pasca Stroke ( Okti Sri Purwanti dan Arina Maliya ) 45 fisioterapi pasif pada klien yang belum boleh, perubahan posisi badan dan ekstremitas setiap dua jam untuk mencegah dekubitus. Latihan gerakan sendi anggota badan secara pasif 4 kali sehari untuk mencegah kontraktur. (Mansjoer, dkk, 2000)

Mobilisasi Dini

a. Pelaksanaan mobilisasi dini posisi tidur.

Berbaring terlentang:
Posisi kepala, leher, dan punggung harus lurus. Letakkan bantal dibawah lengan yang lumpuh secara hati-hati, sehingga bahu terangkat ke atas dengan lengan agak ditinggikan dan memutar ke arah luar, siku dan pergelangan tangan agak ditinggikan. Letakkan pula bantal dibawah paha yang lumpuh dengan posisi agak memutar kea rah dalam, lutut agak ditekuk.

Miring ke sisi yang sehat:
Bahu yang lumpuh harus menghadap ke depan, lengan yang lumpuh memeluk bantal dengan siku di luruskan. Kaki yang lumpuh diletakkan di depan, di bawah paha dan tungkai diganjal bantal, lutut ditekuk.

Miring ke sisi yang lumpuh:
Lengan yang lumpuh menghadap ke depan, pastikan bahwa bahu penderita tidak memutar secara berlebihan. Tungkai agak ditekuk, tungkai yang sehat menyilang di atas tungkai yang lumpuh dengan diganjal bantal.

b. Latihan gerak sendi (range of motion)

Latihan gerak sendi aktif adalah klien menggunakan ototnya untuk melakukan gerakan (Hoeman, 1996) dan intinya tidak ada ketidaknyamanan. Menggambarkan gerakan sistematik, dengan rangkaian urutan selama atau setiap tahap. Menampilkan setiap latihan 3x dan rangkaian latihan 2x sehari (Kozier, 1995).

Latihan gerak sendi pasif adalah perawat menggerakkan anggota gerak dan memerintahkan keikutsertaan klien agar terjadi gerakan penuh (Hoeman, 1996).

(1). Latihan gerak sendi pada anggota gerak atas menurut Hoeman (1996) adalah :

(a). Fleksi/ekstensi
Dukung lengan dengan pergelangan tangan dan siku, angkat lengan lurus melewati kepala klien, istirahatkan lengan terlentang diatas kepala di tempat tidur

(b). Abduksi/adduksi
Dukung lengan di pergelangan dengan telapak tangan dan siku dari tubuhnya klien, geser lengan menjauh menyamping dari badan, biarkan lengan berputar dan berbalik sehingga mencapai sudut 90o dari bahu.

(c). Siku fleksi/ekstensi
Dukung siku dan pergelangan tangan, tekuk lengan klien sehingga lengan menyentuh ke bahu, luruskan lengan ke depan

(d). Pergelangan tangan
Dukung pergelangan tangan dan tangan klien dan jari-jari dengan jari yang lain; tekuk pergelangan tangan ke depan dan menggenggam, tekuk pergelangan tangan ke belakang dan tegakkan jari-jari, gerakkan pergelangan tangan ke lateral.

(e). Jari fleksi/ekstensi
Dukung tangan klien dengan memegang telapaktangan, tekuk semua jari sekali, luruskan semuajari sekali

(2). Latihan gerak sendi pada anggota gerak bawah menurut Hoeman (1996) adalah:

(a). Pinggul fleksi
Dukung dari bawah lutut dan tumit klien, angkat lutut mengarah ke dada, tekuk pinggul sedapat mungkin, biarkan lutut menekuk sedikit atau dengan toleransi klien.

(b). Pinggul fleksi/kekuatan
Dukung dari bawah lutut dan tumit klien, mengangkat kaki klien diluruskan setinggi mungkin, pegang sampai hitungan kelima

(c). Lutut fleksi/ekstensi
Dukung kaki bila perlu tumit dan belakang lutut, tekuk setinggi 90 derajat dan luruskan lutut.

(d). Jari kaki fleksi/ekstensi
Dukung telapak kaki klien, tekuk semua jari menurun dan dorong semua jari ke belakang

(e). Tumit inverse/eversi
Dukung kaki klien di tempat tidur dengan satu tangan dan pegang telapak kaki dengan tangan yang lain, putar telapak kaki keluar, putar telapak kaki ke dalam Latihan duduk Latihan di mulai dengan meninggikan letak kepala secara bertahap untuk kemudian dicapai posisi setengah duduk dan pada akhirnya posisi duduk. Latihan duduk secara aktif sering kali memerlukan alat bantu, misalnya trapeze untuk pegangan penderita(Harsono, 1996). Bangun duduk dilakukan dengan bantuan perawat yang memegang kuat siku sisi yang lumpuh pada tempat tidur, dengan tangan yang lain berjabatan tangan dengan tangan penderita yang sehat. Siku penderita yang sakit harus berada langsung di bawah bahu, bukan di belakang bahu. Latihan ini diulang-ulang sampai penderita merasakan gerakannya. Penyanggaan berat di siku yang menyebar ke atas sendi bahu sisi yang mampu merupakan bagian yang penting dalam 46 Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol . 1 No.1, Maret 2008 :43-46 rehabilitas penderita stroke menuju penyembuhan total (Kandel, dkk, 1995).

KESIMPULAN DAN SARAN

Rehabilitasi pasien pasca stroke secara teoritis perlu sekali untuk dilakukan. Beberapa metode rehabilitasi dapat dilakukan oleh keluarga pasien maupun pasien di Rumah dan di instansi pelayanan kesehatan. Mengingat pentingnya rehabilitasi pada klien post stroke, maka perlu ditingkatkan motivasi klien untuk mencegah komplikasi dengan cara menekankan manfaat latihan, serta menjelaskan bahwa pemulihan terjadi secara berangsur-angsur sehingga perlu ketekunan dalam latihan dan perlunya meningkatkan partisipasi keluarga yang menunggu dalam membantu pelaksanaan mobilisasi dini.

Enam Terapi Dasar Pemulihan Pasca Stroke

Pemulihan Pasca Stroke

Stroke merupakan salah satu penyakit yang memiliki dampak jangka panjang bagi orang yang mengalaminya. Tidak hanya “serangan mendadak” saja yang ditakutkan, namun juga akibat yang muncul setelahnya. Kondisi kelumpuhan pada anggota tubuh tentu tentunya akan sangat mengganggu dan bahkan menghambat aktivitas hidup seseorang. Pemulihan pasca stroke menjadi sangat penting karena dengan langkah rehabilitasi yang tepat, maka begitu banyak manfaat yang akan diperoleh dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.

Pentingnya Rehabilitasi Pasca Stroke
Rehabilitasi pasca stroke merupakan suatu upaya rehabilitasi stroke terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran dan merupakan kumpulan program yang meliputi pelatihan, penggunaan modalitas, alat-alat, dan juga obat-obatan. Makin dini rehabilitasi dimulai, maka dampaknya akan semakin baik.
Manfaat yang bisa diperoleh antara lain mengoptimalkan pemulihan, menghindari kontraktur (kekakuan) sendi, mencegah pengecilan otot, dan mencegah komplikasi akibat tirah baring terlalu lama (seperti luka pada punggung dan area yang mengalami tekanan terus menerus di tempat tidur).
Sangat dianjurkan untuk sesegera mungkin memulai langkah-langkah dalam rangka rehabilitasi pasca stroke. Bahkan pada penderita stroke yang mengalami koma sekalipun, bisa mulai dilakukan latihan gerakan-gerakan secara pasif (dengan digerakkan orang lain) jika kondisi penderita sudah stabil. Ketika penderita sudah sadar, bisa dilanjutkan dengan latihan aktif oleh penderita itu sendiri. Rehabilitasi pasca stroke bisa dimulai ketika penderita masih dalam perawatan dokter di rumah sakit, jadi tidak perlu menunggu sampai penderita pulang kembali ke rumah.
Enam Terapi Dasar Pasca Stroke
1.  Terapi Fisik
Enam bulan pasca stroke merupakan gold period (masa keemasan/terbaik) dalam melakukan rehabilitasi pasca stroke. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menunda-nunda dalam memulai latihan. Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dengan melakukan latihan fisik, antara lain :
  • Membantu meningkatkan penggunaan ekstremitas (anggota gerak) tubuh
  • Memperkuat otot yang lemah pasca stroke
  • Mendapatkan kembali fungsi tubuh yang lumpuh
  • Mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain
  • Meningkatkan daya tahan tubuh
  • Mencegah depresi
Latihan fisik yang akan diterapkan oleh seorang penderita stroke haruslah mengikuti beberapa aturan dasar supaya hasilnya optimal. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan latihan fisik sebagai berikut :
  • Menitikberatkan pada latihan kekuatan, koordinasi, keseimbangan, dan kestabilan
  • Memulai latihan dengan pemanasan terlebih dahulu supaya otot dan sendi tidak kaku
  • Tidak memaksakan kemampuan diri
  • Memakai alat bantu dan secara perlahan berlatih untuk melepas alat bantu tersebut
Enam Terapi Dasar Pemulihan Pasca Stroke
Latihan fisik secara bertahap bisa dimulai ketika penderita pasca stroke masih terbaring di tempat tidur namun kondisinya sudah dinyatakan stabil oleh dokter. Diawali dengan gerakan berbaring miring dengan dibantu orang lain (keluarga, perawat, ahli fisioterapi) dalam posisi lurus kemudian menekuk. Jika
sudah memungkinkan, latih penderita untuk duduk secara mandiri, tentunya dengan dibantu terlebih dahulu kemudian lama kelamaan bisa dilepas. Di sela-sela waktu istirahat, bisa dilakukan latihan pada jari-jari tangan seperti berlatih menekuk jari, menjepit, dan memegang. Semakin sering dilatih maka hasilnya akan makin optimal. Diusahakan untuk memaksimalkan peran aktif dari penderita, sedangkan keluarga/perawat/ahli fisioterapis hanya berperan membantu dan memberikan dukungan saja.
2.  Terapi Okupasi
Terapi okupasi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan rawat diri penderita dan mengupayakan penderita mampu melakukan aktivitas harian secara mandiri.
Tahap ini bisa dimulai jika penderita sudah mampu melakukan beberapa gerakan-gerakan aktif seperti berjalan perlahan (meski masih memakai alat bantu), memegang, dan lain-lain.
Hendaknya keluarga penderita senantiasa menyiapkan berbagai keperluan penderita pada tempat-tempat yang terjangkau oleh penderita. Seperti tempat air minum, peralatan makan, pakaian, dan lain sebagainya. Untuk keperluan mandi, maka hendaknya keluarga mengkondisikan kamar mandi yang ‘ramah’ terhadap penderita pasca stroke, seperti memasang alat yang berfungsi sebagai pegangan, tidak membiarkan lantai dalam keadaan licin, dan menempatkan peralatan mandi pada tempat yang mudah dijangkau. Dengan dukungan dan kasih sayang keluarga, maka penderita stroke akan mampu menjalankan aktivitas hariannya dengan baik
meski dengan segala keterbatasan.
3.  Terapi Wicara
Terapi wicara biasanya melibatkan ahli atau terapis wicara. Namun demikian, dukungan keluarga tetap memegang peranan penting. Misalnya dengan tetap melakukan komunikasi (berbicara) meski penderita belum mampu meresponnya. Ajarkan kepada seluruh penghuni rumah untuk menghargai paenderita dan menginformasikan apapun yang dikerjakan, misalnya meminta izin ketika akan mengganti seprei, memakaikan baju, dan sebagainya.
4.  Terapi Psikologis
Terapi psikologis bisa melibatkan stres karena memikirkan kondisi kesehatannya. Dibutuhkan suasana yang hangat dan kekeluargaan supaya mereka bahagia dan merasa diperhatikan. Hendaknya kita mendekat ketika berbicara pada mereka, dan bukan dengan berteriak atau bersuara keras. Jangan sesekali membentak mereka, karena hal tersebut akan sangat melukai hatinya.
5.  Terapi Hobi
Terapi hobi menjadi salah satu penunjang dalam keberhasilan pemulihan penderita pasca stroke. Dukung dan temani mereka untuk melakukan hobinya, seperti misalnya berkebun, menyulam, atau membuat kue. Dengan demikian, penderita akan terhindar dari stres dan bisa mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat. Selama hobi tersebut tidak membahayakan, maka berikan dukungan dan tentunya bantuan karena ada kalanya kemampuan fisik penderita pasca stroke berkurang atau mengalami penurunan.
6.  Terapi Spiritual
Kebutuhan spiritual seseorang yang mengalami stroke sangat penting untuk kita perhatikan. Ingatkan mereka untuk mengerjakan sholat meski tidak dalam posisi normal (jika tidak mampu berdiri) dan ajak mereka untuk mengikuti pengajian apabila kondisinya memungkinkan. Jika kita hendak mengingatkan atau menyampaikan nasehat, maka hendaknya dengan cara yang sopan dan halus. Jangan sampai penderita berputus asa dengan kondisi kesehatannya. Pompakan semangat dan ingatkan agar selalu bersabar supaya mendapatkan pahala dari Allah. Sampaikan bahwa kondisi sakitnya bisa menghapuskan dosa-dosanya selama ia menerima takdir dengan sabar.
Merawat dengan kesabaran
Dalam merawat orang yang mengalami stroke, kita perlu tahu bahwa kondisi mereka sudah tidak sesehat dan sekuat seperti sebelum sakit. Oleh karena itu, kita perlu belajar dan banyak bertanya pada ahlinya supaya dapat melakukan perawatan dengan benar. Selain perawatan secara fisik, kita tidak boleh melupakan perlunya perlakuan dan sikap yang baik pada mereka. Untuk itu, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam merawat mereka.
Demikian penjelasan singkat mengenai pemulihan pasca stroke. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply