Skip to main content

Mungkin tak banyak orang tahu bahwa apel, pir dan buah-buahan impor lainnya di supermarket dilapisi lilin untuk membuatnya tetap segar, licin dan bagus.

Buah yang dilapisi lilin akan terasa kesat dan perlu digosok-gosok di air agar lapisan lilinnya hilang. Bahkan sebagian orang memilih menguliti kulit buah agar lilinnya hilang.

Bagaimana kalau lilin tersebut ikut kemakan? Amankah buah-buahan yang diberi lilin tersebut jika dikonsumsi?

Secara alami sebenarnya buah mengeluarkan lapisan lilin atau wax untuk melapisi permukaan kulitnya. Lilin atau wax pada buah ini bermanfaat untuk melindungi dan menjaga kesegaran dari buah itu sendiri.

Namun lilin alami ini akan hilang pada saat buah dipanen dan dicuci oleh petani. Untuk melindungi buah dan menjaga kesegaran buah, pengusaha biasanya melapisi kembali buah tersebut dengan wax atau lilin buatan.

Namun apakah aman terdapatnya lapisan lilin pada buah ini bagi tubuh..?, Berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada Food and Drug Administration (FDA), menunjukkan bahwa lapisan lilin yang digunakan untuk buah-buahan berasal dari bahan alami atau Non Petroleum-based, sehingga aman dipakai untuk semua jenis makanan.

“Penggunaan lilin sebagai pelapis telah diatur dalam Peraturan Kepala BPOM No. 12 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pelapis dengan beberapa jenis lilin yang layak sebagi pelapis,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito.

Penny menjelaskan, sejumlah jenis lilin yang aman digunakan sebagai BTP pelapis. Termasuk di dalamnya ialah malam (Beeswax), lilin kandelila (Candelilla wax), lilin karnauba (Carnauba wax), syelak (Shellac), dan lilin mikrokristalin (Microcrystalline wax).

Meski dibilang aman, setidaknya anda juga harus membersihkan lapisan lilin buatan tersebut sebelum mengonsumsinya. Khususnya lapisan lilin yang kerap sekali terdapat pada buah Apel impor. Dengan begitu, Anda tak perlu khawatir lagi akan buah apel yang dibeli di pasaran.

 

 

Sumber :

  • republika
  • arbamedia
  • detik

218 Comments

Leave a Reply